Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. Foto: Istimewa
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. Foto: Istimewa

Orang Tua Lelah Mengasuh, Pendidikan Karakter Anak Diserahkan pada Algoritma Medsos

Ilham Pratama Putra • 03 Juni 2026 23:50
Ringkasnya gini..
  • Lestari Moerdijat menilai banyak orang tua yang kelelahan tanpa sadar menyerahkan pembentukan karakter anak kepada algoritma media sosial
  • Regulasi digital tidak akan efektif tanpa kehadiran orang tua
  • Pendidikan karakter tidak bisa dibebankan kepada sekolah atau teknologi semata, melainkan membutuhkan kolaborasi keluarga
Jakarta: Di tengah kuatnya arus informasi di internet, pembentukan karakter anak menjadi taruhan. Orang tua yang sudah lelah menjalani kerja cenderung menyerahkan anaknya ke ruang digital. 
 
"Banyak orang tua menyerahkan pembentukan karakter anak kepada rekomendasi media sosial," kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat dalam keterangannya, Rabu 5 Juni 2026. 
 
Menurut dia, hal ini bukan sekadar masalah teknologi. Tapi terdapat krisis pengashuan anak. 

Dalam hal ini pertumbuhan generasi muda berada dalam pelukan algoritma internet. Bukan lagi pada orang tua. 
 
"Kondisi saat ini dihadapkan pada krisis pendampingan dan keteladanan bagi anak yang berpotensi menggerus pemahaman nilai-nilai kebangsaan mereka," jelasnya.  
 
Baca juga: Lestari Moerdijat: Generasi Muda Perlu Kenali Diri Sebelum Menjadi Memimpin

Rerie pun menyebut, orang tua yang kewalahan, tanpa sadar, mendelegasikan peran edukasi karakter kepada platform digital. Akibatnya, nilai-nilai seperti gotong royong dan kesantunan yang seharusnya ditanamkan lewat teladan sehari-hari kini tergeser oleh konten rekomendasi.
 
Data Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat 1.923 konten hoaks berhasil diidentifikasi di ruang digital Indonesia sepanjang tahun lalu. Angka itu hanyalah yang terdeteksi, dan yang tak terdeteksi kemungkinan lebih banyak dan lebih sulit diukur.
 
"Orang tua harus mampu menjadi mentor dan teladan bagi anak-anaknya dalam berinteraksi di dunia digital," Guru Besar Psikologi UI Rose Mini Agoes Salim.
 
Rose mengingatkan bahwa kehadiran regulasi seperti PP Tunas sejatinya dimaksudkan agar anak terlindung dari banjir informasi digital hingga usia 16 tahun. Namun regulasi saja tidak cukup jika orang tua sendiri absen sebagai pembimbing.
 
Ketua Yayasan Cahaya Guru Henny Supolo menambahkan bahwa kemampuan berpikir kritis adalah fondasi yang tidak bisa ditanamkan oleh algoritma. "Kita harus bisa mengajak anak-anak kita untuk belajar menilai situasi berdasarkan nilai-nilai yang dipahaminya," ujarnya. 
 
Aktivis pendidikan Indra Charismiadji mengkritik sistem pendidikan nasional yang selama ini memaknai pendidikan sebatas sekolah. Padahal Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan berpusat pada tiga pilar, yaitu keluarga, pergerakan pemuda, dan perguruan. 
 
Baca juga: 99% Kecurangan SNBT 2026 Ada di Prodi Kedokteran, Rerie Desak Evaluasi Menyeluruh

"Saat keluarga diabaikan, dua pilar lainnya pun goyah. Ancaman di ruang digital terhadap anak tidak bisa diatasi dengan gerakan individual harus dengan gerakan kultural," sebut Indra. 
 
Sementara itu, Pakar pendidikan karakter Doni Koesoema menegaskan bahwa solusinya bukan kebijakan tunggal, melainkan pergeseran budaya dengan cara membangun ekosistem digital yang ramah anak secara bersama-sama. Wartawan senior Usman Kansong pun mengusulkan pembagian peran yang lebih tegas dari sekolah fokus pada akademis, sementara pendidikan karakter dikembalikan kepada komunitas dan keluarga.
 
"Benang merahnya satu, selama orang tua belum hadir sebagai teladan di ruang digital, tidak ada regulasi atau kurikulum yang akan cukup untuk menjaga anak dari arus informasi yang membentuk mereka diam-diam," pungkas Usman. 
Baca juga: Lestari Moerdijat: Literasi AI bagi Penyandang Disabilitas Wujud Amanat Konstitusi

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA