Masyarakat menolak takut terhadap ancaman teroris dan radikalisme. Foto: MI/Susanto
Masyarakat menolak takut terhadap ancaman teroris dan radikalisme. Foto: MI/Susanto

22 Persen Mahasiswa Universitas Jember Terpapar Radikalisme

Pendidikan Radikalisme di Kampus
Antara • 21 November 2019 11:55
Jakarta: Sebanyak 22 persen mahasiswa Universitas Jember (Unej) terpapar radikalisme. Data tersebut berdasarkan laporan studi pemetaan gerakan radikalisme yang dilakukan Lembaga Pengembangan Pembelajaran danPenjaminan Mutu (LP3M)Unej pada 2018.
 
"Di Unej terdapat 22 persen yang terpapar radikalisme, diderivasi lagi menjadi radikalisme teologis yakni setuju dengan pengkafiran, qital, dan jihad yaitu sejumlah 25 persen, radikalisme
politis berupa kesetujuannya pada konsep negara Islam atau khilafah sejumlah 20 persen," kata
KetuaUniversitas Jember (Unej) Akhmad Taufiqsaat menjadi pembicara dalam pleno 4 Festival HAM yang dilaksanakan di Aula PB Sudirman Kantor Pemkab Jember, Jawa Timur, Rabu, 20 November 2019.
 
Menurutnya, hal harus menjadi perhatian bersama. Meskipun persentase tersebut belum dapat dinyatakan bahwa mereka telah melakukan tindakan kekerasan fisik, baik pada diri mereka sendiri, maupun pada orang lain.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Taufiq juga memberi tanggapan atas temuan riset yang dilakukan INFID Jakarta yang menyatakan adanya 10 perguruan tinggi negeri (PTN) yang terpapar radikalisme. Hal tersebut
ditunjukan dengan adanya aktivitas merakit bom, pelatihan militer, razia syariah, dan keterlibatan mahasiswa pada organisasi terlarang HTI.
 
Menurutnya, itumerupakan kondisi yang dapat dikatakan krusial dan akut. "Kondisi demikian itu hampir terjadi di seluruh PTN dengan frekuensi yang berbeda. Oleh karena itu, gerakan radikalisme itu sudah dapat dikategorikan terstruktur, sistematik, dan massif," tuturnya.
 
Untuk itu, Taufiq merekomendasikan beberapa hal, yakni pentingnya pendidikan multikultural
untuk mengembangkan sikap toleransi dan inklusivitas. "Kemudian rekomendasi kedua, keterlibatan semua pihak untuk mengatasi permasalahan radikalisme, mengatasi soal radikalisme tidaklah cukup hanya melibatkan struktur berbasis negara," ujarnya.
 
Rekomendasi ketiga yakni dalam tataran perguruan tinggi, pentingnya perhatian secara khusus dan komitmen kepemimpinan yang memiliki komitmen yang tegas, untuk tidak memberi ruang
bagi tumbuhnya gerakan radikalisme di kampus.
 
Dalam pleno 4 Festival HAM tersebut mengangkat tema yang amat menarik yakni "Strategi Pencegahan Intoleransi, Radikalisme, dan Kekerasan Ekstrimisme di Dunia Pendidikan dan Media Sosial yang dihadiri berbagai elemen masyarakat, pemuda, dan perwakilan dari beberapa negara.
 
Selain Akhmad Taufiq, pembicara yang lain yakni M. Zaki Mubarok (PPIM), Agus Muhammad (Peneliti INFID), Libasut Taqwa (Wahid Istitut), Ciciek Farha (Peneliti PVE), Tohari (AGPAII Jember), dan Budi Hartawan (BNPT).
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif