NEWS
Tren Furnitur Bergeser, Gaya Minimalis Kini Dipadukan Unsur Klasik
Rizkie Fauzian
Rabu 23 September 2026 / 21:41
- Tren furnitur berkembang dengan perpaduan gaya minimalis, klasik, dan kontemporer.
- Kebutuhan konsumen berubah, termasuk meningkatnya permintaan material furnitur yang pet friendly dan child friendly.
- Industri furnitur menghadapi kenaikan biaya material dengan mengoptimalkan pembelian bahan baku dalam jumlah besar.
Jakarta: Tren furnitur terus berkembang mengikuti perubahan kebutuhan penghuni rumah. Perkembangan tersebut mendorong desain interior untuk memadukan berbagai gaya, mengeksplorasi material, hingga membuka peluang kolaborasi dengan pelaku kreatif dari bidang lain.
Direktur Vinoti Living Finia Halimi mengatakan gaya minimalis dan modern minimalis masih menjadi pilihan dalam desain furnitur. Namun, kedua gaya tersebut kini mulai dipadukan dengan unsur klasik dan kontemporer sehingga menghasilkan pilihan desain yang lebih beragam.
“Tren furnitur saat ini tetap ada di minimalis, modern minimalis, tapi sekarang juga dicampur dengan klasik dan kontemporer,” kata Finia kepada Medcom.id dalam acara A DIALOGUE IN FORM di Jakarta, Rabu, 23 September 2026.
Menurut Finia, perkembangan tren tersebut menjadi pertimbangan bagi pelaku industri untuk mencari pendekatan desain baru. Salah satunya melalui kolaborasi dengan desainer yang telah dilakukan Vinoti Living dalam beberapa tahun terakhir.
Kini, peluang kolaborasi juga mulai dibuka dengan pelaku kreatif dari luar bidang interior. Menurut Finia, perkembangan industri kreatif membuat berbagai bidang semakin terbuka untuk bekerja sama dan menerjemahkan karakter masing-masing ke dalam produk desain.
“Industri kreatif ini jadi besar banget sekarang dan semua saling berkolaborasi, itu yang kita sekarang coba terjun juga. Jadi kita sangat open dengan teman-teman di luar industri interior,” ujar Finia.
Di sisi lain, penggunaan material lokal dan keterampilan perajin masih menjadi bagian dari perkembangan industri furnitur dalam negeri. Finia mengatakan komponen lokal serta desain yang dibuat oleh desainer Indonesia tetap dipertahankan dalam pengembangan produk furnitur.
Dari sisi permintaan, sofa menjadi salah satu jenis furnitur dengan tingkat penyerapan pasar tertinggi. Distribusi produk juga telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia, dengan pembeli terbesar berasal dari Pulau Jawa, khususnya Jakarta dan sekitarnya.
Sementara itu, kenaikan harga material turut menjadi tantangan bagi pelaku industri furnitur. Finia mengatakan perubahan biaya bahan baku tetap dapat memengaruhi harga produk. Namun, efisiensi pengadaan material dalam jumlah besar dapat membantu menjaga harga.
“Dengan kuantiti yang lebih tinggi pasti kita dapat material harganya lebih baik, jadi harga tetap baik,” tutup Finia. (Syarifah Komalasari)
(KIE)
Direktur Vinoti Living Finia Halimi mengatakan gaya minimalis dan modern minimalis masih menjadi pilihan dalam desain furnitur. Namun, kedua gaya tersebut kini mulai dipadukan dengan unsur klasik dan kontemporer sehingga menghasilkan pilihan desain yang lebih beragam.
“Tren furnitur saat ini tetap ada di minimalis, modern minimalis, tapi sekarang juga dicampur dengan klasik dan kontemporer,” kata Finia kepada Medcom.id dalam acara A DIALOGUE IN FORM di Jakarta, Rabu, 23 September 2026.
Menurut Finia, perkembangan tren tersebut menjadi pertimbangan bagi pelaku industri untuk mencari pendekatan desain baru. Salah satunya melalui kolaborasi dengan desainer yang telah dilakukan Vinoti Living dalam beberapa tahun terakhir.
Kini, peluang kolaborasi juga mulai dibuka dengan pelaku kreatif dari luar bidang interior. Menurut Finia, perkembangan industri kreatif membuat berbagai bidang semakin terbuka untuk bekerja sama dan menerjemahkan karakter masing-masing ke dalam produk desain.
“Industri kreatif ini jadi besar banget sekarang dan semua saling berkolaborasi, itu yang kita sekarang coba terjun juga. Jadi kita sangat open dengan teman-teman di luar industri interior,” ujar Finia.
Material Furnitur Ikuti Kebutuhan Konsumen
Perubahan kebutuhan konsumen juga terlihat dari pemilihan material furnitur. Finia mengatakan permintaan terhadap material fabric yang pet friendly dan child friendly mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir.Di sisi lain, penggunaan material lokal dan keterampilan perajin masih menjadi bagian dari perkembangan industri furnitur dalam negeri. Finia mengatakan komponen lokal serta desain yang dibuat oleh desainer Indonesia tetap dipertahankan dalam pengembangan produk furnitur.
Dari sisi permintaan, sofa menjadi salah satu jenis furnitur dengan tingkat penyerapan pasar tertinggi. Distribusi produk juga telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia, dengan pembeli terbesar berasal dari Pulau Jawa, khususnya Jakarta dan sekitarnya.
Sementara itu, kenaikan harga material turut menjadi tantangan bagi pelaku industri furnitur. Finia mengatakan perubahan biaya bahan baku tetap dapat memengaruhi harga produk. Namun, efisiensi pengadaan material dalam jumlah besar dapat membantu menjaga harga.
“Dengan kuantiti yang lebih tinggi pasti kita dapat material harganya lebih baik, jadi harga tetap baik,” tutup Finia. (Syarifah Komalasari)
(KIE)