Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Perbedaan Assistant, Associate, dan Adjunct Professor di Perguruan Tinggi

Pendidikan Pendidikan Tinggi Publikasi Ilmiah Guru Besar
Ilham Pratama Putra • 04 November 2020 17:46
Jakarta: Universitas Indonesia (UI) baru-baru ini memiliki adjunct professor atau guru besar dari mitra luar negeri.  Dalam dunia pendidikan tinggi, dikenal juga beberapa istilah jabatan lainnya seperti Assisten Profesor dan Associate profesor yang perlu kita ketahui.
 
Untuk adjunct professor memang diberikan bagi guru besar dari luar negeri yang berkiprah di Indonesia.  Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Indonesia (MRPTNI), Jamal Wiwoho mengatakan setiap Perguruan Tinggi Negeri Bebadan Hukum (PTN-BH) diperbolehkan memiliki adjunct professor.
 
Status mereka sama saja dengan guru besar di PTN. "Boleh itu dibayarin PTN-BH karena PTN-BH ada otonomi dalam pengelolaan Sumber Daya Manusia," ujar Jamal kepada Medcom.id, Rabu 4 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di Indonesia sendiri kata dia, tidak ada istilah khusus lainnya. Secara normatif jabatan fungsional di perguruan tinggi hanya dikenal Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala dan Guru Besar.
 
Istilah lainnya seperti Adjunct Professor, Assisten Professor dan Associate professor biasanya adalah istilah yang digunakan di luar negeri. Sementara di PTN Indonesia sendiri sudah memiliki standarisasi untuk penyebutan jabatan tersebut.
 
"Jadi Lektor kepala, itu sama halnya di bebetapa tempat namanya Associate Profesor. Ada yang menggunakan lektor itu Assisten Professor, sama itu yang Adjunct Professor ya guru besar. Jadi hanya pergantian istilah," terang Jamal.
 
Baca juga:  Guru Besar Australia, Korea, dan Brazil Jadi 'Adjunct Professor' di UI
 
Begitu pula denga syarat yang diberikan untuk mencapai jabatan tertentu tersebut. Mereka semua harus melakukan publikasi, menyebarkan gagasan, menyampaikan pendapat, membuat buku, menerbitkan jurnal.
 
Begitu pula dengan pemberian gajinya. Seluruhnya disesuaikan dengan jabatan fungsional yang dimiliki para pengajar tersebut.
 
"Kalau Guru Besar itu dapat tunjungan sertifikasi dosen dan tunjangan kehormatan guru besar.  Kalau dosen, baik dia asisten ahli, lektor atau lektor kepala dapat tunjangan sertifikasi dosen saja," tutup Jamal.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif