Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Susana Yembise, Medcom.id/Intan Yunelia.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Susana Yembise, Medcom.id/Intan Yunelia.

94 Persen Anak Menikah Dini Alami Putus Sekolah

Pendidikan Pernikahan Dini
Intan Yunelia • 06 Agustus 2018 16:32
Jakarta: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), seebanyak 94,72 persen anak menikah dini mengalami putus sekolah. Anak yang melakukan pernikahan dini pun menyumbang menyumbangkan angka partisipasi pendidikan yang rendah.
 
"Sebesar 94,72 persen perempuan usia 20-24 tahun berstatus pernah kawin di bawah saat usia di bawah 18 tahun dan tidak bersekolah lagi. Sementara yang melanjutkan sekolah hanya berkisar 5,28 persen," kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Susana Yembise saat memberikan pidato di Diskusi Media Tentang Perkawinan Usia Anak, di Hotel Millenium, Jakarta Pusat, Senin, 6 Agustus 2018.
 
Anak yang melakukan pernikahan dini pun menyumbang menyumbangkan angka partisipasi pendidikan yang rendah. Perempuan yang menikah di bawah 18 tahun hanya 11,54 persen lulus jenjang SMA. Sementara, di atas 18 tahun 45,89 persen lulus SMA.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Padahal selain bisa menjadi tangga bagi mereka untuk mengubah status sosial mereka, pendidikan merupakan hal terpenting untuk membentuk kepribadian, mendapatkan pengalaman, dan membentuk generasi bangsa yang cemerlang,"ucap Yohana.
 
Baca: Pindah Kampus, dan Jadi Guru Les untuk Biayai Hidup
 
Di satu sisi Yohana juga menyayangkan, karena UU Perkawinan nomor 1 tahun 1974 saat ini melegitimasi perkawinan anak dengan batasan minimal usia 16 tahun. Seharusnya, dalam UU Perlindungan anak batasan minimal 18 tahun.
 
"Sebaiknya batas minimal perkawinan dinaikkan terutama bagi perempuan karena usia 16 tahun masih tergolong usia anak atau belum dewasa," kata Yohana.
 
Kementerian PPPA juga kerap aktif melakukan kampanye "Stop Perkawinan Anak" yang dilakukan di tujuh provinsi sejak 2016. Serta Kementerian PPPA juga ada 'Forum Pencegahan Perkawinan Anak', yang ditujukan kepada tokoh agama dan guru di 16 provinsi.
 
Yohana menambahkan secara psikologis dan psikis, usia anak belum siap menghadapi perkawinan.
 
"Anak-anak memang belum saatnya merasakan sebuah ikatan sakral, merasakan tanggung jawab besar dan status sosial yang dibarengi dengan kesiapan mental, menteri dan spiritual matang untuk mempertahankannya," pungkasnya.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif