Wakil Rektor Universitas Mercu Buana, Jakarta, Hadri Mulya mengatakan, dunia kerja tidak lagi hanya akan melihat latar belakangan pendidikan dan kemampuan akademis, namun juga soft skills yang dimiliki para lulusan institusi pendidikan. Untuk itu, UMB terus memperkuat kompetensi mahasiswanya melalui program Sharing Session dengan mengundang para pelaku dunia industri.
"Saya setuju dengan Albert Einstein, bahwa pendidikan sesungguhnya tidak belajar tentang fakta (ilmu pengetahuan) saja, sebab fakta apapun bisa tahu (dipelajari), tapi bagaimana membentuk pikiran untuk berpikir itulah yang harus dikembangkan, UMB menjawab dengan konsep itu (sharing session dengan pelaku industri)," kata Hadri kepada Medcom.id, di Kampus UMB, Meruya, Jakarta Barat, Kamis, 14 Maret 2019.
Sehingga dalam kesempatan kali ini, UMB mengandeng kurang lebih 35 praktisi yang berasal dari berbagai macam bidang industri. Mulai dari praktisi di lembaga pemerintahan hingga swasta.
Ke depannya tidak menutup kemungkinan, acara yang baru pertama kali diselanggarakan ini akan terus berlanjut pada semester berikutnya. Tentunya dengan melibatkan lebih beragam lagi praktisi dari bidang industri.
"Kita harapkan ada kebutuhan mahasiswa yang dapat difasilitasi prorgam kerja sama Sharing Session dengan praktisi dan akademisi ini," tuturnya.
Sementara itu, Direktur Pemasaran UMB, Irmulansati mengatakan, bahwa saat ini kurikulum UMB terus disesuaikan dengan kebutuhan industri kerja. Tujuannya agar mahasiswa tidak kaget dengan persaingan sengit saat mencari atau bahkan terjun ke dunia kerja.
Terlebih dalam era industri 4.0, kompetensi untuk akrab dengan teknologi juga harus dikuasai mahasiswa, mengingat hampir semua perusahaan tersambung dengan dunia digital. "Selama ini kan ada kesenjangan, mahasiswa lulusan tidak siap kerja, sehingga kita menyiapkan mereka siap kerja dan menjadi entreprenuer, mau tidak mau kurikulum yang kita buat harus memenuhi kebutuhan industri yang sudah beradaptasi dengan 4.0," tuturnya.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Medcom.id, Abdul Kohar yang turut hadir dalam acara tersebut menambahkan, sudah saatnya pemangku kepentingan di bidang pendidikan berkolaborasi dengan berbagai institusi pemerintah ataupun swasta. Karena perubahan dalam revolusi industri 4.0 begitu cepat, tidak dapat diprediksi secara pasti.
Baca: Metro TV Raih Penghargaan dari Mercu Buana
"Bukan berarti muncul 4.0, maka perguruan tinggi tidak lagi diperlukan. Perguruan tinggi itu juga lembaga pendidikan yang memberikan soft skills, sebagai bekal penting bagi mahasiswa dalam mengantisipasi perubahan yang tidak dapat diprediksi tersebut," ujarnya.
Soft skills dianggap penting untuk sebagian orang untuk beradaptasi dengan kemajuan industri. Meski menyesuaikan diri dengan perubahan industri tidak masalah, namun jika tidak dapat beradaptasi, lulusan perguruan tinggi akan mudah tergilas. "Karena itu pentingnya perguruan tinggi membekali mahasiswanya dengan soft skills, bagaimana orang-orang yang ada di dunia pendidikan tinggi tetap bisa open mind, pikirannya terbuka, mempelajari merumuskan keterbukaan, dan mencari solusi," pungkas Kohar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News