Presiden RI Prabowo Subianto. Foto: YouTube Sekretariat Presiden
Presiden RI Prabowo Subianto. Foto: YouTube Sekretariat Presiden

KSTI 2026

Soal Ketergantungan Impor, Prabowo Lempar Pertanyaan Menohok untuk Guru Besar

Ilham Pratama Putra • 26 Juni 2026 17:48
Ringkasnya gini..
  • Prabowo minta guru besar dan kampus menjawab tantangan kemandirian ekonomi melalui inovasi berbasis sains dan teknologi.
  • Prabowo pertanyakan ketergantungan impor Indonesia, mulai gandum, produktivitas sawit, hingga industri mobil nasional.
  • Presiden dorong akademisi mengabdikan ilmu untuk rakyat dan menghasilkan solusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Jakarta: Presiden Prabowo Subianto menantang para guru besar dan perguruan tinggi untuk menjadi motor utama mewujudkan kemandirian ekonomi Indonesia. Menurutnya, kampus tidak cukup hanya menghasilkan riset akademik, tetapi harus mampu melahirkan inovasi yang menjawab persoalan strategis bangsa, mulai dari ketahanan pangan hingga industri nasional.
 
"Para guru besar adalah orang-orang terpintar yang dimiliki bangsa Indonesia. Kalau negara mau bangkit, negara mau maju, memang harus dimanfaatkan dan digerakkan potensi serta kemampuan kampus-kampus," kata Prabowo dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta, Jumat 26 Juni 2026.
 
Di hadapan ratusan rektor dan guru besar dari berbagai perguruan tinggi pada acara KSTI ini Prabowo menyebut kalangan akademisi merupakan sumber daya intelektual terbaik yang dimiliki Indonesia. Karena itu, kemajuan bangsa sangat bergantung pada kemampuan kampus menghasilkan terobosan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
 
Baca juga: Dapat Tambahan Anggaran jadi Rp 82 Triliun, Ini Prioritas Kemendiktisaintek pada 2027  

Ia menilai seluruh lompatan peradaban manusia selalu lahir dari perkembangan sains dan teknologi. Karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam membantu pemerintah mencari solusi atas berbagai persoalan nasional.

"Tugas saya menghadapi kesulitan bangsa dan mencari solusinya. Karena itu saya sangat sadar pentingnya peran para ilmuwan dan guru besar," ujarnya.
 
Prabowo kemudian mengungkapkan sejumlah pertanyaan yang selama ini terus ia ajukan kepada para akademisi. Ia mempertanyakan mengapa Indonesia masih bergantung pada impor komoditas strategis dan belum mampu menghasilkan berbagai produk unggulan secara mandiri.
 
"Saya datang ke kampus, saya tanya profesor-profesor, kenapa kita tidak bisa punya benih gandum? Kenapa kita harus impor gandum?" katanya.
 
Pertanyaan serupa juga ia lontarkan terkait produktivitas perkebunan sawit Indonesia. Menurutnya produktivitas sawit Indonesia masih tertinggal dibanding Malaysia.
 
"Kenapa kelapa sawit per hektare di Malaysia produktivitasnya lebih tinggi dari kita? Kenapa?" ujarnya.
 
Tak hanya sektor pangan, Prabowo juga menyoroti industri otomotif nasional. Menurutnya, sebagai negara besar dengan pasar kendaraan yang sangat besar, Indonesia seharusnya sudah mampu memproduksi mobil nasional hasil karya anak bangsa.
 
"Kenapa Indonesia setelah 81 tahun tidak bisa bikin mobil buatan sendiri? Kita beli jutaan motor setiap tahun, kenapa tidak ada pabrik buatan Indonesia?" ucapnya.
 
Baca juga: Peluang Jadi Doktor Muda! Beasiswa PMDSU 2026 Dibuka, Cek Fasilitas, dan Cara Daftarnya  

Meski demikian, Prabowo mengapresiasi perkembangan industri otomotif nasional yang mulai menunjukkan kemajuan. Ia mengaku bangga dapat menggunakan mobil yang didesain dan diproduksi di Indonesia meski tingkat komponen dalam negerinya belum mencapai 100 persen.
 
"Saya punya kepuasan yang mendalam. Waktu saya dilantik, saya bisa naik mobil buatan Indonesia, desain Indonesia, dibuat di Indonesia. Memang belum 100 persen, tetapi kalau sudah 65 sampai 70 persen, itu sudah layak kita banggakan sebagai produk Indonesia," katanya.
 
Menurut Prabowo, keberhasilan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan kualitas manusia yang mengoperasikannya. Karena itu, pembangunan sumber daya manusia melalui perguruan tinggi menjadi faktor yang tidak dapat ditawar.
 
"It is not the technology, it is not the equipment. It is the men and the women behind the equipment," tutur Prabowo.
 
Ia pun mengajak kalangan akademisi untuk mengabdikan seluruh kemampuan dan kepakaran bagi kepentingan masyarakat. Terutama dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.
 
"Bukankah segala kepintaran kita harus kita abdikan untuk rakyat kita?" tutup Prabowo.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA