Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji menyebut MBG sangat erat pengaruhnya terhadap dunia pendidikan. Dia memaknai keberhasilan MBG itu dengan kacamata berbeda.
“Iya, memang berhasil, tapi berhasil merusak pendidikan. Merusak arah kebijakan, merusak prioritas anggaran pendidikan, dan merusak masa depan anak-anak,” kata Ubaid dalam keterangan tertulis dikutip Jumat, 9 Januari 2026.
Ubaid mengatakan dampak negatif itu bukan karena niat memberi makan yang keliru tetapi karena MBG dijalankan dengan cara memangsa anggaran pendidikan. Seperti mengorbankan mutu sekolah, merendahkan profesi guru, dan mengabaikan perintah Mahkamah Konstitusi (MK) tentang sekolah tanpa pungutan.
Bahkan, MBG turut dibiayai anggaran pendidikan. Sehingga, anggaran pendidikan yang memiliki fungsi pendidikan teralihkan pada program MBG.
"Tahun 2026 ini, MBG akan dibiayai Rp1,2 triliun per hari. Ironisnya, 69 persen dana hasil jarah anggaran pendidikan," ujar Ubaid.
Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menyebut program MBG terus diperkuat dari sisi kualitas, keamanan pangan, dan cakupan penerima manfaat.
Pada awal 2026, jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang aktif mencapai 19.188 unit dengan 55,1 juta penerima manfaat. Angka tersebut meningkat signifikan ketimbang Januari 2025.
“Alhamdulillah program Makan Bergizi sudah berlangsung satu tahun penuh, di akhir tanggal 31 Desember 2025 jumlah SPPG telah bertambah menjadi 19.188 dengan jumlah penerima manfaat 55,1 juta," kata Dadan Hindayana di Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.
Dadan mengakui masih ada kejadian selama pelaksanaan 2025, namun trennya menurun tajam menjelang akhir tahun. Evaluasi terus dilakukan untuk meningkatkan mutu layanan.
“Selama Desember 2025 kejadiannya menurun drastis dan kami targetkan sesuai instruksi Pak Presiden (Prabowo Subianto) untuk terus memperbaiki kualitas agar terjadi zero defect (tanpa cacat) di tahun 2026," kata Dadan.
MBG juga disebut memberi dampak ekonomi besar karena sebagian besar pembangunan dan operasional SPPG didukung masyarakat dan mitra. Rantai pasok melibatkan petani, peternak, nelayan, hingga tenaga kerja lokal.
BGN memastikan kritik dan masukan publik menjadi bagian penting dari perbaikan program. Pada 2026, fokus utama diarahkan pada peningkatan kualitas layanan sekaligus perluasan manfaat bagi ibu hamil, balita, dan anak sekolah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News