Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Ari Fahrial Syam, Medcom.id/Intan Yunelia.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Ari Fahrial Syam, Medcom.id/Intan Yunelia.

Penelitian Kedokteran Dituntut Manfaatkan Era 4.0

Pendidikan Revolusi Industri 4.0
Intan Yunelia • 09 September 2018 10:52
Jakarta: Penelitian di bidang kedokteran dituntut mengoptimalkan kehadiran era revolusi industri 4.0. Terlebih lagi, dunia kini tengah mempersiapkan era teknologi industri 5.0.
 
"Jangan sampai kita tidak memanfaatkan kesempatan ini secara optimal, termasuk di bidang penelitian, riset dan inovasi kedokteran," kataGuru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam, Profesor yang mendalami ilmu penyakit dalam ini, di FKUI, Jakarta Pusat, Sabtu 8 September 2018.
 
Era teknologi berubah begitu cepat dan pesat. Bahkan di dunia, kini tengah mempersiapkan era teknologi industri 5.0. "Di era teknologi industri, perubahan yang terjadi bukan dalam puluhan tahun tapi dalam beberapa bulan saja," terang Ari.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Perguruan tinggi di bidang kedokteran diminta melakukan terobosan penelitian dan inovasi dalam menghadapi teknologi industri 4.0. Lebih luas lagi, pendidikan tinggi harus lebih sigap untuk mengetahui perubahan yang tengah terjadi di masyarakat.
 
"Perguruan tinggi diminta menjawab tantangan kondisi disruptif ini," jelas Ari.
 
Baca: UI Menambah Dua Guru Besar Kedokteran
 
Di dalam era teknologi industri ada tiga hal yang menjadi kunci, yakni Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, big data, dan Internet of Things. Termasuk industri kesehatan, harus mencakup tiga sektor di atas.
 
"Untuk itu institusi pendidikan kedokteran juga harus mengantisipasi kebutuhan pasar akan kondisi ini," ujar Ari.
 
Berbagai pelayanan kesehatan global juga di dorong untuk memanfaatkan teknologi industri ini melalui kecerdasan buatan. Teknologi ini bisa merekam rekam medik dan gambaran tentang kondisi pasien. Kondisi medis pasien bisa diprediksi dan didiagnosis lebih cepat.
 
"Saat ini untuk menampung penelitian di bidang Al ini sudah ada jurnal internasional dengan nama Artificial Intelligence in Medicine," pungkasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif