Indra Charismiadji dari Center of Education Regulation and Development Analysis (Cerdas). Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
Indra Charismiadji dari Center of Education Regulation and Development Analysis (Cerdas). Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan

Pengamat: Guru Jangan Antikritik Soal Pembelajaran Jarak Jauh

Pendidikan Virus Korona Metode Pembelajaran
Ilham Pratama Putra • 14 Mei 2020 15:21
Jakarta: Pengamat pendidikan, Indra Charismiadji menyebut banyak guru yang antikritik tentang pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Terutama antikritik saat diberi masukan soal penerapan teknologi pembelajaran di masa pandemi covid-19.
 
"Banyak guru gagap teknologi (gaptek). Tapi sayang, banyak guru itu yang justru antikritik. Guru jangan antikritik soal PJJ, tujuan kritik bukan untuk menyakiti tapi justru harus jujur sebagai bahan refleksi untuk kemajuan dunia pendidikan," ungkap Indra dalam Webinar Heartline Network, Kamis 14 Mei 2020.
 
Menurutnya, guru harus banyak menyerap masukan agar menjadi refleksi bagi perbaikan dunia pendidikan. Guru harus berubah guna membangun Sumber Daya Manusia unggul di masa depan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Membangun Hiroshima setelah ada bom ya dari gurunya," tambah Indra.
 
Baca juga:Praktisi Pendidikan: Banyak Guru Gaptek
 
Tak hanya dari segi teknologi, guru juga diminta mengubah cara mengajarnya. Pembelajaran hari ini tak lagi sekadar tentang apa kontennya. "Namun bagaimana cara membuat konten. Caranya seperti agar anak mau senang dalam belajar," kata dia.
 
Begitupula dengan yang disampaikan pemerhati anak dan pendidikan, Seto Mulyadi atau akrab disapa kak Seto. Pendidikan hari ini harus memiliki lima esensi.
 
"Yang harus dibentuk kepada anak adalah etika, estetika, kemampuan iptek, nasionalisme dan kesehatan. Untuk ini bukan lagi guru saja, tapi ada peran orang tua, dan kebebasan anak untuk belajar," terang Seto.
 
Baca juga:Kegagalan Saat Belajar di Rumah Berpotensi Ganggu Jiwa Anak
 
Kak Seto juga meminta guru dan orang tua untuk tidak lagi mengekang anak dalam belajar. Belajar adalah hak dan harus tanpa ada paksaan.
 
"Kita tuh sering di sekolah atau di rumah minta anak nurut ini itu, duduk dan dengar. Padahal anak itu harus mandiri, punya mimpinya sendiri. Untuk itu yang harusnya dilakukan guru dan orang tua adalah mendorong mereka kalau perlu belajar bersama," pungkas Seto.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif