Mekanisme seleksi terus disempurnakan untuk menjaga objektivitas dan pemerataan akses bagi seluruh peserta. UGM memastikan proses seleksi berjalan sesuai prinsip transparansi dan akuntabilitas.
Direktur Direktorat Pendidikan dan Pengajaran (DPP) UGM, Gandes Retno Rahayu menjelaskan bahwa sistem seleksi tahun ini membawa perubahan pada mekanisme penempatan peserta. Peserta tidak lagi memilih pusat UTBK secara langsung, melainkan hanya menentukan kota lokasi ujian.
Selanjutnya, panitia pusat akan mendistribusikan peserta ke perguruan tinggi dalam kota tersebut secara merata. Skema ini dirancang untuk menjaga keadilan sekaligus meningkatkan keamanan pelaksanaan seleksi.
“Kami ingin semua peserta punya peluang yang sama, tanpa bergantung pada pilihan lokasi tertentu,” ujar Gandes, Kamis, 23 April 2026.
Perubahan mekanisme tersebut sejalan dengan meningkatnya minat calon mahasiswa dari berbagai daerah untuk melanjutkan studi di UGM. Kampus ini dikenal memiliki reputasi akademik yang kuat dan dipercaya masyarakat luas sebagai tujuan pendidikan tinggi.
Daya tarik tersebut terasa hingga ke luar Pulau Jawa, yang menunjukkan jangkauan UGM sebagai universitas nasional. Lingkungan belajar yang terbuka turut memperkuat posisi UGM sebagai ruang bertumbuh bagi mahasiswa dari latar belakang beragam.
“Banyak yang datang dengan harapan memperbaiki masa depan, dan kami melihat itu sebagai sesuatu yang sangat berarti,” tuturnya.
Selain reputasi, faktor lokasi juga menjadi pertimbangan penting bagi calon mahasiswa. Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar dengan biaya hidup yang relatif terjangkau dan suasana akademik yang kondusif.
Lingkungan yang egaliter membuat mahasiswa lebih mudah beradaptasi dan merasa diterima. Kondisi ini mendukung proses belajar yang lebih optimal, baik secara akademik maupun sosial.
“Di sini mereka bukan hanya kuliah, tapi juga belajar hidup dan berkembang bersama,” jelas Gandes.
Menurut Gandes, ketertarikan calon mahasiswa juga terlihat dari pilihan program studi yang cenderung strategis. Program seperti Kedokteran, Hukum, dan Psikologi masih menjadi favorit dengan tingkat persaingan yang tinggi.
Di sisi lain, bidang Teknik, Manajemen, serta Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer terus menunjukkan peningkatan minat. Pilihan tersebut mencerminkan pertimbangan terhadap peluang karier di masa depan.
“Banyak keluarga melihat pendidikan sebagai jalan untuk membuka peluang yang lebih luas bagi anak-anaknya,” ungkapnya.
Untuk menjawab kebutuhan mahasiswa dari berbagai daerah, UGM menyiapkan sistem pendukung yang cukup lengkap. Salah satunya melalui penyediaan hunian di UGM Residence dengan kapasitas lebih dari 1.500 mahasiswa.
Gandes menjelaskan fasilitas ini dilengkapi ruang belajar, kantin, serta sistem keamanan selama 24 jam. Selain itu, berbagai program beasiswa juga tersedia, termasuk KIP Kuliah dan skema afirmasi bagi daerah 3T.
“Kami ingin mahasiswa bisa fokus belajar tanpa terlalu terbebani oleh hal-hal di luar akademik,” ia berkata.
Upaya tersebut dilengkapi dengan program yang mendukung proses adaptasi mahasiswa baru. Kegiatan orientasi PIONIR dirancang untuk membantu mahasiswa mengenal lingkungan kampus sekaligus membangun jejaring pertemanan.
Asrama mahasiswa juga menjadi ruang interaksi lintas budaya yang memperkaya pengalaman belajar. Mahasiswa didorong untuk tetap membawa identitasnya sekaligus terbuka terhadap perbedaan.
Di sisi lain, UGM juga terus menyesuaikan diri dengan dinamika minat calon mahasiswa terhadap bidang ilmu tertentu. Salah satu yang menjadi perhatian adalah tren penurunan minat pada matematika murni.
Kondisi ini direspons melalui pengembangan kurikulum yang lebih kontekstual dan aplikatif. Matematika diintegrasikan ke dalam bidang seperti data science, kecerdasan buatan (AI), dan aktuaria.
Pendekatan lintas disiplin ini menjadi bagian dari strategi UGM dalam menjaga relevansi pendidikan tinggi. Mahasiswa didorong untuk memahami keterkaitan antarbidang ilmu dalam menjawab tantangan zaman.
Proses pembelajaran tidak lagi berdiri sendiri, tetapi saling terhubung dalam konteks yang lebih luas. Hal ini sekaligus memperkuat peran UGM sebagai institusi pendidikan yang adaptif dan responsif. “Kami ingin apa yang dipelajari di kampus benar-benar terasa manfaatnya ketika mereka terjun ke masyarakat,” pungkas Gandes.
| Baca juga: Kecurangan di UTBK-SNBT Ada Terus Tiap Tahun, Apa sih pemicunya? |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News