Prof. Widagdo tak cuma berperan dalam membangun fondasi pendidikan desain interior di Indonesia. Dia juga terlibat dalam perancangan interior Kompleks Gedung MPR/DPR RI di Senayan, Jakarta.
Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, mengatakan kepergian Prof. Widagdo tidak hanya menjadi kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi ITB dan dunia pendidikan.
“Pikiran, tenaga, ilmu, serta keteladanan yang telah beliau berikan akan senantiasa menjadi bagian yang berharga dalam perjalanan institusi ini,” ujar Tatacipta saat sambutan pelepasan jenazah dikutip dari laman itb.ac.id, Senin, 28 September 2026.
Prosesi pelepasan jenazah digelar di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Minggu, 27 September 2026. Prosesi tersebut menjadi penghormatan terakhir atas jasa, darmabakti, dan pengabdian almarhum kepada ITB, masyarakat, bangsa, dan negara.
Rektor ITB Tatacipta Dirgantara saat memberikan sambutan dalam prosesi pelepasan jenazah. DOK ITB
Profil Prof. Widagdo
Widagdo lahir di Solo pada 1 Mei 1934. Dia merupakan Profesor Emeritus Desain Interior ITB, pakar estetika dan kebudayaan, serta praktisi desainer.Widagdo menempuh pendidikan desain interior di Staatliche Akademie der Bildenden Künste Stuttgart, Jerman dan meraih gelar Dipl.Inn.Arch. (Diplom Innenarchitektur) pada 1964. Pendidikan tersebut membawa pengaruh pemikiran modernisme dan tradisi desain Eropa, termasuk Bauhaus, yang kemudian turut mewarnai pengembangan pendidikan desain di ITB.
Dia kemudian menempuh pendidikan di Jurusan Seni Rupa, FTSP ITB dan lulus pada 1969. Sejak bergabung dengan ITB pada 1965, Prof. Widagdo berperan membangun fondasi pendidikan desain interior di Indonesia.
Di FSRD ITB, dia turut merintis kurikulum dan memantapkan Program Studi Desain Interior, serta mengabdikan diri sebagai akademisi, praktisi, dan pemikir desain. Prof. Widagdo mengajar Desain Interior, Pendidikan Desain, hingga Sejarah Sosial Desain.
Pengabdiannya dalam pendidikan terus berlanjut setelah memasuki masa purnabakti. Prof. Widagdo masih berkontribusi sebagai dosen luar biasa pada program pascasarjana dengan membimbing mahasiswa magister dan doktor, menguji tesis dan disertasi, serta mengawal perkembangan pemikiran dan penelitian seni dan desain di Indonesia.
Di luar dunia akademik, Prof. Widagdo meninggalkan rekam jejak dalam praktik desain di Indonesia. Salah satu karya monumentalnya adalah keterlibatannya dalam perancangan interior Kompleks Gedung MPR/DPR RI di Senayan, Jakarta. Karya tersebut memadukan pendekatan modernisme dengan penggunaan material dan karakter lokal Indonesia.
Prof. Widagdo juga terlibat dalam representasi Indonesia pada pameran internasional. Bersama para senior Seni Rupa ITB, dia berkontribusi sebagai pakar desain dalam pengembangan Paviliun Indonesia, antara lain pada Expo Osaka 1970 dan Expo Sevilla 1992, dengan menghadirkan representasi teknologi tradisional dan kebudayaan Indonesia.
Perhatiannya terhadap hubungan antara desain, estetika, kebudayaan, dan modernitas dituangkan dalam buku Desain & Kebudayaan. Pada 2008, dia menyampaikan orasi ilmiah Guru Besar Emeritus bertajuk “Membangun Bangsa Menuju Masyarakat Madani: Sebuah Refleksi Setengah Milenium Sejarah Indonesia”. Dalam pemikirannya, kebudayaan ditempatkan sebagai salah satu unsur penting dalam kemajuan suatu bangsa.
Prof. Widagdo juga pernah mengabdi sebagai Ketua Dewan Desain Nasional, Ketua Majelis Kehormatan HDII, dan anggota Dewan Kerajinan Nasional. Pada tahun 2005, dia menerima penghargaan Medali Ganesha Bakti Cendekia Utama ITB.
Atas nama Keluarga Besar ITB, Rektor menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga almarhum.
“Selamat jalan, Prof. Widagdo, Dipl.Inn.Arch. Terima kasih atas pengabdian, keteladanan, dan warisan nilai yang Bapak berikan untuk ITB dan untuk kami semua. Semoga Allah SWT menempatkan Bapak di tempat terbaik di sisi-Nya,” ujar Tatacipta.