Ilustrasi konflik Israel-Palestina. AFP
Ilustrasi konflik Israel-Palestina. AFP

4 Alasan Konflik Israel-Palestina Masih Berlangsung

Pendidikan konflik israel israel palestina UNAIR
Renatha Swasty • 28 April 2022 20:09
Jakarta: Konflik Israel dan Palestina telah berlangsung sejak lebih dari lima dekade. Konflik itu banyak mendapat kecaman, terlebih dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
 
Dosen Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional Universitas Airlangga (Unair) Fadhila Inas Pratiwi menuturkan ada empat isu penting penyebab konflik masih berlangsung. Keempatnya, yakni isu teritorial, Yerussalem, pengungsi Palestina yang meminta hak untuk kembali ke tanah airnya, dan kedua negara yang ingin mencapai keamanan bagi rakyatnya.
 
“Hubungan diplomasi Israel yang semakin akrab dengan negara-negara Arab, semakin membuat konflik Israel-Palestina kehilangan momentum untuk mendapatkan perhatian sehingga sulit untuk bisa diselesaikan,” kata Fadhila dikutip dari laman unair.ac.id, Kamis, 28 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Fadhila menyebut PBB selalu mengawal jalannya konflik dan berusaha melakukan perundingan-perundingan. “PBB banyak mengeluarkan resolusi dalam konflik Israel dan Palestina,” tutur dia.
 
Resolusi tersebut adalah Two-State Solution (United Nations General Assembly Resolution 181), solusi terkait pengungsi (United Nations General Assembly Resolution 194), akhir dari pendudukan Israel terhadap Palestina (United Nations Security Council Resolution 242), dan menjaga status Yerusalem (Nations Security Council Resolutions 476 and 478).
 
Fadhila menuturkan PBB bersama negara lain banyak melakukan proses diplomasi penyelesaian konflik Israel-Palestina. Mulai UN Security Council Resolution Tahun 1967, Camp David Summit 1978, Madrid Conference 1991, Oslo Agreement, Roadmap for Peace 2003, hingga Annapolis Conference 2007.
 
"Namun tidak ada perkembangan yang signifikan dan konflik masih terus terjadi hingga detik ini” tutur Fadhila.
 
PBB juga telah memberikan humanitarian aid bagi masyarakat Palestina. Israel sering diminta menghentikan opresi (merampas kehendak seseorang untuk melakukan sesuatu) dan bentuk-bentuk apartheid di Palestina.
 
Namun, kata Fadhila, PBB memiliki keterbatasan dalam menyelesaikan konflik. Terlebih, Israel tidak mengindahkan kecaman internasional membuat konflik masih terus terjadi hingga saat ini.
 
Fadhila menyebut masyarakat internasional dari semua kalangan tidak membenarkan tindakan Israel. Hal itu sebagai bentuk tindak kejahatan.
 
“Kita bisa menyuarakan kepentingan Palestina di dunia maya dan terjun langsung ke lapangan. Selain itu, kita dapat memberikan bantuan secara moril dan materil kepada masyarakat Palestina,” ujar Fadhila.
 
Konflik itu diharapkan bisa menjadi prioritas internasional untuk bisa diselesaikan ketika banyak yang turut mengupayakan kepentingan Palestina. Sehingga, negara-negara lain dapat berkontribusi menyelesaikan konflik secara formal dan diplomatis.
 
“Jadi, kita tidak boleh pesimis dalam melihat konflik Israel dan Palestina ini. Harapan masih selalu ada. Indonesia juga selalu berusaha menyuarakan kepentingan Palestina di forum PBB agar lebih mengutamakan penyelesaian konflik tersebut,” kata Fadhila.
 
Bafca: Israel Terapkan Kebijakan Baru Masuk ke Tepi Barat, Warga Palestina Berang
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif