“Kerjanya keterserapannya sudah di atas 92 persen,” ujar Tatang dalam Peluncuran Ekosistem DigiSkillBadge di Kampus UI, Depok, Jawa Barat, Senin, 24 Agustus 2026.
Menurut Tatang, lulusan yang belum bekerja tidak selalu berarti tidak terserap. Ada lulusan yang masih berada dalam masa transisi setelah kelulusan, melanjutkan pendidikan, maupun masih mencari pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya.
“Sebagian memang masih proses. Itu kan dilihat dari grace period, Anda yang lulusannya baru misalnya baru tiga bulan, belum dapat,” kata dia.
| Baca juga: Guru Honorer Tidak Lolos Seleksi CPNS 2027, Apakah Masih Bisa Mengajar? |
Selain bekerja, lulusan SMK juga melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan berwirausaha. Tatang mengatakan proporsi terbesar lulusan SMK masih bekerja.
“Proporsinya mungkin terbesar bekerja, kemudian yang kedua melanjutkan, yang ketiga baru berwirausaha,” ujar dia.
Sementara itu, lulusan SMK yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi berada di kisaran 20 persen. Tatang mencontohkan sejumlah siswa SMK yang sebenarnya telah memiliki kesiapan untuk bekerja, tetapi memilih melanjutkan pendidikan tinggi setelah diterima di politeknik maupun perguruan tinggi negeri.
Menurut dia, melanjutkan pendidikan tinggi menjadi salah satu pilihan bagi lulusan SMK yang ingin mengembangkan kompetensilebih jauh. Di sisi lain, pemerintah juga mendorong lulusan SMK memiliki rekam kompetensi yang lebih jelas melalui DigiSkillBadge.
"Portofolio digital (DigiSkillBadge) diharapkan membantu lulusan menunjukkan kemampuan yang dimiliki ketika memilih melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja," ujar Tatang.
| Baca juga: Rekam Jejak Rektor Unsoed Akhmad Sodiq: Akademisi Lulusan Jerman yang Terjerat OTT KPK |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda