Sidang Tertutup Promosi Doktor Program Studi S3 Departemen Teknik Elektro ITS. DOK ITS
Sidang Tertutup Promosi Doktor Program Studi S3 Departemen Teknik Elektro ITS. DOK ITS

Ciptakan Sistem Diagnosis Stroke Otomatis, Andi Dapat Gelar Doktor dari ITS

Renatha Swasty • 04 Agustus 2022 17:30
Jakarta: Metode penanganan stroke yang berkembang saat ini, seperti CT Scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) membutuhkan waktu diagnosis cukup panjang dan hasil interpretasi tergantung pada subjektif penilaian ahli radiologi. Menghadapi tantangan tersebut, salah satu doktor dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Andi Kurniawan Nugroho, menginovasikan sistem diagnosis stroke otomatis berbasis pengolahan citra, sehingga proses lebih cepat dengan hasil akurat.
 
Stroke merupakan penyakit dengan tingkat mortalitas dan morbiditas tinggi sehingga diperlukan penanganan serius bagi penderitanya. Penanganan pasien stroke sangat bergantung pada hasil diagnosis dokter terkait.
 
Semakin cepat dan akurat hasil diagnosis, semakin baik pula penanganan yang dapat diberikan kepada penderita. “Dengan diagnosis yang tepat maka penanganan akan lebih cepat, terapi dan dosis lebih tepat, serta biaya pengobatan yang lebih kecil,” kata Andi dalam keterangan tertulis, Kamis, 4 Agustus 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Andi memaparkan stroke diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Stroke berjenis iskemik merupakan jenis stroke yang disebabkan karena adanya penyumbatan pada otak.
 
Penyumbatan ini mampu menimbulkan pecahnya salah satu arteri dalam otak. Sehingga, menyebabkan pendarahan dan berujung pada stroke berjenis hemoragik.
 
“Jenis stroke yang berbeda ini membutuhkan penanganan yang berbeda,” papar Andi.
 
Andi membuat disertasinya bertajuk Klasifikasi Stroke Otak Pada Citra Diffusion Weighted Magnetic Resonance Imaging (DW-MRI) Menggunakan Convolutional Neural Network (CNN). Andi mampu menciptakan desain sistem yang mampu mengklasifikasikan jenis stroke dengan akurasi mencapai 97 persen.
 
“Berbasis pengolahan citra, sistem ini mampu membedakan jenis stroke iskemik dan stroke hemoragik dengan durasi yang lebih singkat,” ujar doktor ITS yang telah menyelesaikan Sidang Tertutup Promosi Doktor Program Studi S3 Departemen Teknik Elektro ITS pada 2 Agustus 2022 itu.
 
Andi menuturkan sistem ini juga mampu mengklasifikasikan tingkatan stroke iskemik menjadi tiga tingkatan. Yaitu tahap akut, subakut, dan kronik.
 
“Tingkatan ini sangat berpengaruh pada pemberian dosis obat kepada pasien nantinya,” ujar dia.
 
Disertasi yang mendapat bimbingan langsung dari mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto ini didukung data valid. Seluruh data penelitian merupakan data primer yang didapatkan langsung dari salah satu rumah sakit di Indonesia yang menangani pasien penderita stroke.
 
“Seluruh data yang diperoleh telah mendapat persetujuan dari komite etik dan identitas pasien dirahasiakan,” tutur dia.
 
Dosen Departemen Teknik Elektro Universitas Semarang (USM) ini berharap sistem pemodelan tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut dan diimplementasikan di dunia Kesehatan. “Harapannya, penelitian ini mampu bermanfaat bagi masyarakat luas dan mampu berkontribusi dalam peningkatkan kualitas pengobatan di Indonesia,” kata Andi.
 
Baca juga: Kembangkan Radar Jarak Jauh dengan Biaya Murah, Devy Lulus Program Doktor ITS

 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif