"Banyak hal yang harus betul-betul diperbaiki dalam konteks ancaman kesehatan mental peserta didik yang semakin serius dengan meningkatnya kasus perundungan di tanah air," kata Rerie, sapaan karib Lestari Moerdijat, saat membuka diskusi daring bertema Membangun Persahabatan Sehat, Mencegah Bullying di Sekolah dalam Forum Diskusi Denpasar 12 (FDD12), Rabu, 19 November 2025.
Rerie mengatakan upaya pencegahan dan penanggulangan perundungan harus melibatkan semua pihak terkait. Dia menyebut menciptakan ruang aman jangan hanya dibebankan pada tenaga pendidik, tetapi juga orang tua, dan para pengambil kebijakan.
Kebijakan pencegahan dan penanggulangan perundungan juga harus dipertegas dalam pelaksanannya. Anggota Komisi X DPR RI itu berharap ada payung hukum yang jelas dengan mempertegas aturan-aturan pelaksanaannya sehingga peraturan yang ada dapat dipahami dan diterapkan dengan tepat.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menegaskan kasus perundungan yang sebagian besar terjadi di lingkungan pendidikan dasar dan menengah harus mendapatkan perhatian serius semua pihak. Ancaman perundungan terhadap peserta didik yang merupakan generasi penerus berpotensi mengancam masa depan bangsa.
Ketua Tim Kerja Peserta Didik Direktorat SMA Ditjen PAUD Dikdasmen Kemendikdasmen RI, Asep Sukmayadi, mengungkapkan lingkungan anak-anak saat ini menghadapi berbagai macam isu. Menurut Asep, saat ini harus diwaspadai berbagai ancaman terhadap anak di ranah daring seperti judi online dan kecanduan gawai.
"Kondisi ini harus juga menjadi tanggung jawab keluarga, orang tua, dan masyarakat," ujar Asep.
Asep menyebut pemerintah fokus pada pelaksanaan Asta Cita ke 4 yaitu bertujuan menciptakan SDM unggul dan berdaya saing, serta memastikan adanya kesetaraan dalam pengembangan diri dan kesempatan.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah gerakan untuk menerapkan 7 kebiasaan anak Indonesia hebat, yaitu bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.
Kebiasaan itu bertujuan membentuk anak yang sehat fisik, mental, dan spiritual, cerdas, kreatif, serta peduli sosial. Asep mengatakan sejumlah langkah itu merupakan bagian dari upaya membangun budaya belajar aman, nyaman, dan gembira, dalam keseharian.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Komaruddin Hidayat mengungkapkan praktik baik pencegahan perundungan di lingkungan sekolah Madania yang dikelolanya. Menurutnya, penting untuk menerapkan pengelolaan sekolah yang inklusif, siswa menerima perbedaan, dan menghargai orang.
Dia mengatakan peserta didik harus dipersiapkan mentalnya untuk menerima mereka yang berkebutuhan khusus. Langkah ini melatih para peserta didik untuk berempati.
Selain itu, setiap guru dilatih sebagai conselor. Sehingga, para guru tidak boleh membenci dan merendahkan anak didik, serta berempati pada peserta didik.
Baca Juga :
Pencegahan Bullying di Sekolah Tak Cukup dengan Sosialisasi Antikekerasan, Begini Caranya
Jadi, guru itu tidak hanya diharapkan mampu menanamkan kemampuan kognitif, tetapi juga afektif peserta didik. Komaruddin mengakui pelaksanaan sejumlah langkah itu tidak mudah bila jumlah guru tidak sebanding jumlah peserta didik.
Selain itu, dalam upaya pencegahan dan penanggulangan perundungan di lingkungan sekolah, komunikasi sekolah dan orang tua harus dibangun agar terjalin erat.
Kepala SMA Pangudi Luhur 1 Jakarta, Agustinus Mulyono, mengungkapkan dalam upaya pencegahan perundungan di era digital ini pendampingan anak didik perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman. Sehingga, dalam proses mendampingi peserta didik, para guru juga harus terus belajar.
Di lingkungan SMA Pangudi Luhur, diterapkan hari bebas dari gawai pada hari Rabu. Kebijakan itu ditujukan agar terbangun interaksi sosial antara peserta didik dan guru.
Dia mengatakan anak yang melakukan kekerasan terhadap orang lain tidak tiba-tiba terjadi begitu saja. Sehingga, pihak sekolah harus menjalin komunikasi kuat dengan orang tua dan para mitra.
Menurut Agustinus, dalam proses belajar mengajar tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik peserta didik. Lebih penting dari itu, terbangun karakter yang baik dari peserta didik.
"Bila karakter siswa sudah baik, capaian akademiknya lebih mudah terwujud," ujar Agustinus.
Dosen Psikologi Universitas Tarumanagara, Debora Basaria, mengapresiasi program pemerintah terkait penerapan 7 kebiasaan anak Indonesia hebat, sebagai bagian dari upaya pencegahan perundungan. Di tengah berbagai ancaman perundungan yang dihadapi peserta didik saat ini, program tersebut perlu mendapat perhatian dari semua lapisan masyarakat, karena pelaksanaan program itu tidak bisa dibebankan kepada guru dan orang tua semata.
"Orang tua, guru, peserta didik, masyarakat, dan pemerintah melalui kebijakannya harus membangun sinergi yang kuat untuk mewujudkan 7 kebiasaan baik itu," ujarnya.
Debora berpendapat peran keluarga sangat penting dalam mempersiapkan anak-anak mereka dalam bersikap dan berperilaku di luar rumah, termasuk di sekolah. Berbagai praktik baik dalam upaya pencegahan perundungan di sekolah dapat menginspirasi sejumlah institusi pendidikan lainnya untuk menerapkannya.
Menanggapi maraknya kasus perundungan saat ini, Wartawan senior Saur Hutabarat berpendapat, urusan yang paling serius saat ini adalah harus ada ruang bagi anak untuk menjadi diri sendiri di rumah.
"Saya kira menemukan diri bagi anak adalah persoalan yang serius dan harus diberi tempat yang serius juga," ujar Saur.
Menurut Saur, salah satu yang langka di Indonesia adalah jarang memberi kemewahan kepada anak untuk bebas menemukan dirinya, yang merupakan faktor penting dalam berinteraksi dengan orang lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News