Diskusi dan Peluncuran Indeks Alibaca Tingkat Provinsi di Perpustakaan Kemendikbud, Medcom.id/Intan Yunelia.
Diskusi dan Peluncuran Indeks Alibaca Tingkat Provinsi di Perpustakaan Kemendikbud, Medcom.id/Intan Yunelia.

Remaja Jarang Gunakan Gawai untuk Urusan Pendidikan

Pendidikan kemampuan literasi
Intan Yunelia • 17 Mei 2019 13:19
Jakarta: Pemanfaatan gawai di kalangan remaja anak usia sekolah 13-18 tahun cukup tinggi. Namun sayangnya, sebagian besar pemanfaatan gawai hanya sebatas sarana komunikasi dan media sosial, masih minim dieksplorasi sebagai sarana edukasi.
 
Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan (Puslitjakdikbud) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Indah Pratiwi mengatakan, dari data Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII) di tahun 2018 kemarin mengungkapkan, penggunaan gawai di kalangan remaja meningkat. Sebanyak 74 persen di antaranya aktif menggunakan internet.
 
“Dalam lima tahun terakhir peningkatan pengguna internet itu sudah 74 persen. Mereka sebanyak 83 persen itu menggunakan Handphone (HP) dan pemanfaatannya edukasi hanya 19,1 persen,” kata Indah dalam Diskusi dan Peluncuran Indeks Alibaca Tingkat Provinsi di Perpustakaan Kemendikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat, 17 Mei 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penggunaan gawai di kalangan remaja hanya sekadar sebagai sarana hiburan dan akses ke media sosial. Hal ini yang bisa berbahaya, karena berpotensi mereka menangkap mentah-mentah informasi yang didapat.
 
“Perangkat elektronik yang paling banyak digunakan dalam mengakses informasi itu 95,5 persen adalah HP. HP ini kemudian hanya membuka medsos, artinya informasi yang didapat hanya dari Whatsapp grup, Facebook dan lainnya,” terang Indah.
 
Baca:Ratusan Pendidik Dilatih Literasi Baca Tulis Nasional
 
Dari durasi waktu penggunaan gawai, kalangan remaja menggunakan gawai di atas lima jam per hari. Hanya sebanyak 31,9 persen yang menggunakan gawai di bawah lima jam.
 
“Di atas lima jam ini menurut beberapa ahli sudah termasuk dalam potensi kecanduan. Itu sangat berbahaya,” paparnya.
 
Penggunaan gawai yang berlebihan akan berdampak terhadap psikologis dan kepribadian anak didik. Anak bisa asosial dengan sekitarnya, terutama saat mereka berada di rumah.
 
“Sebanyak 91,7 persen anak remaja menggunakan gawai di rumah,” tuturnya.
 
Ia menekankan bahwa perlu peran lebih dari orangtua dalam mengawasi pemakaian gawai bagi anak. Kemampuan kognitif cara berpikir anak akan berpengaruh pada penggunaan gawai yang berlebihan.
 
“Ini menunjukkan bahwa tanggung jawab penggunaan gawai itu tidak hanya diberikan kepada sekolah, tapi juga kepada orangtua di rumah . Perlu dicatat bahwa orangtua sebelum memberikan gawai kepada anak agar mengetahui dampak positif dan negatifnya,” pungkasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif