Mahasiswa UNY Maghfiroh Izza Maulani mengikuti program Kampus Mengajar. DOK UNY
Mahasiswa UNY Maghfiroh Izza Maulani mengikuti program Kampus Mengajar. DOK UNY

Cerita Izza Mengajar Matematika di SDN Bringin Magelang Lewat Kampus Mengajar

Pendidikan pendidikan Merdeka Belajar UNY Kampus Mengajar
Renatha Swasty • 22 April 2022 16:29
Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) meluncurkan program Kampus Mengajar. Program ini merupakan transformasi dari Program Kampus Mengajar Perintis yang bertujuan memberikan solusi bagi Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang terdampak pandemi dengan memberdayakan mahasiswa untuk membantu guru dan kepala sekolah dalam kegiatan pembelajaran di tengah pandemi covid-19.
 
Program Kampus Mengajar mengajak mahasiswa berkolaborasi, beraksi, dan berbakti untuk negeri di sekolah yang ditugaskan baik jenjang SD maupun SMP. Mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) diharapkan akan membantu meningkatkan kualitas pendidikan di jenjang SD dan SMP khususnya di bidang literasi dan numerasi.
 
Mahasiswa memiliki kesempatan mengasah jiwa kepemimpinan, soft skills, dan karakter, serta mendapat pengalaman mengajar melalui kegiatan Kampus Mengajar. Salah satu mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang berkesempatan mengikuti Kampus Mengajar ialah Maghfiroh Izza Maulani yang ditempatkan di SDN Bringin 1 Srumbung, Magelang, Jawa Tengah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY tersebut mengatakan mengajar merupakan panggilan hati. “Bertemu dan dapat merasakan belajar sekaligus bermain bersama anak anak adalah kegiatan yang menyenangkan dan memiliki rasa greget yang berbeda” kata Izza dikutip dari laman uny.ac.id, Jumat, 22 April 2022.
 
Izza menuturkan bertemu dengan beragam kepribadian dan kemampuan membuatnya belajar banyak hal. Izza mengaku mengajarkan matematika untuk anak sekolah dasar gampang-gampang susah.
 
Sebab, walaupun materi tergolong sederhana, namun salah konsep sedikit saja akan berimbas bagi pendidikan setelahnya.
 
Warga Tersan Gede, Salam, Magelang itu bercerita dia ditugaskan mengajar AKM Numerasi pada siswa kelas IV SD, yaitu mengenalkan apa yang dimaksud dengan bilangan bulat positif dan bilangan bulat negatif yang merupakan hal baru untuk siswa.
 
“Sebenarnya cukup sulit. Melihat peserta didik yang hanya melongo saja atau tidak paham membuat saya memutar otak,” kata Izza.
 
Dia lalu melakukan pendekatan-pendekatan mata pelajaran numerasi dengan masalah kontekstual yang biasanya ada di kehidupan sehari-hari. Seperti memisalkan tanda negatif sebagai hutang ataupun meminjam barang. Selain itu juga sebisa mungkin menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
 
“Tantangannya di SD, kita harus menyederhanakan apa-apa yang terasa rumit hingga sebisa mungkin dapat dipahami oleh siswa,” papar dia.
 
Alumni SMAN 3 Magelang itu menjelaskan Matematika dengan masalah konkret lebih mudah dicerna, seperti mengajarkan volume balok dengan memperhatikan lemari yang ada di depan kelas atau banyaknya air pada bak mandi. Sedangkan, mengajarkan perkalian dan pembagian dengan soal-soal cerita yang biasanya mereka temui.
 
Putri pasangan Sudarjo dan Sri Wahyuni itu mengajar tidak sebatas menjelaskan tapi juga berusaha memahamkan. Izza mengaku banyak belajar dari kegiatan ini termasuk belajar menangani siswa yang bermacam-macam karakteristik juga belajar mengendalikan suasana kelas yang terkadang tidak sesuai harapan.
 
Izza selalu berprinsip siswa harus mendapat tambahan ilmu pada hari itu. Sehingga meski sedikit setidaknya ada ilmu yang mereka bawa pulang.
 
Baca: Nadiem Minta Mahasiswa Bantu Penerapan Kurikulum Merdeka di Sekolah
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif