Lestari Moerdijat beri sambutan pada pelatihan AI program EQUAL (Empower Equality AI Initiative) yang digelar Alunjiva Indonesia dan Microsoft di kantor Komite Nasional Disabilitas, Cawang Kencana, Jakarta Timur. ist
Lestari Moerdijat beri sambutan pada pelatihan AI program EQUAL (Empower Equality AI Initiative) yang digelar Alunjiva Indonesia dan Microsoft di kantor Komite Nasional Disabilitas, Cawang Kencana, Jakarta Timur. ist

Lestari Moerdijat: Literasi AI bagi Penyandang Disabilitas Wujud Amanat Konstitusi

Adri Prima • 25 Mei 2026 18:33
Ringkasnya gini..
  • Lestari Moerdijat menekankan bahwa literasi digital dan literasi AI bagi penyandang disabilitas merupakan bentuk pelaksanaan amanat konstitusi.
  • Dalam konteks AI, penyandang disabilitas tidak cukup hanya menjadi peserta pelatihan tetapi juga harus mampu menjadi perancang dan penguji teknologi.
  • Menurut Rerie, AI harus dirancang dengan kemudahan aksesibilitas sejak awal. Aksesibilitas harus menjadi prinsip dasar desain teknologi.
Jakarta: Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat menekankan bahwa literasi digital dan literasi Artificial IntelIegence (AI) bagi penyandang disabilitas bukan sekadar program tambahan dan kegiatan sosial biasa, tetapi bagian dari pelaksanaan amanat konstitusi. 
 
"Pembukaan UUD 1945 memberi mandat yang sangat jelas yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang berarti bagi seluruh warga negara, termasuk penyandang disabilitas," kata Lestari Moerdijat dalam sambutan pada pelatihan AI program EQUAL (Empower Equality AI Initiative) yang digelar Alunjiva Indonesia dan Microsoft di kantor Komite Nasional Disabilitas, Cawang Kencana, Jakarta Timur, Senin (25/5). 
 
Lestari mengungkapkan, di masa lalu, diskriminasi tampak dalam bangunan tanpa ramp. Hari ini diskriminasi dapat muncul dalam aplikasi yang tidak dapat diakses setiap orang. 

Rerie, sapaan akrab Lestari menilai, AI yang tidak inklusif bukan hanya kurang lengkap, tetapi  berpotensi menjadi ancaman terhadap hak dasar warga negara.
 
Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu berpendapat bahwa transformasi digital harus berjalan selaras dengan transformasi sosial agar tidak menciptakan ketimpangan baru. Dalam konteks ini, menurutnya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila menjadi penting untuk mengingatkan bahwa teknologi juga harus menghormati martabat manusia.
 
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu berpendapat, isu disabilitas terlalu lama ditempatkan dalam bingkai belas kasihan. 
 
"Paradigma itu harus ditinggalkan. Penyandang disabilitas bukan objek kebaikan, tetapi adalah subjek hak," ujar Rerie. 
 
Dalam konteks AI, penyandang disabilitas tidak cukup hanya menjadi peserta pelatihan tetapi juga harus mampu menjadi perancang teknologi dan penguji aksesibilitas.
 
Menurut Rerie, AI harus dirancang dengan kemudahan aksesibilitas sejak awal. Aksesibilitas harus menjadi prinsip dasar desain teknologi.
 
"Jangan biarkan siapa pun mendefinisikan masa depan tanpa kehadiran Anda. Jangan biarkan teknologi dibangun tanpa suara Anda. Karena masa depan Indonesia harus dibangun bersama seluruh warga bangsa," pungkas Rerie, di hadapan para penyandang disablitas peserta pelatihan AI program EQUAL.
 
Lestari Moerdijat: Literasi AI bagi Penyandang Disabilitas Wujud Amanat Konstitusi
Lestari Moerdijat dalam sambutan pada pelatihan AI program EQUAL (Empower Equality AI Initiative) yang digelar Alunjiva Indonesia dan Microsoft.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>