Ilustrasi Penemuan Mesin Cetak. DOK International Publishers Association
Ilustrasi Penemuan Mesin Cetak. DOK International Publishers Association

Siapa Penemu Mesin Cetak? Ini Kisah Johannes Gutenberg dan Sejarahnya!

Citra Larasati • 27 September 2026 21:00
Ringkasnya gini..
  • Johannes Gutenberg adalah penemu mesin cetak movable type asal Mainz, Jerman, yang mengubah dunia lewat penemuannya di abad ke-15.
  • Ia menciptakan tiga elemen kunci, yaitu paduan logam huruf cetak, tinta berbasis minyak, dan mesin press dari alat pemeras anggur.
  • Karyanya, Alkitab 42 Baris, memicu revolusi informasi pertama dunia meski Gutenberg wafat tanpa kendali penuh atas ciptaannya.
Jakarta: Sebelum abad ke-15, buku adalah barang mewah karena setiap halamannya harus disalin tangan oleh juru tulis di biara-biara. Proses ini membuat produksi buku sangat lambat dan mahal, sehingga jumlahnya pun sangat terbatas.

Kondisi ini membuat pengetahuan hanya tersimpan di tangan kalangan gereja dan bangsawan. Mengutip laman International Publishers Association (IPA), hanya sekitar 12 persen populasi Eropa saat itu yang mampu membaca.

Semua itu berubah total berkat satu orang bernama Johannes Gutenberg. Penemuannya di bidang percetakan kelak dikenal sebagai salah satu tonggak terpenting dalam sejarah peradaban manusia.

Siapa Johannes Gutenberg?

Mengutip laman Britannica, nama lengkap Gutenberg adalah Johann Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg, lahir di kota Mainz, Jerman, pada akhir abad ke-14. Ia berasal dari keluarga patrician atau bangsawan kota, meski riwayat masa mudanya tidak banyak terdokumentasi secara resmi.

Gutenberg sempat terusir dari Mainz akibat pertikaian sengit antara kalangan serikat dagang dan para bangsawan kota. Ia lalu pindah ke Strasbourg sekitar tahun 1428-1430 dan tercatat menetap di sana hingga 1444.

Di Strasbourg, ia menekuni berbagai keahlian, termasuk pemotongan batu permata, sambil mengajar sejumlah murid. Namun di balik kesibukan itu, ia diam-diam mengembangkan sebuah proyek rahasia yang kelak mengubah dunia.

Proyek Rahasia yang Terbongkar di Pengadilan

Dunia justru mengetahui proyek besar Gutenberg bukan karena ia mengumumkannya, melainkan lewat sebuah gugatan hukum. Beberapa mitra bisnisnya curiga ia menyembunyikan pekerjaan penting dan menuntut agar dilibatkan sebagai partner resmi.

Setelah salah satu mitranya, Andreas Dritzehn, meninggal pada akhir 1438, ahli warisnya menggugat Gutenberg ke pengadilan. Gugatan itu akhirnya kalah, namun persidangan tersebut justru membocorkan rahasianya kepada publik.

Menurut Britannica, seorang tukang kayu bernama Conrad Saspach ternyata pernah menerima uang muka untuk membuat sebuah alat pencetak dari kayu. Seorang pandai emas bernama Hans Dünne juga mengaku telah menjual peralatan cetak senilai 100 guilder kepada Gutenberg sejak 1436.

Tiga Elemen Kunci Penemuan Gutenberg

Keistimewaan inovasi Gutenberg bukan terletak pada satu ide tunggal, melainkan kombinasi tiga elemen teknis yang belum pernah digabungkan sebelumnya. Elemen pertama adalah paduan logam khusus yang mudah dilelehkan namun cepat mengeras menjadi huruf cetak yang kokoh dan bisa dipakai berulang kali.

Elemen kedua adalah tinta berbasis minyak yang cukup kental untuk menempel sempurna pada huruf logam, namun tetap bisa berpindah dengan baik ke kertas atau perkamen. Elemen ketiga adalah mesin press yang kemungkinan diadaptasi dari alat pemeras anggur, minyak, atau kertas untuk menekan permukaan cetak secara merata.

Menariknya, riset modern di awal tahun 2000-an menggunakan analisis berbantuan komputer terhadap hasil cetakan Gutenberg. Riset itu menemukan bahwa huruf-huruf sejenis, misalnya huruf "i", memiliki variasi bentuk yang terlalu banyak jika benar-benar dicetak dari cetakan matriks logam yang identik, sehingga sejumlah sejarawan menduga sistem punch-matrix baru muncul setelah Gutenberg wafat.

   

Alkitab, Mahakarya yang Mengubah Sejarah

Puncak karya Gutenberg adalah Alkitab berbahasa Latin yang kini dikenal sebagai Gutenberg Bible atau Alkitab 42 Baris. Karya tiga jilid ini diselesaikan sekitar tahun 1455 di Mainz, dengan enam penyusun huruf bekerja bersamaan pada tahap akhir produksinya.

Alkitab ini juga disebut Mazarin Bible, karena salinan pertama yang dicatat para bibliografer ditemukan di perpustakaan Kardinal Mazarin di Paris. Hingga kini, sekitar 40 salinan Alkitab tersebut masih ada dan tersebar di berbagai perpustakaan dunia, mulai dari Library of Congress AS hingga British Library.

Meski begitu, Alkitab Gutenberg bukanlah buku cetak movable type tertua di dunia secara global. Gelar itu dipegang oleh Jikji, kumpulan ajaran Buddha dari Korea yang dicetak 78 tahun lebih awal menggunakan huruf logam.

Konflik dengan Investor dan Akhir Hayatnya

Mengembangkan mesin cetak membutuhkan modal besar, dan pada 1450 Gutenberg berhasil meyakinkan finansir kaya bernama Johann Fust untuk meminjamkan 800 guilder. Peralatan cetaknya sendiri dijadikan jaminan atas pinjaman tersebut, dan dua tahun kemudian Fust kembali menanamkan 800 guilder sebagai bagian dari kemitraan usaha.

Hubungan keduanya lambat laun retak karena Fust menginginkan pengembalian modal yang cepat dan aman, sementara Gutenberg lebih mengutamakan kesempurnaan karya. Perselisihan ini akhirnya berujung ke meja hijau, dan pada 6 November 1455 Fust memenangkan gugatan hukum atas Gutenberg.

Sebagai konsekuensinya, Fust mengambil alih huruf cetak untuk Alkitab serta sebagian besar peralatan Gutenberg. Meski begitu, sejumlah sejarawan modern menilai Gutenberg tetap mampu mengoperasikan bengkel cetak lain hingga awal 1460-an, sebelum akhirnya wafat di Mainz pada 3 Februari 1468.

Warisan yang Mengubah Peradaban

Penemuan Gutenberg memicu apa yang oleh banyak sejarawan disebut sebagai revolusi informasi pertama di dunia. Buku yang tadinya barang langka dan mahal kini bisa diproduksi massal, membuka akses pengetahuan kepada kalangan yang jauh lebih luas.

Perubahan besar ini pun tak luput dari perlawanan pihak-pihak yang sebelumnya menguasai arus informasi. Mengutip laman IPA, tak lama setelah percetakan berkembang pesat, Paus Paulus IV pada 1559 menerbitkan Index Librorum Prohibitorum, daftar buku-buku terlarang bagi umat Katolik.

Sepanjang sejarah berikutnya, karya-karya penulis besar seperti Shakespeare, Victor Hugo, hingga Salman Rushdie pernah mengalami pelarangan atau pembakaran. Lebih dari lima setengah abad kemudian, jejak Gutenberg tetap hidup dalam jutaan buku, surat kabar, dan teknologi percetakan modern di seluruh dunia.

Sobat Medcom, itulah informasi mengenai siapa penemu mesin cetak beserta sejarahnya. Semoga informasi ini dapat menambah wawasan kamu, ya! (Talitha Islamey)

 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan