Menurut Brian, perkembangan AI kini sangat pesat dengan munculnya agentic AI, super intelligence, hingga quantum computing. Hal itu berpotensi membuat negara yang tidak menguasai fondasi sains semakin tertinggal.
“Agentic AI bertemu dengan super AI, super intelligence, bertemu dengan kuantum komputasi ini, kita akan semakin keteteran,” ujar Brian dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Badung, Bali dikutip Senin, 5 Oktober 2026.
Dia menilai satu-satunya cara agar Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna teknologi adalah menguasai hard science dan fundamental science. “Kita menguasai hard science, kita menguasai fundamental science. Kalau enggak, kita akan menjadi budak-budak super intelligence baru,” tegas dia.
Brian menilai penguasaan teknologi itu harus didorong melalui penguatan kemampuan dasar di bidang matematika, fisika, dan kimia. Karena itu, dia mendorong pendidikan tinggi dan pendidikan calon guru ikut membangun ketertarikan siswa terhadap bidang-bidang tersebut.
Baca Juga :
Universitas Al-Azhar Kairo Bakal Buka 4 Fakultas Baru, Artificial Intelligence hingga Kedokteran
Belajar. Foto: Shutterstock
“Matematika, fisika, kimia, itu bagaimana anak-anak suka? Itu tergantung dari guru-guru kita,” kata dia.
Brian mengatakan Indonesia perlu belajar dari negara seperti Jepang, Korea, China, dan Taiwan. Negara-negara tersebut telah terbukti mampu membangun budaya belajar hard science untuk mendukung perkembangan industri dan teknologi.
Di samping itu, pendekatan pendidikan juga perlu terus diperbarui agar siswa tidak sekadar menghafal. Tetapi tertarik menguasai ilmu yang menjadi fondasi teknologi.
Dalam hal ini, kata dia, kampus pendidikan memiliki peran penting. Sebab, guru menjadi salah satu garda terdepan dalam menyiapkan talenta Indonesia menghadapi persaingan teknologi.
“Kita punya banyak anak-anak yang nantinya bekerja di frontline kita, di garda terdepan kita untuk pertarungan sains dan teknologi. Kalau tidak menguasai hard science, kalau tidak menguasai fundamental science, Indonesia berisiko hanya menjadi pengguna teknologi tanpa kemampuan menguasai fondasinya,” tegas dia.