Salat. Foto: DKM Nursiah Daud Paloh/Syarifuddin
Salat. Foto: DKM Nursiah Daud Paloh/Syarifuddin

Teks Bacaan Bilal Iduladha 2026 Lengkap, Urutan Sebelum Salat hingga Khotbah

Renatha Swasty • 21 Mei 2026 10:25
Ringkasnya gini..
  • Dalam pelaksanaan salat id, eorang bilal atau muazin memegang posisi yang sangat penting untuk memandu pelaksanaannya.
  • Kehadiran petugas ini bertugas memberikan komando agar seluruh rangkaian ibadah dari awal hingga akhir dapat berjalan tertib.
  • Melalui lantunan seruan-seruan khusus yang dikumandangkan, jemaah dapat mengikuti setiap tahapan salat dan khotbah dengan lebih teratur.
Jakarta: Menjelang perayaan Hari Raya Iduladha, umat Islam di berbagai penjuru tanah air mulai disibukkan dengan berbagai persiapan ibadah sunah yang mengiringinya. Salah satu hal penting yang mendukung kelancaran ibadah tahunan ini adalah kesiapan para petugas di masjid.
 
Dalam pelaksanaan salat id, eorang bilal atau muazin memegang posisi yang sangat penting untuk memandu pelaksanaannya. Kehadiran petugas ini bertugas memberikan komando agar seluruh rangkaian ibadah dari awal hingga akhir dapat berjalan tertib.
 
Melalui lantunan seruan-seruan khusus yang dikumandangkan, jemaah dapat mengikuti setiap tahapan salat dan khotbah dengan lebih teratur. Hal ini tentunya sangat membantu dalam menjaga kekhusyukan dan kebersamaan umat yang hadir di rumah ibadah.

Berbeda dengan salat fardu atau salat Jumat, panduan untuk tata cara penyeruan pada salat id memiliki karakteristik dan lafal tersendiri. Oleh karena itu, penting bagi seorang bilal untuk memahami urutan serta teks bacaan yang sesuai dengan tuntunan syariat. Yuk simak panduan urutan bacaan bilal Iduladha, mulai dari persiapan salat hingga selesainya khotbah berikut ini:

Dasar Hukum Seruan Bilal pada Salat Id

Berbeda dengan salat fardhu lima waktu maupun salat Jumat, bilal atau muazin pada salat Iduladha tidak dianjurkan untuk mengumandangkan lafal azan dan iqamah. Sebagai gantinya, mereka dianjurkan untuk menyeru dengan lantang kalimat kalimat berikut:
 
الصَّلَاةَ جَامِعَةً
 
As-salata(u) jami‘ah
 
Artinya: “(Marilah) salat Iduladha berjemaah”
 
Ketiadaan azan dan iqamah ini berlandaskan pada keterangan hukum di dalam Kitab Al-Muhadzdzab dan syarahnya Al-Majmu’ yang ditulis oleh Imam An-Nawawi:
 
ولا يؤذن لها ولا يقام لما روى عن بن عباس رضي الله عنهما قال " شهدت العيد مع رسول الله صلي الله عليه وسلم ومع أبي بكر وعمر وعثمان رضي الله عنهم فكلهم صلى sebelum الخطبة بغير اذان ولا اقامة " والسنة أن ينادى لها الصلاة جامعة لما روى عن الزهري أنه كان ينادى به
 
Artinya: “Pada salat id tidak terdapat kumandang azan dan iqamah sebagaimana riwayat Ibnu Abbas RA ‘Aku menyaksikan salat id bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, dan Ustman RA. Mereka semua melakukan salat sebelum khotbah tanpa azan dan iqamah.’ (Bilal) Dianjurkan untuk menyeru dengan ‘as-salata(u) jami‘ah’ sebagaimana riwayat Az-Zuhri RA bahwa ia diseru dengan kalimat demikian.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud).

Urutan dan Tata Cara Bacaan Bilal Iduladha

Berikut adalah panduan dan urutan bacaan bilal dimulai dari sebelum salat hingga berakhirnya khotbah Iduladha dikutip dari laman NU Online:

1. Seruan Sebelum Salat Id Dimulai

Sebelum imam memulai salat, bilal mengumandangkan seruan ajakan sebanyak 3 kali:
 
الصَّلَاةَ جَامِعَة ×٣ صَلُّوْا سُنَّةً لِعِيدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ جَامِعَةً رَحِمَكُمُ اللهُ
 
Ash-salata jami‘ah (3x) Shallu sunnatan li ‘Idil-Adha rak‘ataini jami‘ah, rahimakumullah
 
Artinya: “Salat berjemaah (3x) Laksanakanlah salat sunah Iduladha dua rakaat berjemaah, semoga Allah merahmati kalian."

2. Pelaksanaan Salat Id

Imam menuju mihrab, lalu memimpin jalannya salat Iduladha sebanyak dua rakaat secara berjemaah.

3. Persiapan Khotbah

Setelah salat selesai, bilal berdiri mengambil tongkat dengan tangan kanan dan mikrofon di tangan kiri.

4. Seruan Bilal Menghadap jemaah

Sambil menghadap ke arah jemaah, bilal memulai seruan berikut untuk meminta jemaah mendengarkan khotbah:
 
يَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ. اعْلَمُوا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمُ الْعِيدِ الْأَكْبَرِ فَتَقَرَّبُوا إِلَى اللهِ فِي النَّحْرِ
 
Ya ma‘asyiral-muslimin wa zumratal-mu’minin rahimakumullah. I‘lamu anna yaumakum hadza yaumul-‘idi al-akbar, fataqarrabu ilallahi fin-nahr
 
Artinya: “Wahai kaum Muslimin dan golongan orang-orang beriman, semoga Allah merahmati kalian. Ketahuilah bahwa hari ini adalah Hari Raya yang paling agung, maka dekatkanlah diri kalian kepada Allah dengan berkurban.”
 
Kemudian dilanjutkan dengan mengingatkan jemaah agar tidak berbicara saat khatib berkhotbah:
 
وَإِذَا صَعِدَ الْخَطِيبُ عَلَى الْمِنْبَرِ, أَنْصِتُوا وَاسْمَعُوْا وَأَطِيعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ, أَنْصِتُوا وَاسْمَعُوْا وَأَطِيعُوْا رَحِمَكُم اللهُ, أَنْصِتُوا وَاسْمَعُوْا وَأَطِيعُوْا رَحِمَكُم الله
 
Wa idza sha‘idal-khatibu ‘alal-minbar, ansitu wasma‘u wa ati‘u rahimakumullah 3x
 
Artinya: “Dan apabila khatib telah naik ke mimbar, diamlah, dengarkanlah, dan taatilah, semoga Allah merahmati kalian (diulang 3x).”
 

5. Penyerahan Tongkat dan Doa untuk Khatib

Saat khatib melangkah naik menuju mimbar, Bilal memberikan tongkat kepadanya sembari melantunkan selawat serta doa berikut:
 
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد . اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
 
Allahumma salli ‘ala Sayyidina Muhammad. Allahumma salli ‘ala Sayyidina Muḥammad, Allahumma salli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad
 
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad. Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan kepada keluarga beliau.”
 
اللَّهُمَّ قَوَ الْإِسْلَامَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى مُعَائِدِ الدِّينِ يَارَبِّ اخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ وَيَا خَيْرَ النَّاصِرِينَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
 
Allahumma qawwil-islama wal-muslimin wal-muslimat wal-mu’minin wal-mu’minat, wanshurhum ‘ala mu‘adid-din. Yā Rabb ikhtim lana minka bil-khair, wa ya khairan-nasirin, bi-rahmatika ya Arhamar-Rahimin
 
Artinya: “Ya Allah, kuatkanlah Islam dan kaum Muslimin, baik laki-laki maupun perempuan, dan orang-orang beriman laki-laki maupun perempuan. Tolonglah mereka atas musuh-musuh agama. Ya Tuhan kami, akhirilah hidup kami dengan kebaikan dari sisi-Mu. Wahai sebaik-baik penolong, dengan rahmat-Mu wahai Tuhan Yang Maha Penyayang dari segala penyayang.”

6. Salam Khatib dan Respon Bilal

Khatib yang sudah berada di atas mimbar kemudian mengucapkan salam kepada seluruh jemaah. Setelah itu, Bilal menyambutnya dengan mengumandangkan takbir:
 
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
 
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil-hamd
 
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.”

7. Khotbah Pertama dan Jeda Dua Khotbah

Khatib memulai penyampaian khotbah pertama. Ketika khatib selesai dan mengambil posisi duduk di antara dua khotbah, bilal kembali mengumandangkan selawat:
 
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
 
Allahumma salli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad
 
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan kepada keluarga beliau.”
 
Setelah selawat selesai dibacakan, khatib kembali berdiri untuk melanjutkan khotbah yang kedua hingga selesai.

Keutamaan dan Makna Hari Raya Iduladha 

Mengutip laman ui.ac.id, perayaan Iduladha bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah momen yang sarat akan makna mendalam. Berikut adalah beberapa keutamaan utama dari perayaan Iduladha bagi umat Islam:

1. Meneladani Keikhlasan Nabi Ibrahim AS

Iduladha menjadi pengingat abadi bagi umat muslim untuk mengenang dan mencontoh ketulusan Nabi Ibrahim AS serta putranya, Nabi Ismail AS. Kepatuhan tanpa keraguan saat menjalankan perintah Allah SWT menjadi simbol puncak keimanan yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Menjalankan Sunah Rasulullah SAW

Penyembelihan hewan kurban (udhiyyah) merupakan wujud ketaatan yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan berkurban, umat muslim berkesempatan untuk mengikuti jejak Rasulullah yang dahulu bahkan menyembelih sendiri hewan kurbannya sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT.

3. Sarana Berbagi dan Mengurangi Kesenjangan Sosial

Ibadah kurban mendorong umat Islam untuk melakukan tindakan nyata dalam meningkatkan kesejahteraan bersama. Momen ini menjadi waktu terbaik untuk berbagi kegembiraan melalui penyaluran daging kurban kepada masyarakat yang kurang mampu, sehingga dapat menekan angka kesenjangan sosial.

4. Waktu Tepat Memaknai Hakikat Nilai-Nilai Keislaman

Sebagai hari raya yang disebut Idul Kubra (hari raya besar) di tradisi Arab, Iduladha bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji di Makkah. Di sinilah umat Islam di seluruh dunia, baik yang berangkat haji maupun yang merayakannya di tanah air, diajak untuk bersama-sama mempertahankan prinsip ketaatan tertinggi kepada Allah SWT.
 
Sobat Medcom, itulah informasi mengenai teks bacaan bilal Iduladha 2026 beserta keutamaan dan maknanya. Semoga informasi ini dapat bermanfaat, ya! (Talitha Islamey)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA