"Sejauh mata memandang, hanya kehampaan dan kekosongan belaka yang tersaji. Tak terlihat lagi kelompok-kelompok mahasiswa berbincang riuh di segala sudut," kata Anindyo melalui keterangan tertulis, dikutip Rabu, 30 Juni 2021.
Namun, ia menekankan, situasi ini tak serta merta membuat aktivitas IKJ 'mati suri'. Sebagai kampus yang sudah berusia 51 tahun, IKJ belajar banyak dari situasi pandemi covid-19. Pagebluk ini disebut justru membuka ruang-ruang baru yang dapat dieksplorasi tanpa batas.
"Penjelajahan tak terbatas di ruang virtual memungkinkan adaptasi yang baik dengan program pemerintah, yaitu Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM)," ujarnya.
Ia menyebut, jauh sebelum program MBKM diluncurkan, IKJ sudah melakukan pembelajaran lintas program studi dan fakultas. IKJ telah mampu menjadi pelopor perkembangan seni dan industri seni di Indonesia serta manca negara dengan menjadi pusat pemikiran, perkembangan dan pertumbuhan seni tradisi tak hanya Betawi, namun mencakup seluruh Nusantara.
"Tepatnya tanggal 26 Juni 2021, IKJ berusia 51 tahun. Sebuah rentang waktu yang tidak sebentar untuk membentuk pengalaman yang mumpuni dalam pengelolaan sebuah lembaga pendidikan kesenian yang menghasilkan ribuan lulusan," ungkapnya.
Baca: Pendaftaran Kampus Mengajar Angkatan 2 Masih Dibuka Hingga 5 Juli
Ditengah gelombang revolusi 5.0, kata dia, eksistensi Fakultas Seni Rupa IKJ teruji dari berbagai arah. Sebagai institusi pendidikan berbasis keterampilan, sudah barang tentu menyelenggarakan sistem pendidikan berbasis digital tanpa tatap muka merupakan tantangan tersendiri.
Ada banyak pertanyaan yang mesti terjawab FSR IKJ. Misalnya, sejauh mana peran pendidik dapat tergantikan oleh teknologi? Lalu bagaimana interaksi, pengalaman berkesenian, nilai-nilai kemanusiaan dan ikatan emosional dapat terbangun diantara pendidik dan peserta didik, sebagai bagian dari proses kreativitas dalam menghasilkan karya-karya yang berkualitas?
Pertnyaan lainnya, benarkah orientasi dan literasi baru dalam bidang pendidikan sudah mampu menyelesaikan permasalahan tersebut?
"Setidaknya itulah penggalan kontemplasi yang perlu kita pikirkan bersama, sebagai 'pekerjaan rumah' dalam menghadapi revolusi peradaban abad ini. Sehingga 'kebertahanan' FSR IKJ menjadi pertaruhan semua pihak, bukan hanya pengelola institusi namun juga pendidik, peserta didik, alumni dan pemangku kepentingan lainnya," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News