Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau Drone karya Tim Peneliti UGM untuk pengawasan gunung berapi. UGM/Humas.
Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau Drone karya Tim Peneliti UGM untuk pengawasan gunung berapi. UGM/Humas.

Monitor Gunung Api, UGM Kembangkan Drone Amfibi

Muhammad Syahrul Ramadhan • 17 Juli 2019 11:58
Jakarta:  Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau Drone. Drone berjenis fixed wings yang diberi nama Amphibi Gama V2 ini, memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat di atas permukaan air.
 
“Pesawat ini mengemban tugas sebagai sistem monitoring dan memetakan kondisi gunung berapi aktif di Indonesia untuk mendukung kesiapsiagaan tanggap bencana,” kata Ketua tim pengembang Amphibi Gama V2, Tri Kuntoro Priyambodo dalam siaran pers, Jakarta, 17 Juli 2019.
 
Tri Kuntoro mengungkapkan bahwa Amphibi Gama V2 merupakan drone amfibi generasi kedua dari pengembangan Gama UX 628. Ide untuk membuat pesawat ini berawal saat timnya kesulitan mencari area yang datar dan cukup panjang saat akan take off dan landing, ketika melakukan pemotretan udara untuk menganalisis potensi dan risiko bahaya banjir di wilayah Tanjung Selor Kalimantan Utara. 

“Peluang yang ada adalah memanfaatkan genangan air sehingga munculah pemikiran kalau pesawat UAV yang digunakan harus mampu tinggal landas dan landing di  air,”ungkap dosen FMIPA UGM ini.
 
Baca:  UGM Kampus Terbaik Versi Webometric
 
Dengan kemampuan ini UAV Amphibi menjadi luwes untuk monitoring berbagai jenis bencana. Selain itu, Drone ini memiliki kemampuan terbang selama kurang lebih 40 menit untuk jangkauan jelajah 40 kilometer dan ketinggian jelajah maksimal 1.200 meter.  Amphibi Gama V2 juga mempunyai kecepatan maksimal pesawat 25 meter per detik, kecepatan jelajah pesawat 13 meter per detik serta kecepatan minimal 8 meter per detik.
 
Amphibi Gama V2 memiliki panjang 1.350 mm dengan bentang sayap 2.000 mm. Adapun bodi pesawat dibuat menggunakan bahan material komposit.  Drone ini memiliki kapasitas daya baterai  LiPo 11.000 mAh. Sedangkan untuk kapasitas muatan 1,5 Kg dan beban muatan maksimal untuk take off 6 Kg.
 
“Pesawat ini juga dilengkapi dengan sensor akselerometer, sensor gyroscope, sensor barometer, sensor air speed, serta sistem navigasi GPS” ungkapnya.
 
Untuk sistem penggerak menggunakan motor brushless dan kendali dengan motor servo. Pesawat juga dilengkapi dengan mikroprosesor, kontrol manual berupa kendali jarak jauh 2.4 Mhz, dan komunikasi telemetri 433 Mhz.
 
“Kita tambahkan sistem autopilot di dalamnya sehingga mampu terbang secara mandiri untuk monitoring maupun memetakan lingkungan sekitar gunung berapi,” terangnya.
 
Amphibi Gama V2 dikembangkan Tri Kuntoro bersama dengan sejumlah peneliti di FMIPA UGM. Yakni Oktaf Agni Dhewa, Nur Achmad Sulistyo Putro, Ardi Puspa Kartika,Faisal Fajri Rahani, Prasetya Aditama, serta Faris Yusuf Baktiar.
 
Selain Amphibi Gama V2, sebelumnya telah dihasilkan sejumlah produk UAV tipe flying wing yaitu UAV Gama Tipe UX 328, UAV Gama Tipe UX 528,  UAV Gama Tipe UX 628 dan tipe fixed wing yakni UAV Amphibi Gama V1.
 
“Untuk mendukung berbagai macam keperluan dan misi serta medannya, kami terus mengembangkan material pembuat badan dan sayap pesawat,”pungkasnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan