Mendes-PDT Yandri Susanto. Foto: Youtube Q&A Metro TV
Mendes-PDT Yandri Susanto. Foto: Youtube Q&A Metro TV

Dulu Sekolah Tak Punya Sepatu dan Jadi Marbot, Ini Kisah Haru Menteri Desa Yandri Susanto

Ilham Pratama Putra • 18 Mei 2026 12:11
Ringkasnya gini..
  • Menteri Desa Yandri Susanto menangis saat mengenang perjuangan hidupnya sebagai anak petani miskin di desa terpencil di Bengkulu Selatan.
  • Saat kecil, Yandri mengaku sekolah tanpa sepatu, berjalan kaki jauh, hingga membantu ibunya bekerja di kebun dan sawah.
  • Meski hidup penuh keterbatasan, Yandri tidak pernah patah semangat dan percaya pendidikan bisa mengubah masa depan.
Jakarta: Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, hidup serba kekurangan sewaktu kecil. Datang dari keluarga petani membuat Yandri berjuang sekuat tenaga mengubah hidup keluarganya.
 
Kehidupan masa kecil Yandri terungkap saat diperlihatkan foto ibu dan keluarganya dalam acara Q&A Metro TV.  Ia mengaku selalu terharu setiap mengingat perjuangan sang ibu yang bekerja sebagai petani di desa terpencil di Bengkulu Selatan.
 
“Saya kalau lihat ini, saya mau nangis sebenarnya. Saya ini lahir dari desa tertinggal. Jadi emak saya petani, kerjanya nanam padi dan kopi,” kenang Yandri sambil berurai air mata pada tayangan Q&A Metro TV dikutip Senin, 18 Mei 2026.

Yandri lahir di Desa Palak Siring, Kecamatan Kedurang, Bengkulu Selatan, pada 1974. Saat itu, desanya masih sangat tertinggal tanpa listrik, jalan aspal, maupun jembatan.
 
“Di rumah emak saya tidak ada kamar mandi, tidak ada kompor untuk masak karena harus pakai kayu bakar. Saya menganggap emak saya itu pahlawan besar,” kata dia.
 
Sejak kecil, Yandri sudah terbiasa berjuang. Bahkan, saat menempuh pendidikan di sekolah dasar, ia tidak memiliki sepatu. 
 
"Saya sekolah SD bukan enggak mau pakai sepatu, tapi emang enggak punya sepatu," cerita dia.
 
Sepulang sekolah, ia mengaku membantu ibunya bekerja di kebun kopi maupun sawah. Yandri juga membantu orang tuanya mengerjakan pekerjaan rumah. 
 
“Saya pulang sekolah kalau tidak masak, ya membantu emak di kebun kopi, merumput, atau gotong kayu bakar. Kalau musim sawah, saya ikut bersihkan rumput dan nanam padi,” tutur dia.
 
 
Baca juga: Kemendikdasmen dan Kemendes PDT Targetkan Program Satu Desa Satu TK

Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, Yandri juga kerap mencari sayur pakis di pinggir sungai. Meski hidup dalam keterbatasan, ia mengaku tidak pernah patah semangat.
 
Saat SMP, Yandri harus berjalan kaki sejauh tujuh kilometer menuju sekolah. Ia juga harus menyeberangi sungai besar tanpa jembatan.
 
“Kami menyeberang sungai pakai kain basahan dulu. Sampai seberang baru saya pakai celana sekolah. Kalau hujan ya kehujanan karena tidak punya payung,” kenang dia.
 
Saat SMA , dia harus tinggal berpindah-pindah demi melanjutkan pendidikan. Tahun pertama SMA, ia tinggal di gubuk milik seorang kerabatnya di tengah kebun meski tanpa listrik maupun fasilitas memadai.
 
“Saya mandi di pinggir hutan. Pulang sekolah saya cuci mobil orang untuk tambahan biaya,” kata dia.
 
Setelah itu, ia menumpang tinggal di rumah temannya dengan kondisi rumah sederhana berlantai tanah. Pada tahun terakhir SMA, Yandri menjadi marbot masjid dan tidur di area bawah ruang imam.
 
“Tapi sekali lagi, saya tidak pernah minder dan tidak pernah patah semangat. Walaupun saya anak petani dari kampung, teman-teman saya banyak anak pejabat dan orang kaya. Menurut saya itu orang tuanya, bukan dianya,” ucap dia.
 
Yandri menekankan latar belakang keluarga bukan penghalang untuk mengubah masa depan. Ia mengingat pesan orang tuanya bahwa pendidikan adalah cara mengubah masa depan. 
 
“Saya mungkin anak petani, emak saya petani. Tapi saya yakin bisa berubah. Bapak tuh, Bapak saya selalu bilang saya harus sekolah, semiskin apa pun, dan itu yang saya lakukan,” tutur dia.
 
Baca juga: SMAN 1 Pontianak Tolak Pelaksanaan Ulang Lomba Cerdas Cermat MPR RI

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA