Rektor IPB, Arif Satria saat menjadi narasumber di OPSI Metro TV. Foto/Dok. Metro TV.
Rektor IPB, Arif Satria saat menjadi narasumber di OPSI Metro TV. Foto/Dok. Metro TV.

Rektor IPB Meragukan Daya Adaptasi Rektor Asing

Pendidikan Pendidikan Tinggi Rektor Asing
Intan Yunelia • 06 Agustus 2019 15:15
Jakarta: Wacana merekrut rektor asing ke perguruan tinggi di Indonesia harus dipertimbangkan matang oleh pemerintah. Kultur dan ekosistem dunia akademik di Indonesia yang berbeda dinilai akan menyulitkan rektor asing untuk cepat beradaptasi saat ditempatkan di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
 
“Perbedaan ekosistem itulah yang membuat negara maju dan kita berbeda. Negara maju pakai Search Comittee di kita proses politik dari bawah,” kata Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria di acara OPSI Metro TV, Senin malam, 5 Agustus 2019.
 
Indonesia semestinya perlu mencontoh negara-negara lain dalam memperkerjakan tenaga akademik asing. SDM asing di lingkungan akademik menempati jabatan-jabatan teknis. Sementara pucuk pimpinan seperti rektor tetap dijabat SDM lokal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Negara seperti Thailand, Tiongkok, dan Korea Selatan itu mereka tidak mengundang rektor asing, tapi menggundang top scientist untuk menjadi research director center,menjadi dekan dan seseorang yang memang di bawah rektor. Karena memahami betul ekosistem di Asia, negara di China dan Korea yang agak berbeda. Saya kira bagian dari memahami ekosistem itu,” ujar Arif.
 
Ditambah lagi, menurut Arief, tidak mudah bagi rektor asing untuk beradaptasi. Khususnya di perguruan tinggi yang sudah memiliki reputasi dengan ciri khas kultur budayanya. Rektor asing sulit membangun kultur baru yang sudah turun temurun di kampus tersebut.
 
Baca:UNY: Kehadiran Rektor Asing Belum Mendesak
 
“Kalau seperti sekarang ini dicemplungin ke perguruan tinggi, yang ada mereka akan muntah-muntah melihat kondisi yang ada. Kasihan enggak kuat. Justru kasihan merekanya,” terang Arif.
 
Semestinya, rektor asing tersebut diberikan lingkungan kampus yang benar-benar baru. Kemungkinan besar untuk membuat kampus tersebut kompeten, sesuai dengan apa yang diinginkan rektor asing tersebut pun dapat segera terealisasi.
 
“Ada lagi Hongkong yang ada sebuah perguruan tinggi yang baru berdiri dan vice rektornya diambil dari California langsung masuk 10 besar Asia dalam waktu 10 tahun,” pungkasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif