Toni mengatakan TKA dirancang sebagai instrumen evaluasi, bukan sekadar penilaian hasil akhir. Ia menilai seluruh pihak perlu melihat hasil tersebut sebagai pijakan untuk langkah strategis berikutnya.
“Ya sebetulnya TKA ini kan untuk perbaikan kualitas pembelajaran ya. Bukan hanya sekolah, pemerintah daerah maupun kementerian juga harus punya strategi yang lebih bisa mengakselerasi kualitas dengan hasil existing yang sekarang,” kata Toni usai meninjau pelaksanaan TKA di SDN Rawabuntu 03, Serpong, Tangerang Selatan, Senin, 20 April 2026
Dia menegaskan hasil TKA yang telah diperoleh di berbagai jenjang pendidikan harus disyukuri sebagai data awal. Dengan begitu, pemerintah dapat merumuskan kebijakan berbasis kondisi nyata di lapangan.
“Jadi kita sangat bersyukur ketika sudah mempunyai hasil TKA semuanya ya di seluruh jenjang apa yang harus kita lakukan,” ujar dia.
Toni mengatakan perhatian publik sebaiknya tidak hanya terfokus pada polemik pelaksanaan TKA. Ia mendorong adanya pergeseran diskursus ke arah solusi konkret dalam meningkatkan mutu pendidikan.
“Jadi lebih baik juga media itu menyampaikan apa yang harus kita lakukan ke depan, jadi tidak terpaku pada isu-isu yang terkait dengan pelaksanaan TKA,” ucap dia.
Dia menyebut perbaikan kualitas pendidikan harus menjadi agenda utama semua pihak. Pemerintah pusat dan daerah dinilai memiliki peran besar dalam mendorong peningkatan mutu lulusan.
“Lebih baik kita geser isunya ke bagaimana the next step untuk perbaikan kualitas,” tutur Toni.
Toni mengakui kualitas pembelajaran saat ini masih menjadi pekerjaan rumah besar. Hasil TKA dinilai sejalan dengan berbagai indikator lain yang menunjukkan tantangan serupa.
“Karena memang existing-nya ya kalau kita bandingkan dengan hasil-hasil lain itu mirip. Jadi memang kita punya PR besar untuk peningkatan kualitas ini,” ujar dia.
Toni berharap media turut berperan mengedukasi publik terkait langkah-langkah strategis yang perlu diambil. Ia menilai pemberitaan konstruktif dapat mendorong percepatan perbaikan sistem pendidikan.
“Dan kami berharap media juga bisa membantu agar pergeseran isunya bagaimana harus dilakukan oleh pemerintah daerah, pemerintah pusat untuk menaikkan kualitas lulusan kita, kualitas pembelajaran kita,” ujar dia.
Sebelumnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti membocorkan hasil awal TKA SMP 2026. Ia mengungkapkan kemampuan siswa SMP Indonesia masih rendah.
Mu'ti menjelaskan hasil TKA SMP sementara ini tak jauh beda dengan TKA SMA 2025. Hasil TKA SMA 2025 disorot karena memiliki nilai yang rendah.
“Hasilnya sudah kita ketahui dan tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Tidak jauh berbeda dengan hasil tes SMA,” ujar Mu’ti di Jakarta, Kamis, 9 April 2026.
Hal ini menunjukkan peta masalah pembelajaran yang bersifat sistemik. Persoalan terjadi sejak pendidikan dasar. “Maka fokus kita harus dimulai dari fondasi di sekolah dasar,” ujar dia.
Nilai TKA 2025 milik siswa kelas 12 SMA jeblok. Dalam data hasil TKA yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ditemukan nilai-nilai yang tidak memuaskan.
Capaian siswa pada mata pelajaran wajib paling disorot. Rerata nilai secara nasional pada mapel wajib tak ada yang menembus angka 60 dari skala 0-100.
Rerata nilai mapel wajib seperti Bahasa Indonesia dalam TKA 2025 secara nasional adalah 55,38. Sedangkan Matematika adalah 36,10. Terendah adalah mapel Bahasa Inggris dengan rerata nilai siswa secara nasional adalah 24,93.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News