Jakarta: Di balik rimbunnya hutan, aliran sungai, hingga pemukiman warga, tidak semua fauna yang kita temui memberikan dampak positif bagi lingkungan. Beberapa di antaranya justru berstatus sebagai "penjajah" atau spesies invasif.
Berbeda dengan hama biasa, hewan invasif adalah spesies pendatang (bukan asli daerah tersebut) yang keberadaannya merusak keseimbangan alam, merugikan ekonomi, hingga mengancam kesehatan manusia.
Melansir data dari National Geographic, kehadiran hewan-hewan ini sering kali dipicu oleh faktor manusia, mulai dari lepasnya hewan peliharaan ke alam liar, unsur kesengajaan untuk budidaya, hingga terbawa secara tidak sengaja melalui sarana transportasi antarwilayah.
Berikut adalah enam hewan invasif di Indonesia yang keberadaannya patut diwaspadai:
Ikan Sapu-Sapu
Awalnya populer sebagai ikan pembersih akuarium, ikan sapu-sapu kini menjadi ancaman serius di sungai-sungai Indonesia. Karena tidak memiliki predator alami (akibat tubuhnya yang keras), populasinya meledak tak terkendali. Ikan ini memakan alga dan invertebrata secara masif, yang dapat mengubah pH air, merusak ekosistem sungai, serta merampas sumber makanan ikan lokal.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menggencarkan operasi penangkapan ikan sapu-sapu di berbagai wilayah. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya besar membersihkan sungai sekaligus mengendalikan populasi spesies invasif yang dinilai merusak ekosistem.
Kucing Feral (Kucing Liar)
Siapa sangka hewan yang sering kita jumpai di pasar atau taman ini masuk dalam daftar invasif? Kucing domestik (Felis catus) yang tidak bertuan dan hidup liar di alam disebut sebagai kucing feral. Menurut American Bird Conservancy, kucing feral adalah predator efisien yang mampu membunuh miliaran burung setiap tahunnya dan menyebarkan penyakit. Di Australia, kucing feral bahkan menjadi penyebab utama kepunahan beberapa spesies asli.
Bekicot
Siput raksasa (Lissachatina fulica) ini dinobatkan oleh Global Invasive Species Database sebagai salah satu spesies paling invasif di dunia. Nafsu makannya yang rakus membuat bekicot mampu menghabiskan tanaman apa pun, termasuk komoditas pangan seperti padi dan sayuran. Selain merugikan petani secara ekonomi, bekicot juga menjadi perantara patogen berbahaya bagi manusia dan hewan.
Baca Juga :
Ikan Sapu-Sapu Aman Dimakan? Begini Penjelasannya
Bunglon Taman
Kadal bernama ilmiah Calotes versicolor ini mulai menguasai wilayah Borneo dan menggeser eksistensi kadal asli setempat. Laporan dari jurnal BioOne menyebutkan bahwa kemampuan adaptasi yang tinggi membuat bunglon taman memenangkan persaingan sumber daya, yang berpotensi menyebabkan kepunahan invertebrata dan reptil lokal di masa depan.
Ikan Nila
Meskipun menjadi primadona konsumsi di Indonesia, ikan nila (Oreochromis niloticus) sebenarnya berasal dari Afrika. Jurnal IOPScience mencatat bahwa sifatnya yang sangat adaptif dan pertumbuhannya yang cepat membuat nila mendominasi perairan di Asia dan Amerika. Dominasi ini sering kali memakan korban, yakni berkurangnya populasi ikan asli daerah tersebut karena kalah bersaing.
Keong Emas
Masuk dalam daftar IUCN Red List sebagai salah satu dari 100 hewan invasif paling merugikan di dunia, keong emas awalnya dibawa ke Asia untuk tujuan konsumsi. Namun, proyek tersebut gagal dan keong emas justru berubah menjadi hama utama bagi petani padi. Keong ini memakan benih padi muda yang mengakibatkan kegagalan panen dalam skala besar.
Ancaman hewan invasif bukanlah perkara sepele. Selain merusak biodiversitas asli Indonesia, dampak kerugian ekonomi dan gangguan kesehatan yang ditimbulkan sangat nyata.
Pemerintah dan masyarakat diharapkan tidak sembarangan melepasliarkan spesies asing ke ekosistem lokal. Upaya pencegahan dan penanganan yang sistematis di seluruh wilayah Indonesia menjadi kunci agar kekayaan alam nusantara tidak habis terjajah oleh para pendatang tak diundang ini.
(Fany Wirda Putri)
Jakarta: Di balik rimbunnya hutan, aliran sungai, hingga pemukiman warga, tidak semua fauna yang kita temui memberikan dampak positif bagi lingkungan. Beberapa di antaranya justru berstatus sebagai "penjajah" atau
spesies invasif.
Berbeda dengan hama biasa, hewan invasif adalah spesies pendatang (bukan asli daerah tersebut) yang keberadaannya merusak keseimbangan alam, merugikan ekonomi, hingga mengancam kesehatan manusia.
Melansir data dari National Geographic, kehadiran hewan-hewan ini sering kali dipicu oleh faktor manusia, mulai dari lepasnya hewan peliharaan ke alam liar, unsur kesengajaan untuk budidaya, hingga terbawa secara tidak sengaja melalui sarana transportasi antarwilayah.
Berikut adalah enam hewan invasif di Indonesia yang keberadaannya patut diwaspadai:
Ikan Sapu-Sapu
Awalnya populer sebagai ikan pembersih akuarium,
ikan sapu-sapu kini menjadi ancaman serius di sungai-sungai Indonesia. Karena tidak memiliki predator alami (akibat tubuhnya yang keras), populasinya meledak tak terkendali. Ikan ini memakan alga dan invertebrata secara masif, yang dapat mengubah pH air, merusak ekosistem sungai, serta merampas sumber makanan ikan lokal.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menggencarkan operasi penangkapan ikan sapu-sapu di berbagai wilayah. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya besar membersihkan sungai sekaligus mengendalikan populasi spesies invasif yang dinilai merusak ekosistem.
Kucing Feral (Kucing Liar)
Siapa sangka hewan yang sering kita jumpai di pasar atau taman ini masuk dalam daftar invasif? Kucing domestik (Felis catus) yang tidak bertuan dan hidup liar di alam disebut sebagai kucing feral. Menurut American Bird Conservancy, kucing feral adalah predator efisien yang mampu membunuh miliaran burung setiap tahunnya dan menyebarkan penyakit. Di Australia, kucing feral bahkan menjadi penyebab utama kepunahan beberapa spesies asli.
Bekicot
Siput raksasa (Lissachatina fulica) ini dinobatkan oleh Global Invasive Species Database sebagai salah satu spesies paling invasif di dunia. Nafsu makannya yang rakus membuat bekicot mampu menghabiskan tanaman apa pun, termasuk komoditas pangan seperti padi dan sayuran. Selain merugikan petani secara ekonomi, bekicot juga menjadi perantara patogen berbahaya bagi manusia dan hewan.
Bunglon Taman
Kadal bernama ilmiah Calotes versicolor ini mulai menguasai wilayah Borneo dan menggeser eksistensi kadal asli setempat. Laporan dari jurnal BioOne menyebutkan bahwa kemampuan adaptasi yang tinggi membuat bunglon taman memenangkan persaingan sumber daya, yang berpotensi menyebabkan kepunahan invertebrata dan reptil lokal di masa depan.
Ikan Nila
Meskipun menjadi primadona konsumsi di Indonesia, ikan nila (Oreochromis niloticus) sebenarnya berasal dari Afrika. Jurnal IOPScience mencatat bahwa sifatnya yang sangat adaptif dan pertumbuhannya yang cepat membuat nila mendominasi perairan di Asia dan Amerika. Dominasi ini sering kali memakan korban, yakni berkurangnya populasi ikan asli daerah tersebut karena kalah bersaing.
Keong Emas
Masuk dalam daftar IUCN Red List sebagai salah satu dari 100 hewan invasif paling merugikan di dunia, keong emas awalnya dibawa ke Asia untuk tujuan konsumsi. Namun, proyek tersebut gagal dan keong emas justru berubah menjadi hama utama bagi petani padi. Keong ini memakan benih padi muda yang mengakibatkan kegagalan panen dalam skala besar.
Ancaman hewan invasif bukanlah perkara sepele. Selain merusak biodiversitas asli Indonesia, dampak kerugian ekonomi dan gangguan kesehatan yang ditimbulkan sangat nyata.
Pemerintah dan masyarakat diharapkan tidak sembarangan melepasliarkan spesies asing ke ekosistem lokal. Upaya pencegahan dan penanganan yang sistematis di seluruh wilayah Indonesia menjadi kunci agar kekayaan alam nusantara tidak habis terjajah oleh para pendatang tak diundang ini.
(
Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)