Misalnya, anak putus sekolah kini bisa lulus setara SMA dengan mengambil Paket C melalui PKBM. Yang menarik, kata Mu'ti, banyak anggota DPR lulus SMA melalui Paket C.
"Banyak anggota dewan yang juga lulusan Paket C," kata Mu'ti dalam Rapar Kerja dengan Komisi X DPR RI dikutip Senin, 26 Januari 2026.
Temuan itu didapatkan Mu'ti setelah mengunjungi salah satu PKBM di Majalengka, Jawa Barat. Ia mendapatkan informasi tak sedikit anggota DPR mengambil Paket C agar bisa mendapatkan ijazah setara SMA.
"Saya baru pulang dari Majelengka, ada PKBM (lulusannya) 300-an lebih. Ini (banyak lulusan yang jadi anggota DPR) cerita pengelolanya," beber Mu'ti.
Mu'ti menegaskan keberadaan PKBM sangat penting bahkan diperlukan akselerasi, baik di dalam maupun luar negeri. Dia menyebut PKBM telah menyelesaikan persoalan pendidikan seperti keterbatasan akses sekolah di luar negeri.
"Banyak anak-anak kita yang tidak hanya anak pekerja migran, ternyata anak diplomat juga ada banyak bermasalah yang terkait dengan pendidikan mereka. Sehingga kami berencana untuk nanti PKBM di luar negeri akan kita hidupkan lagi dengan skema seperti PKBM di Indonesia," ujar dia.
Selain itu, PKBM juga diperlukan untuk membantu siswa dengan kondisi tertentu. PKBM bukan hanya untuk siswa yang putus sekolah karena ekonomi saja.
"Tapi sebagian karena ada alasan kultural misalnya menikah di usia muda atau sebagian karena geografi dan sebagainya sehingga PKBM dalam bentuk program-program kesetaraan dan
kursus-kursus akan kami tingkatkan lagi," kata Mu'ti.
Untuk akselerasi PKBM, Mu'ti menjelaskan pihaknya memiliki direktorat khusus yang akan mengurusnya. Ia berharap PKBM memiliki peran maksimal di masyarakat.
"Tapi ini cara yang kami lakukan untuk angka putus sekolah bisa kita kurangi dan angka lama belajar juga dapat kita tingkatkan dengan PKBM," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News