"Tingkat ketidakhadiran guru di sekolah di Indonesia sebesar 10 persen, ini masih tinggi. Setiap dari 10 guru, ada satu guru yang tak hadir," kata Satriwan kepada Medcom.id, Senin, 6 April 2020.
Satriwan menuturkan, salah satu alasan ketidakhadiran guru di kelas yakni akibat belum memadainya infrastruktur. Selain itu, ada pula faktor-faktor normatif lainnya.
"Seperti sakit, dan ya alfa saja. Selebihnya infrastruktur dan sarana pra sarana. Anggap sudah ada jalan tapi enggak ada mobil, ya tidak mendukung mereka untuk sampai ke sekolah juga kan," ujarnya.
Baca: Temuan PISA, 16 Persen Siswa di Indonesia Tinggal Kelas
Menurut Satriwan, ketersediaan infrastruktur juga menjadi penyebab rendahnya tingkat kehadiran siswa di kelas. Persoalan tingkat kehadiran sempat disinggung Presiden Joko Widodo lantaran dianggap menjadi salah satu permasalahan utama pendidikan di Indonesia.
"Infrastruktur ke sekolah belum menunjang, hingga menghalangi mereka. Berarti pembangunan infrastruktur dari Pemerintah Pusat maupun daerah belum terjawab. Itu dunia perbetonan lah," ujarnya.
Satriwan menyebut, masih banyak ditemukan siswa harus melewati jembatan, bahkan berenang menyusuri sungai agar bisa tiba di sekolah. Ironisnya, kata dia, masih ada siswa yang lebih memilih membantu orang tua membajak sawah di sejumlah daerah terpencil.
Selain itu, kata dia, pemetaan ketersediaan sekolah di satu wilayah belum dilakukan secara baik. Hal ini juga berkaitan dengan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2020.
"PPDB melalui zonasi harusnya bisa menghitung perbandingan jumlah sekolah dengan jumlah siswa alih jenjang. Agar siswa tak perlu jauh-jauh berangkat ke sekolah," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News