Menristekdikti, Mohamad Nasir, Medcom.id/Intan Yunelia.
Menristekdikti, Mohamad Nasir, Medcom.id/Intan Yunelia.

Nasir: Mahasiswa Masuk ke Taiwan Tidak Melalui Kemenristekdikti

Pendidikan Pendidikan Tinggi Mahasiswa di Taiwan
Budi Arista Romadhoni • 03 Januari 2019 12:20
Semarang:Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menegaskan keberangkatan ratusan mahasiswa Indonesia yang diduga menjadi korban kerja paksa di Taiwan, tidak melalui program kemenristekdikti.
 
Menristekdikti, Mohamad Nasir mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan terkait kasus ratusan mahasiswa yang disebut menjadi korban kerja paksa di Taiwan."Informasi yang kami dapatkan karena masuk ke Taiwan tidak melalui lembaga pendidikan tinggi atau tidak melalui Kemenristekdikti, menjalankan sendiri, sehingga tidak terkontrol," kata Nasir di Semarang, Rabu, 2 Januari 2019.
 
Menurutnya, jika melalui program Taipei Economic and Trade Office (TETO), peristiwa tersebut harusnya akan terpantau Menristekdikti."Maka, kalau itu dilakukan kerja paksa kami tidak bisa mengendalikan. Yang melalui Kemenristekdikti selalu saya dampingi, melalui TETO namanya," terangnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski demikian, Nasir menegaskan pihaknya akan tetap melakukan pengecekan, dan rencananya akan menghubungi pihak TETO untuk memastikan keberadaan ratusan mahasiswa asal Indonesia yang dipekerjakan di luar ketentuan tersebut.
 
Baca:Agen Pendidikan Tak Kredibel Perkeruh "Kuliah-Magang" di Taiwan
 
Ia mengungkapkan, kerja sama di bidang ekonomi yaitu TETO salah satunya memang membidangi pendidikan, dan tahun ini Kemenristekdikti akan mengirimkan 320 mahasiswa ke Taiwan.
 
"Katanya kuliah sehari dua hari, lainnya kerja, itu informasi belum sampai kepada saya, karena mereka tidak melalui Kemenristekdikti. Tetap akan kami cek, setelah ini kami akan koordinasi dengan TETO Taiwan di Jakarta," tegasnya.
 
Perlu diketahui, media lokal Taiwan News memberitakan terdapat enam perguruan tinggi yang kedapatan memperkerjakan mahasiswa asing dari negara-negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia di pabrik-pabrik.
 
Baca:Ratusan Mahasiswa Indonesia jadi Korban Kerja Paksa di Taiwan
 
Kemudian dikabarkan sekitar 300 mahasiswa asal Indonesia berusia di bawah 20 tahun yang berkuliah dipaksa bekerja pada hari Minggu hingga Rabu, dari jam 07.30 hingga 19.30 dengan waktu istirahat dua jam.
 
Hal itu terungkap dari penyelidikan yang dilakukan oleh anggota parlemen Taiwan, Ko Chieh En. Para Mahasiwa itu ditugasi mengepak 30.000 lensa kontak sambil berdiri setiap hari.
 
Tak hanya itu, menurut Ko, mahasiswa RI yang mayoritas muslim tersebut terpaksa makan yang mengandung potongan babi. Berdasarkan pernyataan pihak sekolah yang dikutip Taiwan News, jika para mahasiswa tak mau bekerja, pihak perusahaan akan memutus kerja sama dengan pihak kampus.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif