"Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada tim media kementerian atas capaian dan prestasinya yang diakui oleh Google dan masyarakat," tutur Mu'ti di Jakarta, Rabu, 7 Mei 2025.
Mu'ti menyampaikan apresiasi kepada Google yang telah membantu dalam penyampaian informasi kebijakan pendidikan kepada masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah dan penyedia platform digital, menurut Menteri Mu’ti, merupakan langkah nyata menuju terwujudnya pendidikan bermutu untuk semua.
Ia berharap sinergi ini terus diperkuat demi memperluas akses pendidikan yang adil dan inklusif di seluruh Indonesia.
Teknologi Jadi Solusi Pemerataan Pendidikan
Mendikdasmen menegaskan pentingnya peran teknologi dalam menjawab tantangan pemerataan pendidikan di Indonesia. Ia menyoroti bagaimana kondisi geografis Indonesia yang beragam menjadi tantangan tersendiri bagi pemerataan layanan pendidikan.Namun, ia optimistis teknologi dapat menjadi solusi untuk menjembatani kesenjangan tersebut. "Teknologi merupakan sarana yang memungkinkan mereka untuk dapat belajar di manapun mereka berada, kapan pun, sesuai dengan apa yang menjadi keadaan mereka. Inilah yang saya kira menjadi bagian penting bagaimana teknologi enable us to reach the outreach, untuk menjangkau mereka yang tidak terjangkau," ungkap Mu’ti.
Terkait konten digital, Mendikdasmen mengingatkan pentingnya etika dan tanggung jawab dalam menyebarkan informasi di dunia maya. Ia menyoroti fenomena “viralitas” konten yang tak selalu sejalan dengan kualitas.
"Kita tidak bisa menutup mata adanya sebagian kecil konten kreator yang membuat konten hanya untuk sekadar mencari sensasi. Yang penting viral, mau bermutu atau tidak, yang penting viral," katanya.
| Baca juga: AI dan Coding Masuk Kurikulum Tahun Ini, Guru Wajib Dampingi Siswa |
Mu'ti mengakui bahwa teknologi memberi banyak kemudahan, namun tidak lepas dari potensi risiko. “Kelemahannya karena dia bisa diakses dengan mudah dan bisa cepat, maka kelemahannya ada dua. Pertama, bisa jadi informasi yang diperoleh itu belum tentu informasi yang benar. Kedua, penggunaan AI dan gawai ini tetap harus disinkronkan dengan dorongan untuk membaca dan aktivitas pembelajaran lainnya," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News