Mendikbud, Muhadjir Effendy. Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan.
Mendikbud, Muhadjir Effendy. Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan.

Mendikbud Ingin Aktifkan Kembali 'Pendidikan Keputrian' di Sekolah

Pendidikan Pendidikan Keputrian
Muhammad Syahrul Ramadhan • 21 Agustus 2019 19:55
Jakarta: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy mengatakan, ingin mengaktifkan kembali "pendidikan keputrian" di sekolah-sekolah. Wacana tersebut guna menguatkan kembali pendidikan reproduksi yang selama ini dirasa kurang di sekolah.
 
Wacana ini, kata Muhadjir, berangkat dari fakta masih tingginya angka stunting di Indonesia. Muhadjir mengatakan dirinya mengacu pada pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam peringatan Hari Kemerdekaan di Gedung MPR beberapa waktu lalu.
 
"Presiden menekankan pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). PAUD itu juga terkait kesehatan ibu dan anak. Beliau juga menyinggung tingginya angka stunting bukan karena kekurangan gizi saatgedetapi ketika di dalam kandungan," terangnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk itu,pihaknya telah berdiskusi dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk meninjau kembali atau menguatkan kembali pendidikan reproduksi di sekolah. Selama ini, pendidikan reproduksi dimasukkan sejumlah mata pelajaran, salah satunya Biologi.
 
"Karena itu saya sarankan untuk sekolah mulai menyendirikan atau mengeksklusifkan pendidikan reproduksi atau yang dulu disebut keputrian," kata Muhadjir di Kampus Uhamka, Jakarta Timur, Rabu 21 Agustus 2019.
 
Baca:Penguatan PAUD, Wajib Belajar Kini 13 Tahun
 
Ia juga mengatakan, pendidikan keputrian sebelumnya pernah diterapkan di sekolah, ada pula Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). Fungsinya mempersiapkan calon ibu hingga persalinan dan anak mencapai usia balita.
 
"Jadi pendidikan keputrian, dulu sudah ada itu. Orang-orang dulu lebih arif ya. Jadi dulu ada BKIA, balai kesehatan ibu dan anak. Jadi lebih spesifik. Jadi khusus terfokus tentang ibu dan anak. Jadi memang ibu dan anak itu sangat penting," jelasnya.
 
Nantinya, lanjut mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini, pendidikan keputrian bisa menjadi kegiatan kokurikuler. "Jadi pendidikan keputrian bisa masuk ke kokurikuler, dulu sudah ada itu," terang Muhadjir.
 
Teknisnya, jelas Muhadjir, bisa dilaksanakan pada hari Jumat, ketika siswa laki-laki yang muslim salat Jumat, sementara siswi-siswi mendapatkan pendidikan keputrian. BKKBN, kata Muhadjir, akan membantu mengakomodasi pasokan materi dan sumber daya manusianya.
 
"Di situlah dibahas berbagai macam hal yang membahas keputrian termasuk, reproduksi dan sebagainya. Dan dari BKKBN sudah menyatakan kesediaannya untuk menyediakan materi bahan dan tutornya," ujarnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif