Guru Besar Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Joni Hermana. ITS/Humas.
Guru Besar Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Joni Hermana. ITS/Humas.

Tuntutan Rektor Asing Perlu Diantisipasi, Pemerintah Bisa Kelabakan

Pendidikan Pendidikan Tinggi Rektor Asing
Intan Yunelia • 24 Juli 2019 14:06
Jakarta:Guru Besar Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Joni Hermana menilai wacana rektor dan dosen asing ini perlu pertimbangan matang dari sisi anggaran. Sebab selama ini, anggaran Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia saja terbilang masih kecil.
 
Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir berencana mendatangkan rektor dan dosen luar negeri untuk di Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Menurut joni, kehadiran dosen dari luar negeri bukan hal baru bagi PTN-BH, meski masih sebatas kunjungan jangka pendek dan tidak permanen.
 
“Mungkin keinginan Pak Menteri (Menristekdikti) masuk 100 besar dunia. Nah kalau ini memang perlu komitmen dari pemerintah juga dalam memperbaiki semua sektor termasuk dananya,” kata Joni saat dihubungi Medcom.id, Rabu, 24 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebagai perbandingan, Mantan Rektor ITS ini menjabarkan total anggaran untuk PTN BH kurang lebih Rp1 Triliun. Untuk alokasi penelitian yang hanya 10 persen jadi sekitar Rp100 Miliar. Anggaran itu dinilai tak cukup untuk standar rektor dan dosen asing, jika dibandingkan anggaran dari negara tetangga.
 
“Kalau dibandingkan dengan perguruan tinggi tetangga misalnya di Malaysia yang selevel saja anggarannya sudah mencapai Rp1 Triliun sendiri. Padahal kalau di kita itu sudah semuanya penelitian, pengajaran, gaji dan pengembangan,” tutur Joni.
 
Baca:Kehadiran Rektor Asing Tak Sekadar Siap Bayar Gaji
 
Menurut Joni, selama ini perguruan tinggi di Indonesia sebenarnya sudah cukup menerima dengan kondisi anggaran yang terbatas tersebut. Bahkan dengan kondisi seadanya itu, tuntutan untuk mencapai level internasional tetap dapat tercapai.
 
"Jangan serba luar negeri, bangsa kita selama ini sudah cukup nrimo (dengan anggaran minim), sebab nanti mereka akan menuntut banyak untuk mencapai rankingyang diinginkan pemerintah. Jangan-jangan nanti malah pemerintah sendiri yang akan kelabakan karena tidak siap dengan tuntutan mereka (rektor asing)," ungkapnya.
 
Pemerintah akhirnya kembali mewacanakan mengundang akademisi luar negeri untuk menjadi rektor dan dosen di Indonesia. Wacana ini sempat muncul 2016 lalu, dan mendapatkan penolakan dari pihak perguruan tinggi dalam negeri.
 
Baca:Pemerintah Godok Wacana Rekrut Dosen dan Rektor Asing
 
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikam Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir bahkan mengaku wacana ini telah mendapat restu dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam rapat kabinet pekan lalu tepatnya setelah presiden bertemu dengan rapper Rich Brian, wacana untuk mengundang akademisi luar negeri untuk menjadi rektor dan dosen di PTN ini kembali mencuat dengan respons yang lebih serius dari Presiden Joko Widodo.
 
"Saya ditanya, bagaimana wacana tersebut, kalau saya sangat setuju sekali," kata Nasir kepada Medcom.id, di Jakarta, Minggu, 21 Juli 2019.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif