Adanya variasi dalam praktik ibadah ini kerap menimbulkan tanya, terutama bagi mereka yang baru saja aktif mengikuti salat tarawih berjamaah di masjid. Agar pelaksanaan ibadah Sobat Medcom semakin mantap dan bebas dari rasa ragu, mari kita ulas penjelasannya secara ringkas dan mudah dimengerti.
Waktu Pelaksanaan Menurut Tradisi di Indonesia
Di banyak masjid di Indonesia, doa qunut witir mulai dibaca secara rutin pada malam ke-15 Ramadan hingga akhir bulan suci. Secara teknis, doa qunut ini dibaca pada rakaat terakhir salat witir.Waktu pelaksanaannya adalah saat iktidal, yakni posisi berdiri tegak setelah bangkit dari rukuk dan sebelum beranjak menuju sujud. Amalan ini menjadi momen spesial bagi umat Islam untuk memohon perlindungan, ampunan, serta limpahan kebaikan dari Allah SWT.
Praktik ini berpijak pada amalan para sahabat Nabi Muhammad SAW serta ijtihad para ulama di dalam mazhab Syafi’i, mazhab yang mayoritas dianut oleh masyarakat Asia Tenggara. Namun, cakrawala fikih Islam sangatlah luas; dalam mazhab Hanafi misalnya, doa qunut witir dipandang sebagai amalan yang bisa dilakukan setiap malam sepanjang tahun, bukan hanya saat Ramadan.
Di sisi lain, mazhab Maliki memiliki sudut pandang tersendiri mengenai penempatan qunut dalam witir. Keberagaman ini menunjukkan bahwa perbedaan praktik tersebut adalah hal yang lumrah dan memperkaya khazanah hukum Islam.
Apakah Salat Witir Tetap Sah Jika Tidak Membaca Qunut?
Mayoritas ulama berpendapat bahwa doa qunut dalam witir berstatus sunnah, bukan merupakan rukun yang menentukan batal atau tidaknya salat. Oleh karena itu, perbedaan dalam praktik ini tidak perlu menjadi sumber pertikaian. Sikap saling menghargai justru menjadi kunci utama dalam menjaga persaudaraan sesama Muslim (ukhuwah).
Keutamaan Doa Qunut
Terdapat berbagai keutamaan besar di balik pembacaan doa qunut witir. Pertama, ia berfungsi sebagai sarana permohonan hidayah dan perlindungan agar kita senantiasa terbimbing dalam kebaikan.
Kedua, doa ini melatih jiwa untuk tetap rendah hati dan menyadari ketergantungan mutlak hamba kepada Allah SWT. Ketiga, pelaksanaan qunut di penghujung Ramadan memiliki nilai strategis karena bertepatan dengan momen Lailatul Qadar yang penuh kemuliaan.
Terakhir, tradisi ini juga membawa dampak sosial yang positif, yakni memperkuat ukhuwah melalui ibadah berjamaah serta melatih kedisiplinan spiritual umat Islam hingga akhir bulan suci.
Mencapai hari ke-15 atau ke-16 Ramadan bukan sekadar hitungan angka. Tanggal 4 Maret 2026 ini menandai titik balik spiritual kita. Jika pada awal Ramadan kita fokus pada adaptasi fisik, maka di pertengahan bulan ini yang ditandai dengan dimulainya doa qunut, fokus kita beralih pada pembersihan jiwa dan permohonan ampunan.
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News