Mahasiswa KKN UGM di depan instalasi penjernihan air di desa Rasau Jaya. Medcom.id/Patricia Vicka.
Mahasiswa KKN UGM di depan instalasi penjernihan air di desa Rasau Jaya. Medcom.id/Patricia Vicka.

Mahasiswa UGM Bangun Instalasi Penjernih Air Bermodal Rp15 ribu

Patricia Vicka • 29 Juli 2019 03:10
Kubu Raya: Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tengah mengikuti Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pengabdian Masyarakat (KKN PPM) membangun instalasi penjernih air berbiaya ekonomis. Instalasi ini dibangun untuk membantu masyarakat di Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat dalam mendapatkan air bersih.
 
Salah seorang mahasiswi KKN di desa Rasau Jaya, Neisa Ismi menjelaskan pembangunan instalasi penjernihan air merupakan salah satu solusi yang ditawarkan mahasiswa atas permasalahan air di Kecamatan ini.  Instalasi air ini dibangun di Puskesmas Rasau Jaya satu, Kecamatan Rasau Jaya.
 
Wilayah ini merupakan kawasan transmigrasi yang selama ini kesulitan air bersih. Air sungai di lokasi ini pun berwarna merah kecoklatan dan mengandung bakteri Escherichia coli (E. coli

Dalam kesehariannya, warga biasa menggunakan air hujan untuk mencuci, dan Mandi Cuci Kakus (MCK).  Namun saat musim kemarau tiba, mereka kesulitan air dan terpaksa  menggunakan air sungai untuk kegiatan MCK.
 
"Padahal kadar TSS (total suspended solid) air di sini 232 mg/L dan pH yang mencapai angka 3-4, atau Kurang bersih," kata Neisa di Puskesmas Desa Rasau Raya, Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat, Sabtu, 27 juli 2019.
 
Neisa menjelaskan, instalasi penjernihan air ini dibuat menggunakan material yang terjangkau dan mudah diperoleh. Bahan-bahan yang dibutuhkan, di antaranya pipa air, nano filter, tandon air, pompa air dan bahan-bahan kimia seperti PH UP dan PAC.
 
"Biaya yang kami keluarkan untuk membuat instalasi ini sekitar Rp15 ribu. Biaya itu untuk membeli nano filter. Kalau tandon, pompa dan pipa air menggunakam milik masyarakat," jelas mahasiswi Teknik Kimia UGM ini.
 
Proses kerja alat ini pun mudah. Awalnya air sungai dipompa dan dialirkan melewati klorin yang berfungsi untuk membunuh bakteri.
 
Baca:  Monitor Gunung Api, UGM Kembangkan Drone Amfibi
 
Air tersebut ditampung di tandon untuk mengalami proses koagulasi dengan penambahan PH up dan PAC. Kemudian air diendapkan sekitar satu hingga dua jam.  Air yang telah jernih kemudian difilter dan masuk ke tangki penyimpanan. Proses filter bertujuan untuk menghilangkan sisa material dan sisa padatan.
 
"Sekali proses penjernihan memakan waktu satu hingga dua jam dan dapat menghasilkan sekitar 500 liter air. Jumlah tersebut cukup untuk kebutuhan air bersih puskesmas satu hari," jelasnya.
 
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) mahasiswa KKN, Agus Setiawan menambahkan berkat adanya instalasi tersebut, kadar TSS dalam air menurun menjadi 68 mg/L dengan pH 6-6,5. Sehingga lebih layak digunakan untuk aktivitas mandi, cuci, dan kakus.
 
“Harapan kami setelah KKN selesai warga dapat membuatnya sendiri. karena pembuatan alat penjernih ini mudah direplikasi, ekonomis dan bahannya mudah didapat,” jelasnya.
 
Kepala Puskesmas Rasau Jaya, Supratman mengatakan, keberadaan instalasi ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Ia berterima kasih kepada mahasiswa KKN UGM atas terciptanya alat ini.
 
"Dengan penjernihan air, bisa mengurangi bahaya dari bakteri E. coli yang terkandung di air sungai,"katanya.
 
Ia berharap masyarakat mau membangun instalasi ini di lokasi lain. Sehingga kebersihan dan kesehatan masyarakat lebih terjaga.
 
Kegiatan KKN menjadi bagian dari program kerja sama antara UGM dengan Kemendes PDTT. KKN di Kabupaten Kubu Raya dimulai pada 2018 silam untuk jangka waktu tiga tahun. UGM mengirim 27 mahasiswa KKN ke Desa Rasau Jaya satu dan Rasau Jaya tiga.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan