Direktur SMA Kementerian Pendidikan Dasar dan Menegah, Yuli Haryanto. DOK YouTube Medcom.id
Direktur SMA Kementerian Pendidikan Dasar dan Menegah, Yuli Haryanto. DOK YouTube Medcom.id

Duh! Angka Partisipasi Kuliah Indonesia Baru 32,89 Persen, Kalah dari Malaysia

Bramcov Stivens Situmeang • 26 September 2026 13:00
Ringkasnya gini..
  • APK perguruan tinggi Indonesia pada 2025 baru 32,89 persen, masih di bawah rata-rata dunia sekitar 40 persen.
  • Angka Indonesia juga di bawah Malaysia 43 persen, Thailand 49,29 persen, dan Singapura 91,9 persen.
  • Ekonomi, minim informasi beasiswa, kepercayaan diri, hingga pilihan jurusan menjadi tantangan melanjutkan kuliah.
Jakarta: Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 baru mencapai 32,89 persen. Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata dunia yang sekitar 40 persen, bahkan tertinggal dari Malaysia yang sudah mencapai 43 persen.

Padahal, pendidikan tinggi menjadi salah satu bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045. Terlebih, Indonesia akan menghadapi bonus demografi ketika jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan penduduk usia nonproduktif.

Direktur SMA Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Yuli Haryanto, mengatakan Indonesia Emas 2045 tidak dapat terwujud begitu saja. Dia menuturkan generasi muda perlu dipersiapkan sejak sekarang melalui pendidikan.

“Saya kira juga tidak lahir begitu saja ini harus dipersiapkan dari sekarang melalui pendidikan yang memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk tumbuh, belajar, menemukan potensi, dan tentunya berani untuk mempunyai cita-cita. Dan disinilah kita mempunyai masalah atau tantangan yang besar Bapak dan Ibu,” jelas Yuli dalam acara Stadium General bertajuk “Motivasi Beasiswa untuk Talenta Bangsa” di YouTube Medcom.id, Sabtu, 26 September 2026.

Partisipasi Perguruan Tinggi Indonesia Masih Rendah

Ilustrasi Kuliah_ Medcom
Ilustrasi Kuliah. DOK Medcom

Sayangnya, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi masih menjadi tantangan bagi Indonesia. Data BPS 2025 yang dipaparkan Yuli menunjukkan APK perguruan tinggi Indonesia sebesar 32,89 persen masih berada di bawah rata-rata dunia sekitar 40 persen.

Jika dibandingkan dengan negara tetangga, Indonesia juga masih tertinggal. Malaysia diketahui meraih angka 43 persen, Thailand 49,29 persen, sedangkan Singapura mencapai 91,9 persen.

"Apalagi kemarin PISA 2025 juga sudah rilis ya, bahkan disebutkan di situ baru sekitar 30 persen murid Indonesia yang menunjukkan grow mindsetnya. Sementara negara-negara yang lainnya yang terdapat dalam OECD sudah mencapai sekitar 69 persen,” beber Yuli.
   

Kurang dari 50 Persen Lulusan SMA Belum Kuliah

Kondisi itu juga terlihat dari jumlah lulusan sekolah menengah yang melanjutkan pendidikan. Berdasarkan publikasi Pusat Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah 2026, angka kelanjutan kasar lulusan SMA dan sederajat ke pendidikan tinggi pada tahun ajaran 2024-2025 tercatat sekitar 49,03 persen.

Dengan angka tersebut, belum semua lulusan pendidikan menengah dapat atau memilih untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Yuli menilai di balik angka tersebut terdapat berbagai persoalan yang dihadapi peserta didik.

“Artinya kurang dari 50 persen Bapak-Ibu anak-anak kita tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Belum semua anak yang lulus dari pendidikan menengah dapat atau memilih untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi, dan di balik angka itu tentu banyak cerita, banyak anak-anak yang sebenarnya mampu, tetapi mungkin terkendala ekonomi,” ujar dia.

Persoalannya juga tidak hanya berhenti pada kemampuan finansial. Ada peserta didik yang ingin berkuliah tetapi tidak mengetahui informasi mengenai beasiswa, sementara sebagian lainnya memiliki prestasi tetapi kurang percaya diri untuk mendaftar.

“Banyak anak-anak yang sebenarnya mampu tetapi mungkin terkendala ekonomi. Ada juga anak yang ingin kuliah tetapi tidak mengetahui adanya informasi-informasi beasiswa, ada yang memiliki prestasi tapi juga kurang percaya diri untuk mendaftar,” ungkap Yuli.

Di sisi lain, membuka kesempatan masuk perguruan tinggi saja belum cukup. Peserta didik juga perlu memiliki pemahaman yang baik mengenai program studi yang akan dipilih agar pendidikan yang ditempuh sesuai dengan minat, bakat, kemampuan, dan rencana masa depan.

Yuli mengungkapkan berdasarkan sejumlah survei yang dipaparkannya, setidaknya terdapat 75 persen anak yang merasa salah memilih jurusan ketika sudah berada di perguruan tinggi. Kondisi ini menjadi tantangan lain yang perlu mendapat perhatian sejak peserta didik masih berada di bangku sekolah.

“Ada pula yang belum memahami pilihan program studi sehingga bingung untuk menentukan masa depannya. Bahkan ketika sudah memilih atau berhasil masuk ke perguruan tinggi pun, kita menghadapi tantangan apakah jurusannya sudah benar-benar sesuai dengan minat, bakat, kemampuan, dan rencana masa depan,” kata Yuli.

Untuk mengatasi persoalan itu, Direktorat SMA telah mengembangkan modul pengembangan karier bagi peserta didik. Sekolah, guru bimbingan konseling (BK), dan kepala sekolah didorong untuk membantu siswa mengenali bakat dan minat sebelum menentukan pendidikan yang akan ditempuh.

Yuli juga mengingatkan peserta didik tidak memilih jurusan hanya karena mengikuti teman atau karena program studi tersebut sedang populer. Siswa perlu mempertimbangkan hal yang disukai, kemampuan yang ingin dikembangkan, cita-cita, hingga manfaat ilmu yang nantinya diperoleh.

Memperluas akses pendidikan tinggi tentunya juga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Salah satu jalan yang dinilai dapat membuka kesempatan bagi anak-anak Indonesia untuk melanjutkan pendidikan adalah melalui program beasiswa.

Beasiswa Jadi Jembatan Melanjutkan Pendidikan

Menurut Yuli, beasiswa tidak semata-mata menjadi bantuan untuk membiayai pendidikan. Beasiswa juga memberikan kesempatan bagi penerimanya untuk belajar lebih tinggi, memperluas wawasan, bertemu lingkungan baru, menemukan kemampuan diri, hingga memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Dan salah satu jembatan yang dapat membuka jalan itu adalah beasiswa. Nah, namun saya ingin juga anak-anak, adik-adik, teman-teman kita semua memahami bahwa beasiswa bukan sekedar bantuan pendidikan,” kata dia.

Besarnya manfaat beasiswa membuat calon pendaftar perlu mempersiapkan diri secara matang. Karena itu, Yuli meminta peserta didik tidak hanya terpaku pada besaran bantuan yang ditawarkan, tetapi juga memahami program beasiswa secara menyeluruh.

Membuka lebih banyak kesempatan beasiswa tentunya juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah pusat, pemerintah daerah dapat mengambil peran dengan menghadirkan program yang membantu peserta didik mempersiapkan diri menuju perguruan tinggi.

Yuli mengapresiasi sejumlah pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota yang telah membuka program beasiswa bagi anak-anak Indonesia. Salah satu upaya tersebut dilakukan Pemerintah Provinsi Banten melalui Super Camp “Banten Merebut Garuda”.

Dalam program itu, sebanyak 200 anak mendapatkan pembinaan selama enam bulan. Peserta didampingi oleh para pembimbing yang telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi dalam maupun luar negeri dan memperoleh beasiswa, dengan satu pembimbing mendampingi lima anak.

Kehadiran berbagai program itu menjadi salah satu langkah untuk membuka jalan menuju pendidikan tinggi. Namun, kesempatan yang tersedia tidak akan banyak berarti apabila informasi mengenai perguruan tinggi maupun beasiswa tidak sampai kepada peserta didik.

Di sinilah sekolah memiliki peran penting sebagai salah satu pintu informasi bagi siswa. Direktorat SMA terus berkomitmen untuk mendorong sekolah, guru BK, dan wali kelas untuk lebih aktif mengenalkan berbagai pilihan pendidikan lanjutan sejak peserta didik masih berada di bangku SMA.

Dia berharap keterbatasan informasi tidak lagi membuat peserta didik mengurungkan keinginan untuk melanjutkan pendidikan. “Jangan sampai ada anak Indonesia yang bersedih bermimpi hanya karena tidak mendapatkan informasi,” harap Yuli.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan