Penandatanganan kerja sama PT Kimia Farma dan BRIN. DOK BRIN
Penandatanganan kerja sama PT Kimia Farma dan BRIN. DOK BRIN

Kurangi Impor, PT Kimia Farma Produksi Senyawa Bertanda dan Radiofarmaka dengan Fasilitas BRIN

Pendidikan penelitian nuklir kimia farma BRIN
Renatha Swasty • 26 April 2022 21:42
Jakarta: PT Kimia Farma sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memanfaatkan fasilitas infrastruktur Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memproduksi senyawa bertanda dan radiofarmaka. Produksi radiofarmaka ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri yang selama ini didominasi oleh impor.
 
Kerja sama pemanfaatan fasilitas ini ditandai dengan penandatanganan naskah kerja sama antara BRIN yang diwakili oleh Plt Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi, Yan Rianto, dengan General Manager SBU Manufaktur PT Kimia Farma, Andria, di kantor BRIN, Jakarta, Senin, 25 April 2022. Pemanfaatan fasilitas infrastruktur BRIN oleh pihak lain merupakan perwujudan open platform terhadap infrastruktur yang dimiliki BRIN.
 
Yan menuturkan BRIN dibentuk sebagai lembaga riset di Indonesia diharapkan mampu menjadi penghubung antara pemerintah dengan mitra khususnya industri dalam pemanfaatan riset dan inovasi. Salah satu riset dan inovasi yang dilakukan yakni di bidang kedokteran nuklir khususnya produksi senyawa bertanda dan radiofarmaka yang menjadi salah satu fokus perhatian BRIN.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menyebut pengembangan fasilitas di bidang kedokteran nuklir akan terus dikembangkan guna memenuhi kebutuhan radiofarmaka di dalam negeri. Saat ini pemanfaatan reaktor untuk memproduksi radiofarmaka masih di bawah kapasitas, sehingga BRIN mendorong kepada pihak industri agar dapat memanfaatkan secara maksimal.
 
“Sebetulnya peluang itu masih terbuka sangat besar untuk mengisi pasokan radiofarmaka di dalam negeri. Dan apabila mampu diproduksi di dalam negeri, saya yakin harganya jauh di bawah harga impor,” ujar Yan.
 
Terkait penggunaan SDM riset dalam produksi radiofarmaka, jika nantinya produksi radiofarmaka terus meningkat, maka SDM yang mengoperasikan fasilitas tersebut dapat diambilkan dari alumni Poltek Nuklir. Sehingga tidak mengganggu kinerja periset.
 
“Pengoperasian fasilitas yang sudah rutin dapat dikerjakan oleh SDM di luar periset seperti dengan merekrut alumni Poltek Nuklir, sehingga periset lebih fokus melakukan risetnya dan menghasilkan lebih banyak produk inovasi,” tutur dia.
 
Kerja sama pemanfaatan fasilitas BRIN dengan PT Kimia Farma dalam memproduksi radiofarmaka dan senyawa bertanda ini merupakan bagian proses hilirisasi dan komersialisasi produk penelitian oleh BRIN kepada masyarakat. Nantinya, proses kerja sama seperti ini juga akan dilakukan terhadap produk penelitian terkait radiofarmaka lainnya yang sangat bermanfaat bagi kesehatan.
 
General Manager SBU Manufaktur PT Kimia Farma, Andria, menerangkan sebetulnya pihaknya sudah lama menjalin kerja sama dengan eks BATAN yang sekarang menjadi BRIN dalam memproduksi senyawa bertanda dan radiofarmaka. Kerja sama sebelum 2011.
 
“Hingga saat ini, PT Kimia Farma dengan menggunakan fasilitas BRIN telah memproduksi sebanyak enam senyawa bertanda dan empat kit radiofarmaka,” beber Andria.
 
Andria mengatakan kerja sama ini merupakan perwujudan PT Kimia Farma sebagai BUMN yang selalu siap mendukung program pemerintah. Khususnya dalam hal penggunaan produk dalam negeri yang sedang giat-giatnya dijalankan pemerintah.
 
Adria menuturkan sebagai upaya meningkatkan kualitas produk, pihaknya bersama BRIN terus melakukan evaluasi. Hal itu untuk memperbaiki berbagai kendala yang dihadapi selama produksi.
 
“Sebelum menggunakan fasilitas yang baru ini, dulu pernah mengalami kendala produksi dalam hal uji sterilitas, kemudian kami lakukan investigasi bersama dan akhirnya ditemukan penyebabnya dan dilakukan perbaikan. Nantinya kami akan menggunakan fasilitas yang baru dan saat ini sedang menunggu sertifikat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik),” tutur dia.
 
Plt Direktur Penguatan dan Kemitraan Infrastruktur Riset dan Inovasi, Salim Mustofa, mengatakan fasilitas yang dimanfaatkan untuk memproduksi senyawa bertanda dan radiofarmaka bernama Instalasi Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka. Fasilitas ini selain untuk memproduksi senyawa bertanda dan radiofarmaka, digunakan juga untuk keperluan riset di bidang radioisotop dan radiofarmaka.
 
Salim memastikan fasilitas itu tidak akan mengganggu pelaksanaan riset di BRIN meski telah dikerjasamakan dengan pihak industri. “Kami telah membuat jadwal pemanfaatan fasilitas, kapan untuk produksi dan kapan untuk kegiatan riset,” kata Salim.
 
Salim menyebut kerja sama pemanfaatan fasilitas itu justru akan lebih mengenalkan fasilitas dan produk yang dihasilkan periset BRIN kepada masyarakat.
 
Baca: BRIN Fasilitasi Uji Klinik Suplemen Herbal PT Bintang Toedjoe untuk Pasien Covid-19
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif