Jumari (kanan) yang bekerja sebagai pengangkut sampah bersama Alyza Firdaus Nabila (kedua dari kanan) yang berhasil masuk UGM melalui jalur SNMPTN, UGM/Humas.
Jumari (kanan) yang bekerja sebagai pengangkut sampah bersama Alyza Firdaus Nabila (kedua dari kanan) yang berhasil masuk UGM melalui jalur SNMPTN, UGM/Humas.

Anak Tukang Sampah Lolos Masuk UGM Tanpa Tes

Pendidikan Prestasi Pelajar SNMPTN/SBMPTN 2019
Intan Yunelia • 15 Mei 2019 17:13
Jakarta: Berprofesi sebagai tukang sampah dengan penghasilan pas-pasan, Jumari, 58, tak pernah menyangka bisa menguliahkan bungsunya sampai jenjang perguruan tinggi, terlebih lagi masuk ke salah satu kampus favorit Universitas Gadjah Mada (UGM). Alyza Firdaus Nabila, putrinya, berhasil lolos di Fakultas Kehutanan UGM melalui jalur undangan.
 
“Sangat bangga dan bersyukur, anak kami Lyza bisa diterima kuliah di UGM. Ini menjadi kebahagiaan tertinggi bagi keluarga kami,” kata Jumari, dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu, 15 Mei 2019.
 
Rasa syukur tak berhenti terucap dari mulutnya. Ia mengingat penuh perjuangan membesarkan anak-anaknya, di tengah impitan ekonomi yang serba pas-pasan. Ia mengaku, ingat betul bagaimana berada dalam situasi terendah dalam hidup.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bahkan, anak pertamanya terpaksa putus sekolah saat di bangku SMA, karena tidak mampu membayar uang sekolah. Ia bersyukur anak bungsunya bisa menikmati sekolah hingga pendidikan tinggi.
 
Anak Tukang Sampah Lolos Masuk UGM Tanpa Tes
Jumari, pengangkut sampah yang putrinya berhasil masuk UGM melalui jalur undangan, UGM/Humas.
 
Dari pekerjaannya sebagai pengangkut sampah dan usaha cuci pakaian yang dijalankan istrinya sebenarnya hanya mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Itu pun hanya untuk kebutuhan makan.
 
“Rata-rata per bulan dari angkut sampah dan usaha cucian sekitar Rp1,5 juta untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” sebut Jamari.
 
Jamari melihat ada yang berbeda dari anak bungsunya. Di tengah keterbatasan, Lyza tetap bisa berprestasi akademis yang baik. Dia yakin sang anak nantinya dapat memperoleh pendidikan yang layak.
 
“Benar-benar tidak membayangkan akhirnya Lyza bisa diterima kuliah di UGM,” tuturnya.
 
Baca:Tinggal di Panti Asuhan, Nurnajimah Mampu Raih 100 di UNBK
 
Jumari, istri, dan dua anaknya tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil seluas 46 meter persegi, di Dusun Ngablak, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Di rumah itulah Lyza sehari-hari belajar hanya bermodalkan meja lipat yang dipenuhi tambalan isolasi di pinggirnya.
 
Usaha tak mengkhianati hasil. Sejak kecil Lyza memang bertekad ingin masuk perguruan tinggi. Keadaan ekonomi keluarganya bukan penghalang. Hasilnya dia selalu menduduki ranking dua besar di bangku SD dan SMP, sementara di SMA Lyza selalu meraih peringkat pertama.
 
Dari berbagai prestasinya itu, dia berhasil masuk UGM tanpa tes, lewat jalur undangan atau jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Saat ini ia mengajukan beasiswa Bidikmisi, agar mendapat keringanan biaya pendidikan selama kuliah nantinya.
 
“Saya hanya terus belajar, berusaha dan berdoa. Jika ada kemauan pasti ada jalannya dan alhamdulillah akhirnya bisa diterima di UGM,” jelas alumnus SMA 1 Sewon Bantul ini.
 
Ia yakin dengan pendidikan, bisa meningkatkan taraf derajat keluarganya. Cita-citanya mulia, ingin memberangkatkan orangtuanya untuk naik haji ke Tanah Suci.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif