Kapten (PNB) Ajeng Tresna mengatakan perjalanan sebagai perwira memberikan banyak pengalaman yang tidak bisa didapatkan di tempat lain. Salah satunya adalah kemampuan kepemimpinan atau leadership.
Menurut Ajeng, teori kepemimpinan memang bisa dipelajari. Namun, penerapannya membutuhkan pengalaman langsung, terutama ketika seseorang harus memimpin orang lain.
"Leadership itu kan kita butuh orang, kita butuh orang yang bisa kita pimpin. Dan kita membawa orang itu ada seninya," ujar Ajeng dalam program QnA Metro TV dikutip Rabu 26 Agustus 2026.
| Baca juga: Stella Christie Akui Dukungan Pemerintah untuk Peneliti Belum Cukup |
Kemampuan tersebut kemudian diterapkan ketika berada di udara. Seorang pilot tidak hanya bertanggung jawab menerbangkan pesawat, tetapi juga harus mampu memimpin kru dan mengelola seluruh penerbangan.
"Bagaimana kita membawa kru kita, kita memimpin mereka, kita me-manage semua penerbangan itu, itu semua dari kita sebagai pilot," jelas Pilot pesawat Kepresidenan tersebut.
Menurut Ajeng, pengalaman yang diperoleh selama berada di darat pada akhirnya ikut terbawa ketika seorang pilot menjalankan penerbangan. Hal serupa dirasakan Letda (PNB) Gini Setya Rahayu.
Berbeda dengan Ajeng, Gini berasal dari keluarga sipil dan tidak memiliki latar belakang keluarga militer. Masuk ke lingkungan militer membuat Gini mendapatkan pelajaran baru, terutama mengenai disiplin dan tanggung jawab.
"Pengalaman paling berharga setelah saya masuk ke dunia militer itu saya belajar tentang disiplin, tanggung jawab," kata Gini sebagai pilot pesawat Hercules.
Pelajaran tersebut menjadi bekal penting dalam perjalanan Gini menjadi penerbang Hercules. Sebagai penerbang militer, Gini juga harus siap menghadapi perubahan yang tidak selalu dapat diprediksi.
Berbeda dengan penerbangan sipil yang memiliki jadwal lebih teratur, penerbang militer dapat menerima perintah perubahan rute, waktu hingga misi secara mendadak. Karena itu, kesiapan menjadi bagian dari keseharian penerbang militer.
Selain kemampuan teknis, seorang pilot juga harus mampu mengendalikan diri ketika menghadapi tekanan. Ajeng menceritakan pengalamannya saat menjalani pelatihan dan harus menghadapi cuaca buruk setelah pesawat mengudara.
Ia mengakui kondisi tersebut secara naluriah dapat membuat seseorang merasa takut. Namun, seorang pilot dituntut tidak kehilangan fokus.
"Di situlah kenapa pilot harus diuji dari sisi psikologi, karena dia harus melihat mental bertahan dari seorang pilot tersebut," katanya.
Menurut Ajeng, mental bertahan tersebut berkaitan dengan kemampuan seseorang menghadapi tekanan. Pilot harus mampu tetap fokus dan tidak mudah menyerah, goyah maupun panik.
"Pendidikan dan pengalaman seorang penerbang tidak hanya membentuk keterampilan teknis saja tapi mengasah kepemimpinan, disiplin, tanggung jawab dan kemampuan mengendalikan diri," tutup Ajeng.
| Baca juga: Peneliti Dijanjikan Insentif hingga 25% dari Dana Riset, Ini Kata Wamen Stella |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda