Kendaraan macet. DOK: MI/Pius Erlangga
Kendaraan macet. DOK: MI/Pius Erlangga

Pengendara Motor Wajib Tahu! Ini Risiko Bahaya Berkendara Tanpa Masker

Renatha Swasty • 15 Oktober 2026 14:12
Ringkasnya gini..
  • Pakar FK Unesa mengingatkan ancaman bahaya polusi udara yang mengintai pengendara motor tanpa masker.
  • Paparan emisi kendaraan bersifat akumulatif dan berisiko memicu bronkitis kronis, PPOK, hingga stroke.
  • Pengendara dianjurkan konsisten menggunakan masker berstandar medis atau N95 rapat-rapat saat berkendara.
Jakarta: Masih banyak pengendara motor atau pengguna kendaraan jenis terbuka tidak memakai masker. Setiap detik berkendara tanpa perlindungan adalah 'tabungan' penyakit yang berpotensi menggerogoti organ pernapasan.

Dokter sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dwi Ariawan Tauhid Rachman, menyebut pengendara motor atau pengguna kendaraan jenis terbuka paling rentan karena bernapas langsung di ruang terbuka tanpa sistem penyaring udara.

Untuk memahami seberapa besar risikonya, ia mengajak membayangkan perjalanan saat menembus kemacetan kota. Dalam satu kali perjalanan saja, ada puluhan bahkan ratusan kendaraan yang dilewati. 

Setiap mobil, truk, dan sepeda motor yang beriringan, mendahului, maupun berpapasan dari arah berlawanan menyemburkan emisi gas dan memercikkan polusi ke udara.

Masing-masing kendaraan tersebut menyumbang racun mikroskopis, mulai dari debu halus, gas karbon monoksida (CO), hingga senyawa kimia berbahaya lainnya. Tanpa disadari, sepanjang jalan hidung dan paru-paru dipaksa menyerap tumpukan polusi yang mengepung dari segala arah.

Dwi mengatakan bahaya terbesar dari paparan ribuan kendaraan ini memang tidak selalu langsung merobohkan tubuh saat itu juga, melainkan bersifat akumulatif, dan berisiko dalam jangka panjang.
 
"Dampaknya tidak langsung terasa hari ini. Namun dalam jangka panjang, kebiasaan berkendara tanpa perlindungan di tengah polusi kota berpotensi menggerogoti fungsi paru-paru secara perlahan, memicu bronkitis kronis, PPOK, hingga meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke," papar Dwi dikutip dari laman unesa.ac.id, Kamis, 15 Oktober 2026.

Mengingat tingginya intensitas paparan tersebut, penggunaan masker seharusnya menjadi refleks dasar setiap kali berkendara. Secara medis, masker berstandar tinggi seperti N95, KN95, atau KF94 memang merupakan pilihan paling ideal karena mampu menahan hingga 95 persen partikel halus.

Namun, langkah perlindungan tidak boleh menjadi beban. Apabila masker N95 terasa terlalu pengap, berat saat memakai helm, atau relatif mahal untuk penggunaan harian, masyarakat tidak perlu berkecil hati.

Memakai masker medis/bedah biasa secara tepat dan konsisten tetap jauh lebih baik dan aman ketimbanga membiarkan hidung dan mulut terbuka tanpa perlindungan sama sekali, atau hanya mengandalkan kain/buff biasa yang longgar.

Nah, agar perlindungan optimal, pengendara disarankan memastikan masker terpasang rapat menutup hidung hingga dagu, menggantinya jika sudah basah/kotor, serta mengimbangi perlindungan dari dalam dengan konsumsi air putih dan makanan kaya antioksidan.

Dwi menuturkan kebiasaan menggunakan perlindungan diri dari polusi perlu harus menjadi bagian dari kebiasaan berkendara sehari-hari. Langkah sederhana tersebut penting untuk mengurangi paparan polutan dan menjaga kesehatan, khususnya bagi masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi di jalanan.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan