Ilustrasi puasa. Foto: Unplash/Cemrecan Yurtman
Ilustrasi puasa. Foto: Unplash/Cemrecan Yurtman

Niat Puasa Qadha untuk Melunasi Hutang Puasa Ramadan

Muhammad Syahrul Ramadhan • 26 Maret 2026 18:18
Ringkasnya gini..
  • Mengganti puasa Ramadan yang ditinggalkan karena alasan syar'i adalah kewajiban bagi setiap muslim.
  • Mengganti hutang puasa Ramadan bukan sekadar melunasi kewajiban fisik, melainkan bentuk ketaatan seorang hamba atas perintah Allah SWT.
  • Meng-qadha puasa tidak harus dilakukan segera setelah Ramadan berakhir, melainkan boleh ditunda hingga bulan-bulan berikutnya.
Jakarta: Mengganti puasa Ramadan yang ditinggalkan karena alasan syar'i (seperti sakit, perjalanan jauh, atau haid) adalah kewajiban bagi setiap muslim. Kewajiban ini harus ditunaikan sebelum datangnya bulan Ramadan berikutnya. 
 
Agar ibadah pengganti ini sah dan sempurna, pemahaman mengenai niat dan tata caranya menjadi sangat krusial.

Puasa Qadha Ramadan


Kewajiban meng-qadha puasa didasarkan langsung pada firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 184:
 
"Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain."

Ayat ini menegaskan bahwa jumlah hari yang ditinggalkan harus diganti sama persis di hari-hari lain di luar bulan Ramadan.
 
Selain merujuk pada Al-Qur'an, kewajiban serta kelonggaran waktu pelaksanaan puasa Qadha juga ditegaskan melalui riwayat para sahabat. Salah satu rujukan utama adalah hadis dari Siti Aisyah RA:
 
“Aku pernah memiliki utang puasa Ramadan, maka aku tidak meng-qadhanya kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lafal Niat Puasa Qadha


Niat merupakan rukun utama dalam berpuasa. Berbeda dengan puasa sunnah yang niatnya boleh dilakukan setelah fajar (jika belum makan/minum), niat puasa Qadha sebagai puasa wajib harus dilakukan pada malam hari (tabyit).
 
Berikut adalah bacaan niatnya:
 
 نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
 
Nawaitu shauma ghadin 'an qadhā'i fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta'âlâ.
 
Artinya: "Aku berniat meng-qadha puasa fardu bulan Ramadan esok hari karena Allah Ta'ala."
 
Meng-qadha puasa tidak harus dilakukan segera setelah Ramadan berakhir, melainkan boleh ditunda hingga bulan-bulan berikutnya. Meskipun fleksibel, utang puasa wajib diselesaikan sebelum memasuki bulan Ramadan tahun berikutnya. Bulan Sya'ban menjadi batas akhir bagi mereka yang masih memiliki tanggungan.
 
Mengganti hutang puasa Ramadan bukan sekadar melunasi kewajiban fisik, melainkan bentuk ketaatan seorang hamba atas perintah Allah SWT. Dengan bersandarkan pada dalil Al-Qur'an dan Sunnah, mari kita segera menuntaskan tanggungan puasa sebelum fajar Ramadan berikutnya menyingsing. Semoga niat yang tulus dan ikhtiar kita dalam menjalankan qadha ini diterima sebagai pemberat timbangan amal kebaikan di akhirat kelak.
 
(Fany Wirda Putri)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan