Kejadian ini memicu diskusi panas mengenai sejauh mana nilai-nilai intelektualitas diterapkan dalam tradisi internal organisasi kampus. Fenomena ini bermula dari unggahan akun Instagram @roadtoptn yang membagikan momen saat lagu 'Erika' dinyanyikan dalam sebuah acara kemahasiswaan.
Dalam video dan tangkapan layar yang beredar, terlihat lirik-lirik vulgar terpampang jelas di layar besar menggunakan proyektor, sementara kerumunan mahasiswa tampak bersorak dan menikmati alunan musik tersebut. Hal ini dianggap sangat kontras dengan citra ITB sebagai institusi pendidikan ternama yang seharusnya melahirkan pemikiran kritis terhadap kemanusiaan.
Mirisnya, karya yang mengandung konten objektifikasi seksual ini ternyata bukan sekadar nyanyian internal yang dibawakan spontan. Berdasarkan bukti digital yang ditemukan, lagu ‘Erika’ telah didistribusikan luas dan dapat diakses melalui platform streaming musik populer, seperti Spotify.
Lagu yang dikreditkan kepada unit OSD HMT-ITB ini memiliki durasi sekitar 3 menit 28 detik, lengkap dengan lirik eksplisit. Keberadaan lagu 'Erika' di layanan digital legal seperti Spotify menambah daftar panjang kekecewaan publik.
Banyak pihak menilai masuknya lagu dengan lirik diskriminatif dan mesum ke platform publik menunjukkan adanya pengabaian serius terhadap sensitivitas gender, baik dari sisi pencipta maupun proses kurasi distribusi. Hal ini juga memperkuat dugaan budaya seksisme telah dianggap sebagai hal normal dalam tradisi tertentu di lingkungan kampus hingga dianggap layak untuk dipublikasikan secara komersial.
Lagu Erika Telah Ada Sejak Tahun 1979
Di tengah kecaman yang mengalir deras, terungkap fakta lagu ‘Erika’ bukanlah karya baru yang diciptakan oleh generasi mahasiswa saat ini. Berdasarkan penelusuran sejarah, lagu ini disebut-sebut sudah eksis dan dinyanyikan di lingkungan Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB sejak tahun 1979."Lagu "Goyang Erika" HMT-ITB kok jadi heboh saat ini ya? Itu udah dinyanyikan sejak 1979 kok..." tulis unggahan akun Instagram @arbainrambey dikutip Rabu, 15 April 2026.
Lagu ini merupakan bagian dari karya OSD (Orkes Semi Dangdut), sebuah unit musik di bawah naungan HMT ITB. Pada zamannya, lagu ini dibawakan sebagai bentuk hiburan satir dan menjadi bagian dari tradisi turun-temurun yang diwariskan dari senior ke junior selama puluhan tahun.
Namun, apa yang dahulu dianggap sebagai lelucon internal, kini dipandang sebagai bentuk normalisasi objektifikasi perempuan yang tidak lagi bisa ditoleransi di era modern.
Lirik Lagu Erika
Lagu ‘Erika’ menjadi viral karena secara terang-terangan menggambarkan perempuan sebagai objek seksual dengan penggunaan kata-kata yang tidak pantas. Berikut lirik lengkap Erika:Pengalaman tak terlupa, waktu aku mahasiswa
Kecantol di Surabaya, janda muda nama Erika
Erika buka celana, diam-diam main gila
Sambil bawa botol Fanta, siapa mau boleh coba
Oh... goyang Erika luar biasa
Oh... lebar pinggulnya hampir sedepa
Bila disenggolnya celana pasti terbuka
Walau sudah janda sempitnya masih terasa
Pagi-pagi Erika mandi, lenggak-lenggok di pinggir kali
Kagetku setengah mati, lihat barang kayak serabi
Oh... goyang Erika luar biasa
Oh... lebar pinggulnya hampir sedepa
Bila disenggolnya celana pasti terbuka
Walau sudah janda sempitnya masih terasa
Oh... goyang Erika luar biasa
Oh... lebar pinggulnya hampir sedepa
Bila disenggolnya celana pasti terbuka
Walau sudah janda sempitnya masih terasa
Oh... goyang Erika luar biasa
Oh... lebar pinggulnya hampir sedepa
Bila disenggolnya celana pasti terbuka
Walau sudah janda sempitnya masih terasa
Ha ha ha ha ... ha hi hi hi hi ... hi anunya kegedean
Ha ha ha ha ... ha hi hi hi hi ... hi itunya kesempitan
Ha ha ha ha ... ha hi hi hi hi ... hi anunya kegedean
Ha ha ha ha ... ha hi hi hi hi ... hi itunya kesempitan
Dengan adanya kasus ini, pihak ITB diharapkan dapat mengambil tindakan tegas sesuai dengan Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Lingkungan Perguruan Tinggi. Selain itu, evaluasi total terhadap kegiatan dan tradisi himpunan mahasiswa agar tidak ada lagi ruang bagi narasi yang merendahkan martabat perempuan dengan dalih hiburan harus dilakukan. (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News