Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Ismunandar, Medcom.id/Citra Larasati.
Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Ismunandar, Medcom.id/Citra Larasati.

Ratusan Mahasiswa Indonesia jadi Korban Kerja Paksa di Taiwan

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Intan Yunelia • 31 Desember 2018 17:14
Jakarta: Sejumlahmahasiswa asal Indonesia yang kuliah di Taiwan diketahui mendapatkan perlakuan kerja paksa di pabrik-pabrik setempat. Mahasiswa dijebak dengan iming-iming mendapatkan beasiswa.
 
Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Ismunandar saat dikonfirmasi membenarkan adanya kabar tentang ratusan mahasiswa Indonesia yang dipaksa bekerja di sejumlah pabrik di Taiwan. Laporan tersebut diterima langsung dari Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, Taiwan.
 
"Kami memang sudah menerima laporan dari KDEI di Taipei tentang hal ini,"kata Ismunandar kepadaMedcom.id, Senin 31 Desember 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


KDEI memperkirakan, jumlah mahasiswa Indonesia yang kuliah di Taiwan mencapai 1.000-an mahasiswa, namun hanya sekitar tiga ratusan di antaranya saja yang terjebak dan menjadi korban kerja paksa. Disinyalir berbagai pihak yang melakukan rekruitmen mulai dari yayasan, lembaga pendidikan, sampai individu.
 
Berawal dari tawaran skema beasiswa melalui program New Southbound Policy, yakni kebijakan pemerintah Taiwan untuk kerja sama dan pertukaran pelajar dengan negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.Mahasiswa tersebut, kata Ismunandar, dijebak oleh oknum pelaksana program tersebut dengan iming-iming akan mendapatkan beasiswa kuliah di Taiwan.
 
Para mahasiswa yang mayoritas perempuan ini mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, seperti dipaksa bekerja 10 jam dalam sehari dan bayaran yang murah. Padahal, pemerintah Taiwan memiliki aturan bahwa mahasiswa yang kuliah di tahun pertama tidak mendapat izin bekerja.
 
Izin bekerja didapatkan setelah melalui tahun pertama, itu pun tidak lebih dari 20 jam per minggu. Dalam sebuah laporan jurnalistik di salah satu media di Taiwan mengatakan, setidaknya ada enam perguruan tinggi yang bekerja sama dengan agen penyalur tenaga kerja.
 
Perguruan tinggi tersebut mengirimkan mahasiswanya untuk menjadi tenaga kerja murah di pabrik-pabrik tersebut. Salah satu perguruan tinggi mempekerjakan mahasiswanya di sebuah pabrik contact lens, di mana mahasiswa tersebut dipaksa berdiri selama 10 jam untuk mengemas 30 ribu contact lens setiap harinya.
 
Sementara jadwal perkuliahan yang dijalani mahasiswa tersebut hanya dua hari dalam satu pekan, sisanya mereka harus bekerja di pabrik-pabrik tersebut.
 
Guru Besar Termuda Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengatakan, Kemenristekdikti dan Kantor Perdagangan dan Ekonomi Taiwan kemudian menindaklanjuti program tersebut (New Southbound Policy) dengan MoU (Nota Kesepahaman) pendidikan tinggi di bidang vokasional dan teknologi pada November 2018 lalu.
 
MoU ini salah satu tujuannya untuk payung hukum program kuliah dan magang yang berada di bawah kewenangan Kemenristekdikti tersebut. "Dengan MoU itu kita melembagakan pengelolaan program kuliah-magang tingkat S1 di Taiwan," paparnya.
 
Baca:Alasan Pentingnya Mengikuti Program Beasiswa Kuliah
 
Pihak dari KDEI Taipe pun juga sedang menyelidiki lebih dalam tentang permasalahan ini. Mereka menemukan para pelajar tersebut terjebak dengan skema sekolah berbasiswa namun berakhir menjadi pekerja ilegal.
 
"Kita berharap pihak Taiwan juga akan menertibkannya," tutur Ismunandar.
 
Saat ini, Kemenristekdikti akan terus berkoordinasi dengan KDEI di Taipe dan Direktorat Perlindungan kepada Warga Negara Indonesia di Luar Negeri Kementerian Luar Negeri untuk melindungi pelajar Indonesia di Taipe.
 
"Kita mulai juga menginventarisasi agen-agen yang mengirimkan pelajar tersebut. Semoga masalah ini segera bisa teratasi dan ke depan lebih tertata baik," pungkasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif