Ilustrasi. Foto: MI/Adam Dwi
Ilustrasi. Foto: MI/Adam Dwi

ITS Siap Repot Awasi Jurnal Predator

Pendidikan Pendidikan Tinggi Publikasi Ilmiah
Ilham Pratama Putra • 03 Februari 2020 14:13
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengantongi ratusan jurnal ilmiah predator atau abal-abal. Mereka yang berada di balik jurnal predator ini kerap menipu dosen yang ingin mempublikasikan karya ilmiahnya.
 
Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Mochamad Ashari mengakui keberadaan jurnal predator tersebut. Untuk itu, pihaknya mengaku siap repot menumpas keberadaan jurnal predator tersebut.
 
"Kita sangat ketat (untuk menerbitkan jurnal internasional). Memang jadi repot, tapi untuk quality control ya fine-fine saja," kata Ashari kepada Medcom.id, Senin, 3 Februari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya memang selalu ada oknum yang memanfaatkan dosen maupun peneliti. Namun Ashari mengaku ITS telah menerapkan beberapa langkah agar peneliti di kampusnya aman saat menerbitkan jurnal internasional.
 
"Kita di ITS ada beberapa filter, pertama dari plagiasi, filter berikutnya untuk melihat itu tidak bodong atau abal-abal, kita cek dari komunikasinya, itu semua harus di-record. Mulai submit tanggal berapa, atau ada respons apa, atau langsung diterima," jelas Ashari.
 
Justru menurutnya, layak untuk dicurigai, jika penelitian begitu cepat diterima oleh jasa penerbitan jurnal. Dia bertekat langkah-langkah pengecekan akan terus dijaga, guna menghindari kecolongan.
 
Jurnal predator, kata Ashari, jelas merugikan dosen. Pasalnya dosen biasanya ditagih sejumlah uang untuk menerbitkan jurnal dengan iming-iming akan diluncurkan dalam rentang waktu satu minggu.
 
Sebelumnya,Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Plt. Dirjen Dikti) Kemendikbud, Nizam, mengatakan jurnal predator kerap menawarkan jasa penerbitan jurnal internasional. Nizam mengaku telah mengumpulkan sejumlah nama di balik jurnal predator tersebut.
 
"Ini ratusan jurnal yang abal-abal. Nah, kita membuat list. List jurnal-jurnal mana yang termasuk dalam kelompok jurnal predator," kata Nizam di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat 31 Januari 2020.
 
Untuk meluncurkan jurnal internasional yang resmi, tak ada biaya yang dipungut dari dosen. Selain itu, prosesnya berlangsung lebih lama.
 
"Bisa berbulan-bulan. Soalnya ada tahap verifikasi, review,dan lain-lain dulu kan," kata Nizam.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif