Lokakarya Pendidikan Etika. DOK Kemendikbud
Lokakarya Pendidikan Etika. DOK Kemendikbud

Bangun Masyarakat Global Damai dan Inklusif Lewat Lokakarya Pendidikan Etika

Renatha Swasty • 04 Oktober 2022 13:43
Jakarta: Arigatou International bekerja sama dengan Guerrand-Hermès Foundation for Peace, Global Humanity for Peace Institute, the Higher Committee for Human Fraternity, King Abdullah Bin Abdulaziz International Dialogue Centre (KAICIID), UNESCO Regional Office for Eastern Africa dan UNESCO New Delhi Cluster Office menyelenggarakan Lokakarya Regional Pendidikan Etika di Yogyakarta pada 2-9 Oktober 2022. Sebanyak 28 peserta penerima Program Arigatou Fellowship mengikuti program ini.
 
Keenam negara penerima program, yaitu Bangladesh, Nepal, Mauritus, Kenya, Seycheles, dan Indonesia. Lokakarya mengundang 10 trainer dari delapan negara, yaitu Italia, Colombia, Nigeria, Amerika Serikat, Inggris, Austria, Kenya, dan Indonesia.
 
Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Nunuk Suryani, menyambut hangat kedatangan peserta Lokakarya Regional Program Arigatou Fellowship Pendidikan Etika.
 
“Atas nama Kemendikbudristek saya mengucapkan selamat datang kepada semuanya. Saya senang melihat Bapak/Ibu dari berbagai negara hadir di Indonesia untuk melaksanakan lokakarya ini,” ujar Nunuk dalam keterangan tertulis, Selasa, 4 Oktober 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nunuk menyampaikan program kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari Simposium Pendidikan Global yang terselenggara pada 22-23 November 2021. Tujuan dari program ini untuk membangun masyarakat global yang damai dan inklusif.
 
“Melalui program ini, kita bersama-sama merancang dan menciptakan platform berbagi dan membangun kapasitas di lembaga pendidikan formal bagi kalangan pendidik untuk memperkuat dan mengembangkan pelaksanaan kegiatan pendidikan etika yang berkelanjutan di negara-negara peserta,” ujar Nunuk.
 
Sebelumnya, Arigatou International Geneva dan Indonesia National Commission for UNESCO telah mengimplementasikan program pembelajaran hidup bersama (Learning Live Together) sebagai pilot project di Indonesia. Program ini telah memberikan pelatihan kepada hampir 1.000 siswa di 30 sekolah dan pelatihan guru di tingkat prasekolah, dasar dan menengah, serta telah menerjemahkan buku panduan Learning Live Together ke dalam bahasa Indonesia.
 
Nunuk berharap melalui program ini pelajar mampu membangun rasa kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama dan keluarga, meningkatkan rasa hormat dan empati, serta mengubah pola pikir pelajar menjadi agen perubahan.
 
“Program ini sejalan dengan implementasi Kurikulum Merdeka yaitu mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang merupakan ciri karakter pelajar Indonesia. Di mana pelajar Indonesia merupakan pembelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global, berkarakter, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila,” ujar Nunuk.
 
Sementara itu, Ketua Eksekutif Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Itje Chodidjah, menyampaikan peran penting peserta Program Arigatou Fellowship Pendidikan Etika pada kegiatan lokakarya ini. “Kita semua di sini sedang berupaya membuat kehidupan anak-anak kita lebih baik, menjadikan dunia tempat yang lebih baik bagi kita semua, tanpa memandang ras, agama, bahasa, dan latar belakang penting lainnya,” tutur dia.
 
Itje berharap melalui kegiatan ini peserta dapat berkontribusi memperkuat implementasi pendidikan etika dan karakter melalui pendekatan pedagogis transformatif yang dapat membantu memajukan pendidikan kewarganegaraan global. “Pada akhirnya berkontribusi untuk mencapai masyarakat yang lebih damai dan inklusif. Untuk mencapai SDGs UNESCO bukan hanya SDG 4.0,” ucap dia.
 
Itje juga menyampaikan peran serta Indonesia dalam program ini, yakni berbagi praktik transformasi pendidikan karakter di Indonesia. Sehingga, mengarah pada integrasi falsafah negara yaitu Pancasila yang secara resmi masuk dalam kurikulum satuan pendidikan.
 
“Pelajari lebih lanjut bagaimana mengintegrasikan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila dalam proses belajar mengajar yang terintegrasi dalam kurikulum. Untuk memastikan bahwa penguatan karakter mewarnai proses belajar mengajar,” ungkap Itje.
 
Kemendikbudristek saat ini tengah melakukan transformasi pendidikan Indonesia melalui kebijakan Merdeka Belajar. Capaian yang diharapkan dari kebijakan ini adalah terbentuknya Profil Pelajar Pancasila yang memiliki enam kompetensi, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; berkebinekaan global sebagai kompetensi antarbudaya dalam konteks global; gotong royong; kreatif; berpikir kritis; dan mandiri.
 
“Tantangannya adalah bagaimana merancang kurikulum kita untuk memberi ruang dialog dan keterlibatan serta mengubah pola pikir kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan,” ujar Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek, Anindito Aditomo.
 
Direktur Guru Pendidikan Dasar, Rachmadi Widdiharto, meyakini lokakarya ini akan menjadi kesempatan berharga bagi seluruh peserta. Khususnya dalam berbagi pengalaman tentang pentingnya rasa kebersamaan, rasa hormat, serta empati lintas perbedaan.
 
“Program Fellowship ini diharapkan mampu mengubah pola pikir kita menjadi agen perubahan, sehingga semangat, nilai-nilai dalam pendidikan etika, dapat disebarkan kepada guru-guru lainnya di negara Anda, dan menjadi inspirasi bagi siswa-siswi kita, dan pada akhirnya kita akan menciptakan perdamaian dunia,” tutur Rachmadi.
 
Rachmadi juga mengucapkan terima kasih kepada mitra Program Arigatou Fellowship yang telah mempercayakan Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan lokakarya pendidikan etika. “Saya berharap Anda dapat menikmati kota Yogyakarta dengan budaya, seni, candi bersejarah, tarian, dan kulinernya yang juga akan menjadi bagian dari perjalanan Anda di Indonesia,” ujar dia.
 
Indonesia mengirimkan empat peserta yang merupakan Guru Penggerak dari sekolah yang telah melaksanakan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Setelah pelatihan ini, setiap peserta akan melatih minimal 30 guru di sekitarnya.
 
Salah satu peserta dari Indonesia, Alia Nilawati, yang merupakan guru penggerak di TK Azahrah, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan menyebut ia memperkenalkan kepada negara lain soal program pendidikan etika di Indonesia.
 
“Kami akan menyampaikan proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila. Kami akan memberikan informasi bahwa di Indonesia, kami menggunakan falsafah Pancasila yang diintegrasikan ke dalam pembelajaran kita, yang dinamakan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila,” jelas dia.
 
Alia berharap dengan mengikuti program ini akan mendapatkan pengetahuan lebih dari negara-negara lain tentang pendidikan etika. “Saya berharap dapat ilmu baru tentang pendidikan etika dari negara lain yang bisa kami sampaikan ke guru-guru lain nantinya,” ucap Alia.
 
Baca juga: Enam Nilai Profil Pelajar Pancasila Jadi Bekal Meraih Cita-cita

 
(REN)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif