Ahli Penginderaan Jauh Satelit IPB University, Jonson Lumban Gaol, menyebut berdasarkan data satelit altimetri, muka air danau terus menurun hingga mencapai sekitar 1,6 meter pada periode Juni 2025 hingga Maret 2026.
Muka air danau berpotensi mengalami penurunan hingga 2 meter jika musim kemarau terus berlanjut. Fenomena tersebut mengancam berbagai kegiatan di sekitar Danau Toba, termasuk sektor perikanan budi daya.
Jonson memperingatkan fenomena hidrologi tersebut berpotensi diperparah dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang kemungkinan terjadinya El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif secara bersamaan pada 2026.
“Kombinasi ini dapat memicu musim kering berkepanjangan di Indonesia, termasuk di kawasan Danau Toba, yang pada akhirnya mempercepat penyusutan volume air danau dan dapat menyebabkan kematian massal ikan di KJA,” ujar Jonson dalam keterangan tertulis, Rabu, 22 April 2026.
Jonson menuturkan penurunan muka air danau sering kali berhubungan dengan kejadian kematian massal ikan di KJA, seperti yang terjadi pada 2016, yakni ribuan ton ikan di KJA mati saat muka air surut sedalam 2 meter. Kejadian serupa juga pernah terjadi pada 2018, 2020, dan 2023 ketika muka air relatif rendah, meski dalam skala lebih kecil.
Dia mengungkapkan penurunan muka air bukanlah penyebab langsung kematian ikan, melainkan faktor pemicu percampuran massa air saat terjadi cuaca ekstrem dan angin kencang. Dalam kondisi perairan yang relatif dangkal, angin kencang akan mengaduk sedimen limbah organik di dasar danau. Sedimen halus terangkat ke permukaan dan dapat menyumbat insang ikan.
“Pada saat yang sama, air dari lapisan bawah yang miskin oksigen naik ke atas, menyebabkan penurunan drastis kadar oksigen terlarut sehingga ikan di KJA mati,” jelas Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University ini.
Faktor pemicu lain adalah penumpukan limbah organik dan rumah tangga di dasar danau. Jonson mengatakan dalam kondisi normal, limbah tersebut diuraikan oleh bakteri dengan bantuan oksigen. Namun, ketika oksigen habis, proses penguraian berlangsung secara anaerobik dan menghasilkan gas beracun seperti hidrogen sulfida dan metana.
“Hidrogen sulfida dapat merusak sistem pernapasan ikan, sementara metana turut menurunkan kualitas air. Kombinasi antara rendahnya oksigen, tingginya kandungan gas beracun, dan meningkatnya kekeruhan air menjadi penyebab kematian massal ikan di KJA,” papar dia.
Jonson mengimbau para nelayan di Danau Toba meningkatkan kewaspadaan. Apabila mulai terlihat tanda-tanda cuaca ekstrem seperti kecepatan angin tinggi dan warna air mulai keruh, ia menyarankan agar KJA dipindahkan ke bagian perairan lebih dalam atau memanen ikan secepatnya.
“Di sisi lain, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan perlu bergerak lebih proaktif, tidak hanya dengan imbauan, tetapi juga dengan sistem yang mampu memberikan peringatan dini secara akurat dan cepat,” tegas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News