SNMPTN 2018 tak Pertimbangkan Nilai UN dan USBN
Sejumlah peserta lulus seleksi SNMPTN di Aceh, 16 Mei 2017, Ant - Amplsa
Jakarta: Sejumlah perguruan tinggi akan menggelar Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN) 2018. Namun menurut Ketua Panitia SNMPTN Ravik Karsidi, seleksi penerimaan mahasiswa baru itu tak mempertimbangkan nilai Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN).

Dalam keterangan persnya di Jakarta, beberapa waktu lalu, Ravik mengatakan penerimaan mahasiswa baru di PTN dilakukan melalui tiga cara. Yaitu SNMPTN, Ujian Tulis Berbasis Cetak (UTBC) dan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), serta ujian mandiri. Ujian mandiri digelar masing-masing kampus.


Di tahun sebelumnya, ujar Ravik, UTBC dan UTBK dikenal dengan nama Seleksi Bersama Masuk
Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Namun pada 2018, penerimaan mahasiswa baru disebut SNMPTN. Nilai yang digunakan yaitu rapor semester satu hingga lima.

"Jadi penilaiannya tidak sampai siswa lulus UN dan USBN," kata Rektor Universitas Negeri Surakarta.

Tapi bila siswa lulus SNMPTN namun tak lulus sekolah, maka kelulusannya dibatalkan. Jadwal SNMPTN dimulai dari pengisian Untuk jadwal SNMPTN dimulai dari pengisian di Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) pada 13 Januari hingga 10 Februari. Kemudian pendaftaran dimulai 21 Februari hingga 6 Maret dan pengumuman 17 April.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan proses seleksi melalui pusat tes. Nasir mengatakan seleksi dilakukan dengan tes tertulis dan soalnya berisiko tinggi. 

"Begitu juga yang diujikan belum tentu pas. Padahal yang kita lihat adalah potensi dan kemampuan anak itu melalui pusat tes," ujar Nasir.

Nasir mengatakan seleksi bertujuan melihat potensi anak. Sebab lingkungan sekolah berbeda-beda sebab fasilitas terbatas. 

"Kemudian ada anak SMA lain fasilitasnya lengkap tersedia semuanya. Ini kan nanti hasil SBMPTN-nya akan beda," ujar Nasir.

Padahal, kemampuan akademiknya sangat mungkin sama. Karena itu, melalui pusat tes itu, pihaknya mencoba sistem tes seleksinya tidak seperti itu lagi.

"Contoh dulu ada tes potensi kemampuan akademik, kemampuan logikanya seperti apa, kami maunya seperti itu. Kalau sekarang kan SBMPTN tes Matematika, Biologi, dan lain-lain. Ke depannya melalui pusat tes, bisa dimanfaatkan untuk seleksi lain juga," ujarnya lagi.

Ke depan, lanjut dia, akan ada tes sesuai minat dan dibuka sepanjang tahun. Hal itu memungkinkan penyelenggaraan SBMPTN lebih dari satu kali dalam satu tahun.

Ravik mendukung pusat tes untuk SNMPTN. Menurut Ravik, pusat tes dapat menjangkau lebih banyak siswa.

"Kami targetkan bisa menjangkau 200.000 siswa," kata Ravik.

Pelaksanaannya, lanjut Ravik, bisa dimulai pada siswa yang berada di semester V kelas XII SMA. Tapi, ungkap Ravik, proses itu dimulai pada 2019.

"Jadi prinsipnya beri kemudahan semudahnya kepada masyarakat untuk mengikuti tes seleksi mahasiswa baru," ujar Ravik.



(RRN)