Sebenarnya, apa itu Sekolah ASRI? Yuk simak penjelasannya berikut ini:
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan pendidikan bermutu harus dibangun melalui sekolah yang aman, nyaman, dan berkarakter. Sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan keberanian intelektual, ketangguhan spiritual, serta kepekaan sosial peserta didik.
“Sekolah yang aman dan nyaman juga harus menjadi sekolah yang asri. Lingkungan yang bersih, sehat, sejuk, dan tertata akan mendukung suasana belajar yang menyenangkan sekaligus membentuk kebiasaan hidup tertib dan bertanggung jawab pada peserta didik,” ujar Mu'ti dalam keterangan tertulis, Senin, 9 Februari 2026.
Ia menjelaskan pembiasaan menjaga kebersihan, pengelolaan sampah, pengurangan penggunaan plastik, serta penciptaan ruang kelas yang nyaman dan tidak pengap merupakan bagian dari integrasi sekolah dengan semangat Indonesia yang ASRI.
“Sekolah yang aman adalah sekolah di mana anak-anak merasa tenang untuk belajar, berani menyampaikan pendapat, dan tidak takut melakukan kesalahan. Keberanian intelektual ini penting agar rasa ingin tahu anak-anak tetap tumbuh dan difasilitasi,” ujar Mu'ti.
Ia mengatakan keamanan spiritual juga menjadi bagian penting dari pendidikan. Peserta didik perlu mendapatkan pendampingan nilai keimanan dan moral secara berkelanjutan melalui keteladanan dan pembiasaan, bukan sekadar hafalan.
Mu'ti juga menyinggung aspek keamanan sosial di lingkungan sekolah. Ia mengingatkan perundungan masih menjadi tantangan yang harus terus ditekan melalui pembangunan budaya saling menghormati, empati, dan tanggung jawab bersama.
Dalam kunjungan ke SMP–SMA Amanatul Ummah, Mu'ti mengapresiasi praktik pembentukan karakter yang diterapkan di lingkungan pendidikan pesantren. Ia menilai ikrar yang dibacakan secara rutin oleh peserta didik dan pendidik menjadi fondasi kuat dalam membangun disiplin dan tanggung jawab.
“Ikrar yang tadi dibacakan itu luar biasa dan sangat mendukung program kami, terutama terkait larangan merokok. Ini bisa menjadi contoh nasional, sekolah model tingkat nasional di mana ribuan peserta didiknya tidak ada satu pun yang merokok,” ujar dia.
Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Asep Saifuddin Chalim, menyampaikan keberhasilan pendidikan dibangun melalui sistem yang dijalankan secara disiplin dan bertanggung jawab, serta peran guru sebagai teladan moral, pendamping, dan pembimbing bagi peserta didik.
Ia menegaskan ikrar sivitas akademika yang menekankan komitmen untuk menjadi insan yang beriman, bertakwa, berilmu, disiplin, bertanggung jawab, bersih, sopan, ramah, dan rapi sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik.
Bupati Mojokerto, Muhammad Al Barra, berharap kunjungan tersebut dapat memberikan pencerahan bagi pengembangan pendidikan di daerah. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah dan lembaga pendidikan menjadi kunci dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu dan berkelanjutan.
Al Barra menilai lembaga pendidikan yang mampu memadukan penguatan akademik, pembinaan karakter, dan kedisiplinan akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan moral yang kuat.
Dia mengatakan praktik-praktik baik yang telah berjalan di lingkungan pendidikan tersebut sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam membangun pendidikan yang berfokus pada pembentukan karakter dan lingkungan belajar yang aman serta sehat.
Ia menegaskan upaya menciptakan sekolah yang aman, nyaman, dan asri tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Tetapi memerlukan komitmen seluruh pemangku kepentingan pendidikan, mulai dari pendidik, peserta didik, hingga masyarakat.
Dalam kunjungan itu, Mendikdasmen Abdul Mu’ti juga meresmikan gedung baru sekolah dasar di Kota Surabaya. Peresmian menjadi bentuk apresiasi atas inisiatif dan kemandirian satuan pendidikan dalam menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung proses pembelajaran peserta didik.
Mu'ti menjelaskan pembangunan gedung sekolah merupakan ikhtiar penting dalam mendukung proses pendidikan. Namun, pembangunan fisik harus diiringi dengan penciptaan rasa aman bagi peserta didik, baik secara fisik, intelektual, spiritual, maupun sosial.
Dia berharap berbagai upaya yang dilakukan oleh satuan pendidikan dan masyarakat dapat terus diperkuat melalui semangat gotong royong. Sehingga, ekosistem pendidikan yang aman, nyaman, asri, dan berkarakter dapat terwujud secara berkelanjutan.
“Yang kita bangun bukan hanya gedung yang kokoh, tetapi karakter yang kuat. Dari situlah kita berharap lahir generasi Indonesia yang cerdas secara intelektual, matang secara sosial, dan kuat secara spiritual,” ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News