Ilustrasi Gunung Merapi. DOK Medcom
Ilustrasi Gunung Merapi. DOK Medcom

Vulkanolog ITB Ungkap Rahasia Gunung Api Indonesia yang Belum Banyak Diketahui

Renatha Swasty • 27 Oktober 2022 13:13
Jakarta: Wilayah Indonesia secara geografis terletak pada rangkaian ring of fire (cincin api). Hal ini berdampak pada banyaknya jumlah gunung api di Indonesia dan tanpa disadari hidup berdampingan dengan gunung api.
 
Namun, banyak yang belum kita ketahui soal rahasianya. Pakar Vulkanologi ITB dan Kepala Program Studi Teknik Geologi ITB Mirzam Abdurachman mengungkapkan hal-hal yang belum banyak diketahui soal gunung api dalam program Eureka! edisi ke-10.
 
Mirzam menjelaskan gunung api adalah sebuah objek yang mengeluarkan magma ke permukaan. Tidak sedikit orang beranggapan objek alam ini hanya dijumpai di bumi.
Padahal, gunung api juga terdapat di planet Venus dan Mars dengan berbagai keragamannya. Gunung api di bumi secara umum berbentuk kerucut dengan keindahannya.
Lain halnya dengan gunung api di Venus. Venus memiliki 1.600 gunung api dan menjadi planet dengan jumlah gunung api terbanyak. Namun, gunung api di Venus terbentuk tekanan yang sangat tinggi, yaitu 90 kali tekanan di Bumi, dengan atmosfer sangat tebal 60 KM dengan komposisi CO2 yang 97 persen dari atmosfer total membuat berbicara dan panas sehingga kemudian berbentuk pancake dome.

Kapan gunung api lahir di Bumi?

Mirzam menjelaskan sekitar 4,5 miliar tahun lalu terdapat sebuah objek yang diduga meteor menumbuk dan mengambil sebagian massa di bumi hingga menjadi cikal bakal terjadinya bulan. Lalu, bumi menjadi kehilangan sebagian massanya terjadi peristiwa tektonik yang menyebabkan lahirnya gunung api di bumi.
 
Indonesia memiliki 127 gunung api yang berasal dari pertemuan tiga lempeng besar, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Gunung api di Indonesia juga berasal dari tiga tempat yang menjadi cikal bakal munculnya gunung api di permukaan, yakni Pematang Tengah Samudra, Palung, dan Hotspot.
 
Batas pemekaran dua buah lempeng yang saling menjauh (divergen) terdapat di Karangsambung, Jawa Tengah yang merupakan lantai samudera yang terangkat dengan kedalaman >1.500 dpl berdasarkan jenis lava yang ditemukan. Batas konvergen yang berkaitan dengan subduksi (palung) menjadi penyebab dominan terbentuknya hampir gunung api di Indonesia (Jawa, Sumatra, Bali, Timor-Timur, Halmahera, Maluku). Gunung api intraplate/tengah lempeng (hotspot) dapat dijumpai di Krakatau, Muria, dan Kangean.

Kenapa gunung api meletus?

Terdapat dua faktor gunung api dapat meletus yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yakni terganggunya proses dapur magma gunung api. Proses di dapur magma terbagi menjadi tiga, yakni di bawah, dalam, dan atas dapur magma.
 
Ketika di bawah dapur magma produksi magma yang lebih dan ditambah lagi dengan produksi magma lain menyebabkan erupsi. Sedangkan proses di dalam dapur magma, ketika magma mendingin maka mulai mengkristal yang berat akan tenggelam dan gas yang ringan akan menekan ke atas apabila tidak mampu menahan maka akan meletus.
 
Di atas dapur magma, es yang meleleh menyebabkan gunung api kehilangan tekanan dan meletus, typhoon di sekitar gunung api, pasang surut di bulan purnama di mana air yang naik akan memberi beban ketika gunung api dalam keadaan kritis dan menekan gunung api bumi, gempa bumi. Faktor eksternal gunung api meletus disebabkan oleh longsor, hujan lebat, dan erosi.

Bahaya gunung api

Berdasarkan sifatnya, bahaya gunung api terbagi menjadi dua, yakni bahaya primer dan sekunder. Bahaya primer (syn eruption) berarti bahaya yang terjadi bersamaan ketika gunung api meletus, seperti aliran lava, lahar, piroklastik, abu volkanaik, gas beracun, ejecta ballistic (bom & block). Bahaya sekunder (post eruption) berarti setelah gunung api meletus, seperti banjir bandang, tsunami, hujan asam, gas beracun, dan lahar.
 
Mirzam menjelaskan letusan terdahsyat dan menjadi letusan terbesar kedua di dunia dimiliki oleh Gunung Api Toba di Indonesia atau sering disebut Toba Supervolcano.
 
Di balik keanekaragaman dan keindahan gunung api di Indonesia ternyata menyimpan sejuta misteri. Sebagai mahasiswa yang dibekali ilmu sains kita hanya bisa sekedar memprediksi dan tidak bisa menghentikan kehendak alam.
 
Sebagai orang awam, sudah sepatutnya kita lebih sadar dan peduli pada fenomena alam serta menjaganya dengan tidak mencemarinya. “Gunung api Indonesia memanggil, jika bukan kita putra-putri terbaik bangsa yang mengurus gunung apinya sendiri, siapa lagi?” tutur Mirzam.
 
Baca juga: Genetika Geologi Gunung Tangkubanparahu Lewat Legenda Sangkuriang

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(REN)




LEAVE A COMMENT
LOADING
social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif